Indepedensi Dunia Kampus dan Gempuran Kampanye Parpol


Sekitar 1 tahun lebih aku pergi dari kampus yang membangun ideologi, mengembangkan gaya berpikir, dan membuat ku menjadi pejuang yang terus menentang penindasan. Walau aku bukanlah seorang aktifis atau idealis, dan hanya masyarakat biasa disebuah negara konyol dengan segala kebobrokannya. Namun aku tetap melawan dan melawan, karena hanya itu yang mampu ku lakukan untuk mendapat hak ku.

Setelah lama bertualang, dan kembali ke Makassar, rasa kerinduan pun muncul untuk bersilaturahmi dengan sahabat-sahabat ku. Terlebih dari itu aku juga ingin sedikit mengenang memory masa kuliah lewat benda mati disekitarnya. Ya aku juga tidak akan lupa pada tumbuhan dan binatang yang juga hidup ditempat itu. Yang mengiringi dialektika yang aku tidak mengerti. Hahahaha……
Sore itu aku pun bergegas, dengan mengunakan angkot khas Makassar yang kami sering sebut pete2. Butuh Rp5.000 untuk tiba disana. Ditemani gerimisnya hujan, aku berjalan sembari menoleh dan menebar senyum serta sapaan, pada setiap teman yang baru melihat ku, dan memanggil nama ku. Aku pun tetap berjalan menuju lokasi pedagang kaki lima sederhana di area kampus, maklum rasa kangen pada para penjual disana, mereka salah satu aspek penting dalam proses menjadi mahasiswa. Mereka sering memberi bantuan pinjaman makanan bila sedang boke, dan mereka juga aku anggap sebagai penasehat akademik yang baik, yang mengarahkan ku untuk segera menyelesaikan studi dan kadang pula mereka menggunakan nada tinggi bila kami tidak masuk disalah satu mata kuliah. Dan yang paling penting, disanalah para sahabat lama pasti berada.
Setiba di tempat itu, aku ternyata masih dikenal baik oleh para pedagang, sukurlah sambil menghela napas. Aku pun menghampiri mereka dan bersalaman, beberapa pertanyan pun dilontarkan (free memory). Seperti yang aku duga, di sanalah para sahabat ku bersantai menikmati tahun-tahun terakhirnya di kampus. Mereka yg sedang asik mengisap rokok dengan dua gelas kopi dihadapanya, langsung menghampiri ku dengan pelukan dan pertanyaan yang sama.
Asik bercerita santai, disertai tawa, membuat ku serasa duduk kembali dibangku kuliah. Disela pembicaraan ku, seorang pegawai kampus yg juga teman baik, ikut menyapa ku. Aku sapa balik dengan canda, “baju partainya luar biasa,” ia pun tersenyum. Lalu dibelakangnya salah satu pedagang tiba dengan baju yang sama, dan tersenyum pada ku. Tidak lama berselang beberapa orang pun mulai berkumpul tidak jauh dari tempat kami berkumpul. Dan berbicara tentang pemilihan kepala daerah. Diantaranya aku melihat beberapa sahabat diskusi ku, aktifis, pemikir hebat, atau aku sering menyebut mereka sebagai sesepuh yang mengerti dan berada pada garis keras perjuangan melawan birokrasi.
Awalnya aku berpikir lebih pada diskusi sederhana, yang kadang sering dilakukan, walau kali ini agak lebih berat dari biasanya. Karena asik bersenda gurau dengan sahabat ku yang lain, aku pun tidak terlalu lama mengamati. Tapi otak ku terus berpikir dan menimbulkan rasa curiga, pertanyaan-pertanyaan yang timbul membuat ku semakin penasaran. Apakah wujud ini yang terjadi pada 65 dan 98 paska kemenangan semu yang dimainkan penguasa. Yang memberikan iming-iming yang susah ditolak mahluk hidup bernama manusia. Sehingga para mahasiswa ikut bermain politik kekuasaan didalam kampus yang seharusnya sebagai tempat independen.
Aku pun semakin sering berandai-andai dan bertanya-tanya. Apakah kesederhanan kehidupan mereka sebagai mahasiswa mulai membosankan atau malah tidak nikmat, atau malah perkembangan tekhnologi dan gaya hidup mulai menjadi hasrat yang berusaha dipenuhi. Atau mungkin pula, mereka putus asa berada dijalan, membuat tulisan perlawanan, dan ingin masuk dalam percaturan politik, yang menjadi aset mereka di masa mendatang untuk melawan dari dalam. Namun entahlah apa yang ada dibenak mereka, aku tidak mau mengacaukan silaturahmi ini, dan itulah tujuan ku datang di tempat ini. Sembari dalam hati aq berbicara, “sahabat dan kawan ku, mari kita rayakan pertemuan ini”.
Selesai perjumpaan itu, aku pun melangkahkan kaki ku pulang, dengan kembali menggunakan angkutan umum. Puas telah bertemu mereka dengan canda dan tawa membuat ku cukup lelah, namun tak terasa disetiap sela tubuh. Setibanya dirumah, aku pun melihat tumpukan buku semasa kuliah, dan aku tidak mengerti hal itu membawa angan ku pada perbedaan suasana yang ku rasakan di kampus, dan coba kurenungi di rumah tanpa kamar. Dan kata “Independensi kampus dan gempuran kampanye menjelang Pemilu,” seakan berputar dikepala ku. Beberapa pemikiran negatif menjadi landasan awal dari kampanye terbuka para akademisi. Awalnya mereka jadi pengerak yang berada didepan, berteriak, melawan, dengan kepalan tangan sebelah kiri yang diacungkan menggapai langit, menunjukan perjuangan kemerdekaan yang ingin diraih secara merata. Apakah hal ini hanya untuk mendapat populeritas yang cukup dikalangan birokrasi atau untuk membuka jaringannya, atau malah mereka mulai mendapat pencerahaan disisi lain didalam proses pergerakan itu. Aku segera abaikan pemikiran itu. Dan terus berkata tidak..tidak…tidak akan semudah itu menurut ku.
Keesokannya aku kembali melihat suasana tersebut, namun kali ini para pengajar ikut duduk diantaranya, mereka yang harusnya independent sebagai akademisi, malah menjadi penggenjot sekaligus tim kampanye. Dengan dikerumuni muridnya, layaknya tai yang dikerumuni lalat mereka asik dengan tawa kebanggan atas pilihanya. Ku coba juga untuk mengamati mahasiswa disekitarnya dengan tipikalnya, ada beberapa faktor membuat mereka merapat, yang coba kusimpulkan lewat obrolan santai ku. Mereka di sana karena ingin belajar,penghargaan terhadap senioritas, hanya mencari kopi dan rokok gratis, atau memang sudah sejalan dengan pemikiran tersebut.
Munculah pemikiran nakal, kalau penghargaan seorang akademisi tidak cukup untuk menopang, namun entahlah, aku tidak mengerti jalan pemikiran mereka. Namun kesimpulan singkat ku, wajah ini tidak semestinya ada di teretorial yang independent. Yang akan merusak sendi-sendi pergerakan murni dan independensi dari suara-suara orasi yang mengatas namakan rakyat. Aku pun teringat perselisihan ku dengan beberapa pengamat dari orang yang berada di pulau yang berbeda, yang selalu menganggap mahasiswa makassar adalah perusak, tidak demokratis dan “anarkis”. Akupun dengan ciri khas ku yang tersenyum santai, mengatakan itu bukan tidak demokratis, namun tataran pemahaman demokrasi kalian dengan mahasiswa makassar berbeda. Kami independen dan tidak takut melawan bila demokrasi hanya dijadikan suara sumbang. Dan hasilnya kesadaran bermasyarakat dan kontrol sosial yang kami berikan dapat membangun makassar lebih baik. Dan silakkan anda buktikan lewat pembangunan dan kesadaran atau ketakutan birokrasi yang selalu menjadi sorotan, dan yang lebih penting dari itu semua adalah kesadaran masyarakat yang terbangun, secara sadar atau tidak, rasa penasaran atas hentakan itu membuat sebagian dari mereka mulai terbangun. Entah lewat orasi politik saat jalan macet, selebaran, atau secara tidak sadar mereka mencari sendiri atas apa pemicunya.
Disisi lain aku melihat hal ini adalah proses politik yang wajar dan tidak bermasalah secara konseptual, sapa saja berhak melakukanya. Namun yang menurut ku tidak tepat, adalah subjek-subjek yang ada didalamnya, yang bergerak terang-terangan dengan background besar yang mereka sadari atau mereka sengaja acuhkan, atau malah yang lebih ekstrim kalau background itu dijadikan jualannya. Hal ini jelas membuat banyak opini yang akan menjadi tumbal dari politik praktis itu sendiri, dikemudian hari.
Kampus bukanlah tempat dimana sayap partai berada, dimana LSM penjilat menancapkan kukunya, dan bukan pula tempat untuk akademisi berliur yang berkampanye terbuka untuk pemerintahan. Ya, ini semua, karena ini teretorial indendent. “Hari ini mungkin tawa kebersamaan itu adalah jawaban keresahan atau menjadi pilihan berdasarkan kepentingan pribadi setiap individu didalamnya, dengan menjual atau masa bodoh dengan backgroundnya. Namun esok para pejuang pergerakan yang murni bergerak karena ketimpangan sosial, yang tidak ingin tahu hari ini, atau disaat generasi baru datang dan tidak mengerti yang terjadi saat ini. Ya mereka, dan merekalah yang akan menjadi tumbal, lewat opini yang akan dijadikan perlawanan dari pergerakan murni dan indendent tersebut,”
Namun lewat tulisan yang berkelas layaknya sugali yang menari dilokasi kelas teri, dengan predeksi sejarah yang amburadul, dari predeksi penulis yang berdisiplin ilmu sejarah. Yang entah rasional atau tidaknya, yang mungkin tidak akan dijawab sang waktu. Dimana nantinya, ada saat para pejuang pergerakan akan dianggap anjing dan alas kaki penguasa. Dimana pergerakan yang ku kenal hanya diopinikan sebagai tunggangan politik. Ketika sang penunggang berkuasa, pergerakan hanya akan diopinikan, sebagai gerakan yang tidak konsiten atau malah lahir dari kekecewaan politik, yang bersumber dari materi, dan jabatan yang tidak sesuai. Atau bila penunggangnya kalah dalam perjudian politik, maka pergerakan hanya jalan untuk menjatuhkan pemerintahan sebagai lawan politik. Dan bila pergerakan itu teredam, sunyi sepi tak berjiwa, bukan karena kejahteraan sudah merata ditataran yang diperjuangkan, namun sejahtera ditataran yang berjuang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s