Festifal film Indonesia di Makassar 1978


8 mei 1978 sebagai awal yang luar biasa untuk perfileman di makassar karena Festifal Film Indonesia atau biasa di sebut dengan FFI di adakan di kota tersebut selama 3 hari, munkin sudah agak beda pada FFI yang saat ini di adakan yang hanya satu malam, yang hanya menentukan kategori dan nominasi lalu menyebut pemenang terlalu simpel bila ingin di bandingkan dengan FFI 1978 saya melihat perfileman sekarang tak bernuansa lagi akibat perfileman hanya di jadikan lahan bisnis dan menentukan pemenang, sedangkan pada tahun-tahun pembentukannya 1955 sampai dengan 1970-an memberikan kesan akan sosialisasi langsung dengan penduduk dengan di adakannya bakti sosial selain itu seminar dan diskusi pun masuk dalam manual acara wajib FFI ssehingga ada pertukaran ide dan gagasan untuk memajukan perfileman indonesia menjadi lebih baik diantara MFI (Masyarakat Perfileman Indonesia) sendiri ini momen yang besaar selain bisa bertukar pengalaman mereka juga di berikan gagasan-gagasan baru MFI yaitu orang yang bergelut dalam semua pembuatan produksi film, entah dia hanya Figuran ataupun lighting semua menjadi satu bagian tak ada pembagian kursi khusus untuk aktor-aktor dan sutradara mereka berbaur dalam memeriahkan FFI tersebut.

Matoanging sendiri menjadi saksi sejarah akan kemeriahan malam akhir dari FFI di Makassar ini,riuh gemiruh penonton dan serambi teriakan-teriakan atas artis idolanya berkumandang di stadion yang kapasitasnya kurang lebih 1000 orang,apalagi tahun tersebut makassar hanya punya satu bioskop dengan kursi bambu dan tak beratap sehingga saat hujan menerpa tanah mereka ada  ditengahnya sambil menonton sehinnga riuh itu muncul saat mereka bertemu langsung dengan aktor-aktor tersebut hanya bermodal Rp.50 mereka berbondong memadati bioskop tersebut bila di bayangkan mungkin layaknya studio21 yang tayangan perdana Film, tapi unik kalau kita tengok dari security FFI sendiri karena hanya beberapa polisi dan tentara yang menjaga dengan penjelasan di atas bagai mana mungkin mereka  tidak fanatik akan aktor-aktor pujaannya yang baru mereka liat langsung tapi akibat ORBA (Orde Baru) yang mendoktrin masyarakat dan otoriternya pemerintah membuat para penontonpun pun tunduk dan takut dengan aparat keamanan.sehingga memberikan makna akan aktifitas perfileman pada zaman tersebut.

Dengan konsep dengan latar lokal yang heroik yang mungkin kita lebih kenal dengan nama latando yang berceritakan  seorang heroik dari tana toraja yang membela rakyat kecil mungkin bisa di bilang hampir sama dengan sang robin hood di inggris, dengan konsep tersebut dan juga beberapa budaya khas Makassar sendiri malam puncak untuk penganugrahaanpun di mulai.dari berbagai sambutan, musikalisasi dan pengumuman pemegang piala citra. walau hanya rahman arge sendiri dari makassar yang mendapat piala tersebut atas katagori aktor harapan, dari sekian banyak aktor sebut saja astrid yang waktu itu di wawancara oleh pedoman rakyat di hotel gren bukan Cuma aktor kita juga punya beberapa film selain Latando seperti embun pagi,senja di pantai losari (naskah oleh Jamal Efendi) dan sanrego  yang mempunyai kualitas yang luar biasa dalam penggarapanya tapi karena faktor juri yang lebih selektif dalam menetukan film-film terbaik anak bangsa film-film ini pun tergeser dari nominasi tersebut, tapi yang menarik menurut saya bukan pada siapa pemegang piala citra dan nominasinya tapi bagaimana MFI di makassar sangat produktif dalam pembuatan film dimulai pada tahun 1972 dengan pegelaran teater yang cukup menjamur di makassar sehingga pegelaran pun ada yang sampai dengan 1 minggu waktu pelaksanaan, antusias masyarakat makassar sendiri terbentuk akibat kurang di wadahinya drama yang hadir di layar kaca TVRI sebagai televisi nasional dan juga hanya kalangan tertentu yang mempunyai TV di rumahnya sehingga ini jadi pendorong besar para intertainer makassar untuk terus berkreatifitas,salah satu tokoh yang juga pendorong kreatifitas ini yaitu guru besar fak.sastra unhas prof matulada yang mendidik mahasisiwanya lewat menonton pada setiap undangan pegelaran teater lokal dan menyimpulkan kurang dan lebih dari pentas tersebut. dari teater-teater tersebut mulailah pula perfileman makassar dari penggarapan yang kecil-kecilan sampai pada yang berkualitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s