Saya tidak Cerdas atau Pintar tapi Hanya Ingin Tertawa.


Awal september saya dan seorang teman membangun perencanaan perjalanan menuju Pantai Bira sekaligus melihat kontruksi kapal Pinisi dan perkampungan suku Kajang. Buat saya perjalanan ini sebagai perjalanan hiburan, namun untuk teman saya perjalanan ini juga digunakan untuk mencari inspirasi dalam rangka penyelesaian tesis-nya.

Sore di akhir bulan September, kami memulai perjalanan ini, namun satu jam sebelum memulai perjalanan, kami singgah dirumah beberapa teman di Makassar. Dan mereka secara spontan menyarankan untuk berhenti dan beristirahat di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Kabupaten Bantaeng yang di rintis seorang teman lama, dan sekaligus bertemu kangen dengan mereka.

Hal tersebut saya amini dan saya merasa pertemuan ini akan menjadi hal yang menyenangkan. Kami pun bergegas berangkat setelah pembicaraan singkat tersebut. Tiga jam tujuhbelas menit kami tiba di kantor LSM tersebut. Kami berusaha mengetuk pintu, namun tidak satu pun orang berada didalamnya. Saya pun menghubungi seorang teman yang dulunya satu generasi semasa kuliah. Dia mengangkat telponnya dan meminta saya untuk menunggu beberapa menit disana. Tak lama kemudian dia datang, mengendarai motor matic putih, layaknya kawan lama yang begitu akrab seperti saudara kandung, kami bersalaman dan bercerita tentang beberapa hal yang biasa kami lakukan dengan canda tawa. Saya pun hampir lupa memperkenalakan teman saya padanya.

Kami pun diajak masuk, kami duduk diruang tamu dengan taburan tembakau diatas mejanya, tak perlu lama dengan basa-basi, saya mengeluh mengenai perut yang keroncongan. Dia pun bergegas membelikan makan untuk kami. Tak lama menunggu makanan pun datang, dan kami makan dengan lahapnya. Setelah mencicipi hidangan kami kembali menuju ruang tamu dan menghisap rokok dan berbincang tentang beberapa teman yang kami saling kenal. Hal ini mengingatkan saya pada masa kuliah, kelakuan yang masih terus menjadi budaya bagi kami.

Tak lama berbincang, beberapa orang yang juga menetap di LSM tersebut berdatangan, dengan senyum kami menyapa mereka tepat saat melewati pintu depan. Ada yang menyambut hangat ada pula yang hanya berlalu. Seorang teman dari teman saya yang ikut membantu di LSM tersebut menyapa kami, dan mulai berbincang dengan teman saya, dia mulai menanyakan tujuan kami datang di LSM tersebut, sahabat saya pun menjelaskan tujuan kedatangan kami, dan menegaskan kami cuma singgah.

Namun Profesional LSM ini mulai memberikan intruksi dan bantuan yang professional. “Hubungi Adam (Manager LSM) laporkan,” ungkapnya pada teman saya. Agak kaget bagi saya karena bukan budaya yang biasa saya dapati di LSM, yang mengutamakan lembaran legalitas dan laporan resmi untuk seorang teman yang hanya berkunjung dan mungkin meminta bantuan personal. Saya coba menjelaskan pada orang ini, namun dia mulai memberikan ketakutan akan adanya persoalan ketika tidak ada pendampingan dari LSM. Hal ini pun saya abaikan, dan saya anggap sebagai cara kerjanya yang luar biasa.

Anggota LSM dari Jakarta ini, mulai berbicara dengan gayanya dan menanyakan hubungan teman saya dengan saya, yang mungkin pemandu turis. Dan tak disangka, iya menyebut saya “Silent Man” layaknya orang yang mengenal saya. Wow, saya mulai bertanya siapa lelaki sok tau ini, yang juga sok kenal. Bagi saya ini budaya yang tidak lazim, membicarakan seseorang yang kau tidak kenal, dan memberikan julukan sebelum mengenalnya. Tak lama berbincang dia pergi untuk melakukan pekerjaanya, yang membuat dia berada di Bantaeng. Sahabat saya pun mulai menjelaskan siapa lelaki ini, dan saya mulai mengerti sikap selengan yang tercampur profesionalisme-nya.

Kami pun mulai kembali berbincang-bincang, tentang keadaan social yang ada di Spanyol. Diskusi yang menarik ini kemudian berujung pada sebuah pertanyaan, “Bisa dia jelaskan, masyarakat ideal menurut dia seperti apa?,” ungkapnya pada saya agar menerjemahkan pada Maria. Diskusi alot, dan pertentangan antara dua pemikiran berbeda terjadi. Sinkat dari diskusi ini, Maria merasa masyarakat ideal itu tidak harus dengan adanya pemimpin, namun dibantah oleh sahabat saya, yang menganggap pendapat Maria AHistoris. Maria kembali menjelaskan, bahwa masyarakat saat ini sudah jauh lebih cerdas dari sebelumnya, kalau kita tidak mencoba menerapkannya, kita belum tahu hasilnya, dengan sedikit penekanan Maria mengatakan di akhir pejelasannya “kau tidak akan pernah tahu masa depan seperti apa nantinya”.

Tak lama seorang Pria berkulit cokelat, tambun dan agak tua muncul. Menurut informasi yang saya dapat dia mantan aktifis dan berrnama “Lolo”. Dengan suara tinggi dia meminta diskusi diberhentikan, karena melenceng dari ideology demokrasi Pancasila , dan mencoba menjelaskan sila pertama tentang ketuhanan Yang Maha Esa . Dia membentak-bentak, dan mengatakan bahwa tahu pergerakan yang kami jalankan, dan apa saja yang kami lakukan. Saya tambah kaget, dan tidak mengerti apa yang merasuki orang ini, dan menuduh sembarangan. “Pergerakan” apa yang dia maksud?. Tak lama dia lanjut dengan suara yang tinggi layaknya orator yang ingin mnggetarkan semangat, “Kalian mau buat Makar disini”. Dan kembali membentak dan ber-ujar, “kalian ingin merusak pikiran orang-orang disini”. Tambah semeraawut bahasanya, dia mengintruksikan pada sahabat saya untuk tidak membawa orang seperti kami di LSM yang dia tempati. Secara kasar bahasa ini kami tangkap sebagai tanda waktunya kami harus pergi dari tempat ini.

Dengan tersenyum dan kadang mengeluarkan tawa sahabat saya , mengucapkan sorry, ketika kami meninggalkan tempat tersebut. Saya masih merasa kaget, namun tertawa terbahak-bahak dalam hati meninggalkan tempat tersebut. Bertanya dan berpikir keras tentang kejadian tersebut, tetap saja berujung pada, pendapat tentang pendidikan orang ini mungkin masih tertinggal di perang dingin ketika pertentangan dua ideology yang saling menyalahkan, atau mungkin Zaman PD II, ketika dictator Hitler mencoba melakukan fasisme, atau mungkin lebih jauh lagi di zaman sebelum revolusi Francis yang mengkebiri perbedaan, atau mungkin jauh kebelakang lagi di Zaman Alexander agung yang tidak ingin seorang penentang yang hidup. Namun untuk menghargai pendapatnya, saya masih merasa orang ini tetap berada di atas dari zaman pra sejarah.

Peristiwa ini menjadi penting bagi kami, bahwa begitu bodohnya apa yang kami alami. Dan saya berharap menjadi pelajaran penting bagi LSM yang ingin merekrut orang-orangnya. Saya masih ingat perkataan teman saya, saat meninggalkan tempat tersebut. Apa yang dia lakukan, Saya tidak pernah melihat LSM seperti itu, saya rasa LSM adalah tempat orang-orang yang cerdas dan punya kepudulian lebih tinggi dan paling menghargai pendapat. Saya pun menjawab dengan kata benar sekali, ini pertama kalinya saya mendapati hal yang sama, dan merasa begitu bodoh dihadapan orang bodoh(“Pemaki”).

Namun setelah saya cerna keseluruhan cerita, teori sebab akibat-pun menjadi landasannya. Mungkin saja saya baru paham dia menganggap kami golongan A, yang disebabkan karena cerita santai sebelumnya tentang kabar beberapa teman yang pernah sebangku kuliah dengan saya dan sahabat saya. Yang kemudian didukung dengan diskusi yang alot, dan menuduh kami anggota dan bagian dari A. Namun pemikiran kolot apa yang digunakan aktifis ini, dia bahkan tidak tahu membedakan ideology, berdasarkan cara pandang yang sederhana, Hippy dan A. yang kemudian menuduh tanpa penalaran yang akurat, mengejutkan untuk seorang peneliti di LSM.

Kemudian dia juga menegaskan tentang ideology Demokrasi Pancasila, dan mengajar kami dengan sila pertama ketuhanan yang maha esa. Wow, alangkah kagetnya diriku, dia tidak pernah membaca tentang tatanan dasar demokrasi, sehingga berujar layaknya soekarno yang terpaksa mengingkari demokrasi. Namun menurut saya, dia malah tidak tahu sama sekali akan hal tersebut, dia hanya berujar, layaknya guru sekolah Orba, yang mengajar berdasarkan buku, dan coba mendoktrin otak muridnya. Wow sangat disayangkan cara pandangnya.

Atau mungkin cara pandang ini dia ambil berdasarkan, ketakutan peristiwa G30S. yang mungkin memberikan paranoid pada perbedaan layaknya masih tinggal di zaman Orba. Sehingga ketakutan kehilangan mata pencarian di LSM tersebut, takut LSM itu dibekukan, dan dia menjadi pengangguran. Tapi entahlah, saya hanya bisa menerka-nerka hal terssebut.

Kemudian yang paling menyedihkan dari argument pria ini, adalah, saya dan teman saya ingin berbuat Makar, dan mencoba merasuki pikiran orang disana. Ini lebih tidak masuk diakal. Karena tidak mungkin dua orang yang hanya ingin berdiskusi santai ingin membuat makar, sekuat apa tampakan kami sehingga dituduh mau buat Makar, hahahhaha……

saya Cuma menerkan kata “makar” ini begitu familiar dikalangan aktifis sebagai candaan, untuk menghilangkan eseni aslinya (subjektifitas saya). Karena kata ini paling sering saya temukan di Majalah Tempo, sebagai kata yang cukup menakutkan dikalangan aktifis. Namun dalam konteks ini, pria ini mengucapkannya untuk tampak cerdas, namun sayangnya digunakan dikontes yang salah.

Yang tidak saya dapat bayangkan lagi, diskusi santai ini bisa merasuki pemikiran orang-orang cerdas LSM. Sahabat saya yang duduk didepan saya waktu itu, dan berdiskusi dengan kami, adalah orang yang mengenalkan saya pada pergerakan mahasiswa. Saya tahu betul kualitasnya dalam hal ini, dan bagaimana dia telah melewati diskusi yang mungkin lebih sengit dari pandangan subjektif Ahistori. Sehebat apa pun kami berargumen, saya masih percaya, dia bisa mengatasinya dengan logika dan rasionalitasnya dan saya masih percaya dia tetap konsisten dijalannya. Bagi saya hal Ini, saya anggap hanya diskusi ringan dan bertukar pendapat, bukan untuk menang atau kalah, atau mencari yang mana lebih benar. Namun beliau yang sangat cerdas ini seakan menganggap sahabat saya, adalah orang yang mudah terasuki. Layaknya bocah ingusan yang diberi permen, dan menerima begitu saja tanpa tau sebab akibatnya. Agak kaget, karena dia bahkan tidak mengenal dengan baik orang disekitarnya.

Sebelum terlalu panjang, saya sudahi saja, cerita ini. Karena tulisan bodoh ini, hanya untuk menyadarkan mereka yang tidak mendengar (kutipan asli ada pada slogan fakultas sastra Unhas). Untuk mereka yang merasa paling hebat karena umur (senioritas atau dictator karena lebih tua). Merasa paling hebat secara intelektual (dalam ilmu sosial kami tidak mengenal hal itu, karena kami bukan orang yang suka berkompetisi), dan mereka yang merasa jagoan (hallo… ini bukan zamannya Jaka Sembung Bawa Goblok).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s