Rasisme Warna Kulit


Analisa seorang penulis amatir Bag. I

Beberapa tahun lalu, saat saya masih duduk di bangku Unversitas, saya sangat tertarik dengan salah satu masalah sosial yang diterapkan lewat budaya asing, yang mana melibatkan boneka barbie dengan tampilan fisik yang sempurna ini, sehingga setiap wanita berlomba-lomba untuk memiliki tampilan fisik tersebut dan pada tahun 1960 hal ini membuahkan istilah dengan sebutan “Barbie Sindrom “.

Lalu hari ini lewat seorang keponakan yang menenteng boneka tersebut, saya tersadar dan kembali diingatkan, akan rasisme yang ditransformasi oleh mainan tersebut dari umur belia, sehingga memberikan pelajaran tersendiri di otak sibelia, dalam hati aku hanya berkata “ada saatnya kau akan mengerti akan hal tersebut”.

Kemudian saya berjalan menuju ruang keluarga, dengan duduk bersandarkan tembok saya dan seorang kakak perempuan pun mengamati salah satu stasiun televisi nasional yang sedang melakukan siaran comedy live, yang mana dalam salah satu segmennya memperlihatkan bagaimana rasisme itu bisa bertahan di tanah pertiwi, lewat ejekan warna kulit dan di selingi tawa dari penontonnya di studio, membuat sebagian penikmatnya dari sabang sampaai marauke merasa puas, tanpa sadar mereka terpengaruh  dan menjadikannya bahan komonikasi sehari-hari. Tapi tahukah mereka sebagian penontonya  merasa tidak nyaman dan memberi dampak sikologis yang menjadi bom waktu, dan tahukah entertain itu bahwa kita menjunjung tinggi “Bhineka tunggal ika” karena mempunyai keaneka ragaman ras yang beberapa ras sangat sensitif akan hal tersebut. Entahlah………

Sore pun datang  dan aku berbaring dan kembali menyaksikan salah satu highlight sepak bola, yang lagi-lagi ribut akan isu rasis, mengendu napas panjang (huh…..) aku tak tau mau berkata apa di bagian ini…..

Tapi dari hal-hal tersebut, yang terjadi secara berturut-turut dalam satu hari ini memberikan saya sedikit inspirasi dalam tulisan ini, selain itu juga saya akan mencoba menganalisa akibat diskriminasi di tanah papua yang sudah mendarah daging di sekitar awal tahun70an apakah penyebabnya rasisme warna kulit.

Saya mengawali dengan apa itu rasisme, rasisme adalah istilah yang lahir oleh teori-teori rasis atas gambaran kekejaman Nazi pada Yahudi dan sejarah kelam orang kulit hitam di bawah rezim rasis di Amerika Selatan pada era Jim Crow dan di Afrika Selatan era rezim Apartheid. maka dapat di artikan rasis adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu, atau dengan kata lain suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya.

Rasisme warna kulit atau perbedaan yang di lakoni si kulit hitam dan si kulit putih yang terjadi sudah begitu lama, mempunyai dampak panjang akan perjalanan masyarakat di bumi, dimulai dari akibat kebanggan orang-orang spanyol yang merasa lebih beradab dan mengusir orang Yahudi dan Moor,  lalu dengan negara adi daya seperti Amerika hal ini juga diaplikasikan sebagai penentangan kelompok-kelompok kulit hitam, walau dianggap telah hilang rasisme pada Zaman Marthin Luther King tapi sampai saat ini hal itu telah membekas dan menjadi acuan pada sebagian manusia di muka bumi.

Tapi dari penjelasan yang terlalu umum di atas, saya cuma coba mengambil salah satu perbedaan paling mencolok, yaitu perbedaan warna kulit, yang mana perbedaan ini begitu mendarah daging dari zaman SM sampai sekarang.

Hal ini dapat dilihat dari sebagian penduduk Indonesia yang menggangap orang-orang dibeberapa bagian daerah Indonesia Timur itu berbeda dalam bentuk Fisik (Kulit Hitam dan Rambut Keriting), padahal hal ini bukan masalah dalam mengukur Sifat seseorang, tapi apa mau dikata hal inilah yang selalu menjadi mindset sebagian manusia di Indonesia, kebudayaan ini adalah sebuah kesalahan yang dibawa dari berbagai media, sehingga membuat sebuah reaksi dari sebuah ketakutan akan eksistensi diri.

Masyarakat Yang dibangun Oleh Bhineka Tunggal Ika harusnya lebih cerdas dalam menyikapi hal tersebut dan saling menghargai dan menghormati dalam berbagai perbedaan, tapi apalah mau dikata, hal sebaliknya yang terjadi dan menjadi kebudayaan berbeda atas tekanan sikologis tersebut.

NB : SALING MENGHARGAILAH DAN SALING MENGHORMATI ADALAH KUNCI MENJADI MANUSIA SEUTUHNYA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s