Dewan Kesenian Makassar (DKM) 1969-1987


I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Penelitian

Dewan Kesenian Makassar (DKM) yang diprakarsai 1 Juli 1969, secara formal dengan pengesahan dari pemerintah, menjadi salahsatu orgaisasi yang berperan penting dalam pengembangan dan pelstarian budaya di Sulawesi selatan Khususnya. Namun perlu diketahui, tepatnya 7 oktober 1969 organisasi ini telah terkordinir rapi, dalam usahanya untuk membina kebudayaan, yang kemudian difasilitasi gedung kesenian oleh Walaikota Makassar, M. Dg. Patompo, dan baru diserahkan secara resmi setelah diprakarsainya.[1]

Setelah diprakarsai, tepatnya 25 Juli 1969, 11 seniman Makassar, yang diantaranya : Matuladda, HB Mangemba, Arsal Alhasbi, Husni Djamaluddin, Aspar Paturussi, Rahman Arge, AH Mangemba, SA Jatimayid, MS Mallombasi, Djamaluddin Latief dan Hisbuldin Patunru . Turut hadir pula beberapa seniman dan budayawan Sulawesi Selatan, dalam perundingan program yang akan dijalankan di dalam “Kamar Pertemuan Seniman”.

Pembentukkan lembaga kesenian ini adalah salah satu upaya untuk turut berperan serta dalam pengembangan dan pembaharuan kembali kehidupan berkesenian dalam membangun kebudayaan nasional maupun lokal, sesuai tekad dan cita-cita Orde Baru (Orba), yang berlandas pada Pancasila dan Undang Undang dasar 1945.[2] Hal ini tidak lepas dari peralihan kekuasaan tahun 1966, yang kemudian ikut mengubah suhu politik di Indonesia.

Dari itu, alasan lain yang ikut mendorong kelahiran DKM, adalah bentuk kekecewaan dan perlawanaan para budayawan dan seniman non Lekra, terhadap Lembaga kebudayaan Rakyat (Lekra) Makassar, yang diduga sebagai organisasi sayap Partai Komonis Indonesia (PKI). Yang dalam perjalanannya di tahun 1950-1965, Lekra telah melakukan terror dan meronrong seniman dan budayawan yang tidak sependapat dengan pemahaman yang dianutnya.

Bila kembali ditahun 1960-an awal, konflik ini berawal dari lahirnya kebijakaan yang menempatkan “politik sebagai panglima” atas seluruh kegiatan kemasyarakatan. Hal ini jelas Memberikan kesempatan besar terhadap Lekra yang berlawan terhadap imprealisme dengan menggunakan kekuatan rakyat dan menggunakan seni dan budaya sebagai media perlawanan. Perlawanan inilah yang kemudian selalu mengaitkan Lekra pada PKI.[3] Kemudian hal ini dijadikan landasan beberapa partai untuk ikut bergegas membangun organisasi sayap di bidang kebudayaan.

Yang kemudian melahirkan Organisasi Masyarakat (Ormas) kesenian dan kebudayaan sebagai alat perjuangan partai, diantaranya, Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) dari Partai Nasional Indonesia (PNI), Lembaga Seni Budaya Muslim Indoneia (Lesbumi) dari Nahdatul Ulama (NU).[4] Makassar yang mempunyai potensi besar terhadap pengembangan kawasan Indonesia Timur, menjadi tempat strategis dalam penguatan massa politik partai. Potensi ini membuat kota Makassar semakin menjadi pusat dari explorisasi budaya di Sulawesi Selatan, yang kemudian membuat laju perkembangan dan pelestarian kebudayaan, yang secara langsung semakin memperkaya budaya Nasional.

Namun pasca penyerahan kekuasaan tahun 1966, Lembaga-lembaga yang meramaikan Makassar mulai meredup dan hampir tidak terdengar lagi kiprahnya, apalagi memasuki tahun 1970. Dalam kekosongan lembaga kebudayaan di Makassar, dan carut marutnya politik diawal Orba, DKM menempuh kebijakan yang menurut organisasi ini melewati kebijakan fragmentaris saat itu, yang memecahkan organisasi kesenian berdasarkan aneka ideologi. Yang secara garis besar perjuangannya seiring dan searah dengan apa yang ingin dilakukan pemerintahaan Orba.

Perlawanaan terhadap gerakan kesenian dan kebudayaan yang dianggap terpecah dan berlandas politik. Mulai dipertegas DKM dengan visi dan misi pemerintahaan yang berkuasa di Orba. DKM mulai membangun massanya, dan memberikan perlawananan terbuka terhadap ideologi yang berbeda dengan gaya pemikiran Orba. Kesepahamaan itu pun termaktub dalam anggaran dasar DKM, yang tidak memberi ruang adanya penyelewengan terhadap kerja-kerja kesenian dan kebudayaan yang disangkut pautkan dengan ideologi selain Pancasila ataupun yang mengarah pada politik partai.

Secara terperinci kegiatan DKM termaktub pada Anggaran rumah tangganya, yang berorentasi pada kesenian yang tidak hanya pada pengarahaan buah-buah pikiran atau gagasan terhadap kerja masyarakat, namun juga ikut berperan serta dalam penangan kegiatan seni. Selain itu, sejumlah program kesenian dan kebudayaanya yang ditanggung langsung finansialnya oleh pemerintah, digiatkan demi mencuri simpatik masyarakat atas pencitraan yang mulai dibangun orde baru di 1969-1987. Langkah kongkrit mengisi kekosongan lembaga kebudayaan di Makassar, memberikan hasil positif pada pemerintahan.

DKM-pun memberikan banyak sumbangsi pada explorasi budaya pedalaman Sulawesi Selatan, pelestarian dan pembaharuan kebudayaan. Hal ini ikut mempengaruhi warga kota Makassar yang semakin heterogen dan kaya akan budaya. Belum lagi secara garis sosial dan budaya, masyarakat di Sulawesi Selatan sangat konsumtif terhadap hiburan.sehingga program DKM selalu dinanti masyarakat Makassar. Kesuksesan DKM di pertengahan 1980-an, juga tidak lepas dengan akulturasi budaya asing yang coba diharmonikan dengan budaya dan kesenian di Makassar.

Berdasarkan pembahasan diatas, penulis amat tertarik untuk mengkaji lebih dalam, mengenai Perjalanan DKM di tahun 1969-1987, dengan segala kontrofersi, yang akan penulis lihat dari segi sosial dan politik Makassar diawal pemerintahaan Orba. Selain itu penulis juga akan melihat bagaimana pengaruh seni dan budaya di Makassar yang kemudian ikut berperan pada perkembangan kota Makassar sebagai kota Budaya, yang dalam upayanya mengexpolorisasi, mengembangkan dan melestarikan kesenian Sulawesi Selatan.

I.2 Batasan Masalah

Agar pembahasan mengenai Dewan Kesenian Makassar bisa fokus maka penulis memberi batasan dalam tahap penelitian pembatasan tersebut sesuai dengan kaidah dalam ilmu sejarah yang di kenal dengan ruang lingkup. Ruang lingkup tersebut di bagi dalam 3 macam yakni : ruang lingkup temporal, spasial, dan keilmuan.

  1. Lingkup Temporal

Batasan atau lingkup temporal dalam penelitian ini yakni tahun 1969-1987. Tahun 1969 tahun awal terbentuknya Dewan Kesenian Makassar. Yang mana pula sebagai langkah awal, DKM mengisi kekosongan lembaga kebudayaan di Makassar, pasca peralihan kekuasaan di 1965. Dimana akan digambarkan pengaruh Orba, dalam pembentukan DKM, juga kegiatan-kegiatan kesenian dan kebudayaan yang diterapkan dimasa awal diformalkannya DKM oleh pemerintah. Selain itu penulis juga meliha bagaimana Anggaran Rumah Tangga dan Anggaran Dasar yang digunakan dalam pergerakan DKM. Sementara batas akhir penelitian ini yaitu tahun 1987, yang mana didasarkan pada masa puncak kejayaan DKM sebagai lembaga kesenian dan kebudayaan di Makassar dalam pembangunan budaya lokal Sulawesi Selatan lewat pentas rutin di gedung kesenian Makassar.

  1. Lingkup spasial

Berdasarkan judul yang di angkat oleh penulis maka lingkup spasial penelitian ini yakni Dewan Kesenian Makassar yang bertempat di Makassar, Sulawesi Selatan. Sebagai ibu kota propensi Sulawesi Selatan, dan juga pilar kota utama di Indonesia Timur, yang secara otomatis memberikan pengaruh besar terhadap pengaruh sosial, politik dan ekonomi nasional.

 

I.3 Rumusan Masalah

Di dalam suatu penulisan, rumusan masalah sangat penting sebab akan memudahkan penulis di dalam pengarahan pengumpulan data dalam rangka untuk memperoleh data yang relevan. Adapun rumusan masalah antara lain :

  1. Bagaimana berdiri dan berkembanganya DKM ?
  2. Bagaimana pengaruh sosial dan politik DKM terhadap perkembangan kota Makassar ?
  3. Bagaiman pengaruh DKM terhadap explorisasi, perkembangangan dan pelestarian seni dan budaya ?

 

I.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian yang dirumuskan secara umum cara untuk memperoleh gambaran secara umum dari objek yang akan diteliti, dimana dari hasil yang diperoleh dapat dipergunakan sebagai bahan untuk menyempurnakan perencanaan dasar dari perumusan masalah.

Adapun tujuan dari penelitian ini, adalah:

  1. Sebagai tugas akhir pendidikan Strata satu penulis, untuk meraih gelar Sarjana Sastra
  2. Agar dapat menjelaskan dan merekontruksi peristiwa berdirinya Dewan Kesenian Makassar.
  3. Agar dapat menjelaskan dan menuliskan pengaruh perkembangan Dewan Kesenian Makassar dalam kehidupan masyarakat dan bangsa, khususnya dalam bidang seni budaya.

Adapun manfaat dari penelitian ini, adalah:

  1. Untuk menambah pengetahuan mengenai Dewan Kesenian Makassar.
  2. Menambah literatur kepustakaan mengenai sejarah kebudayaan.
  3. Sebagai salah satu pra syarat untuk menyelesaikan studi pada jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra
  4. Sebagai bahan acuan terhadap perkembangan Dewan Kesenian Makassar yang sampai saat ini masih menunjukkan eksistensinya.
  5. Hasil penelitian ini dapat menjadi bagi penelitian sejarah berikutnya.

 

I.5 Tinjauan Pustaka

Dalam melakukan penelitian, kepustakaan sangat penting bagi penelitian yang dikaji. Dalam penelitian ini, penulis membuat penuntun ataupun acuan yaitu berupa literatur kepustakaan yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan serta penulis akan mengungkap beberapa definisi yang berkaitan dengan penelitian ini.

Adapun diantaranya, Skripsi tahun 2000 dari Alexander Supartono, Lekra Vs Manikebu, Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965. Secara garis besar tulisan ini membahas bagaimana perdebatan dan konflik yang terjadi antara Lekra dan non Lekra, yang secara langsung menyentuh kehidupan sosial dan politik masyarakat Indonesia. Dimana didalam tulisan ini penulis juga coba menggambarkan Perbedaan Lekra dan PKI, yang dianggap satu kiblat ideologi. Penulis juga mencoba meluruskan sejarah dan seobjektif mungkin, melihat konflik yang kemudian mengubah pandangan bangsa ini terhadap gerakan-gerakan nasional yang berhaluan kiri.

Dari itu buku ini memberikan gambaran yang detail tentang bagaimana pertarungan terbuka terhadap pengaruh-pengaruh kebudayaan asing yang coba masuk di Indonesia. Yang kemudian dikemudian hari dibebaskan begitu saja, tanpa ada pengawalan terhadap identitas bangsa.

Selain dari itu penulis juga menjadikan buku Keith Folcher, Komitmen social sastra dan seni dalam Lekra. Yang menggambarkan perjuangan Lekra dalam membangun identitas nasional dengan berbagai konflik yang kemudian diakhiri di tahun 1965, yang juga sebagai tahun peralihan kekuasaan Orla kepada Orba.

Dua buku lainya, yang juga menjadi penting untuk menjadi tinjauan pustaka penulis, yaitu, Seni Masyarakat Indonesia, yang dieditori oleh Edi Sedyawati dan Sapardi Djoko Damono, buku ini berisi kumpulan artikel kesenian yang ikut mempengaruhi perkembangan kesenian di Indonesia. Satu lagi, buku berjudul Masyarakat Kesenian di Indonesia yang diprakarsai oleh kelompok kesenian, diantaranya Muhammad Takari, Frida Deliana Harahap, Fadlin, Torang Naiborhu, Arifni Netriroza. Buku ini banyak membahas dasar dari kesenian di Indonesian dengan keunikan dan pengaruhnya terhadap masyarakat.

I.6 Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan suatu cara atau teknik yang dilakukan sebagai upaya memperoleh fakta-fakta dan prinsip-prinsip guna mewujudkan kebenaran dari suatu permasalahan yang ada. Penelitian yang dilakukan adalah berupa penelitian sejarah (historis). Untuk mendapatkan hasil penulisan yang berdasarkan penelitian sejarah, maka penelitian ini diupayakan untuk membuat suatu tulisan sejarah (historiografi). Langkah-langkah yang ditempuh untuk menghasilkan tulisan sejarah ini adalah dengan mengikuti metode sejarah yang mencakup heuristik, kritik, interprestasi, dan historiografi[5].

 

  1. Heuristik (Pengumpulan sumber) sebelum menetukan teknik pengumpulan sumber sejarah yang perlu dipahami bentuk dari sumber sejarah yang akan dikumpulkan. Sumber sejarah dibedakan atas Sumber primer dan sekunder.
  2. Data Primer

Data Primer diperoleh melalui studi lapangan di lokasi penelitian. dengan cara sebagai berikut : Melakukan Observasi, yaitu penulis akan mengadakan pengamatan langsung dilokasi penelitian serta ke kantor Badan Arsip,dan ke instansi pemerintahan seperti kantor Walikota Makassar guna mencari dan mendapatkan arsip-arsip yang berhubungan dengan penelitian penulis.

  1. Wawancara

Wawancara dilakukan penulis dalam mengumpulkan data dengan melakukan komunikasi langsung dengan informan yang dianggap penulis dapat memberikan keterangan mengenai objek kajian sehingga mendapatkan data yang diinginkan. Wawancara dilakukan dengan menemui pendiri atau pun anggota Dewan Kesenian Makassar yang masih hidup.

  1. Data Sekunder

Data Sekunder yaitu data yang diperoleh melalui studi kepustakaan. Dengan data sekunder ini penulis mengambil dan mengumpulan data-data tertulis yang berhubungan dengan objek yang diteliti berupa buku-buku dan dokumen, karya ilmiah (Skripsi, tesis, dan disertasi) yang relevan dari Arsip Daerah Sulawesi Selatan, perpustakaan Universitas Hasanuddin dan Fakultas Sastra, perpustakaan Ilmu Sejarah dan berbagai hal yang berhubungan dengan objek kajian penulis.

  1. Verifikasi atau Kritik Sumber

Setelah sumber dikumpulkan tahap selanjutnya penulis melakukan kritik sumber untuk menentukan otensitas dan kredibilitas sumber sejarah. Semua sumber yang telah dikumpulkan terlebih dahulu diverifikasi sebelum digunakan. Sebab, tidak semuanya langsung digunakan dalam penulisan. Dua aspek yang dikritik ialah otentisitas (keaslian sumber) dan kredebilitas (tingkat kebenaran informasi) sumber sejarah. Penentuan keaslian sumber itu berkaitan dengan bahan yang digunakan dari sumber tersebut itu biasanya disebut kritik eksternal. Sedangkan, penyeleksian informasi yang terkandung dalam sumber sejarah, dapat dipercaya atau tidak, dikenal dengan kritik internal.

Tahap penyeleksiannya harus sistematis, yakni diawali dengan kritik ekternal kemudian kritik internal. Jika tahap pertama suatu sumber sejarah tidak memenuhi syarat sebuah sumber sejarah (dari segi otensitasnya), tidak perlu dilanjutkan verifikasi tahap berikutnya.Bila sumber berupa dokumen tertulis, maka untuk mengetahui otensitas diuji dengan beberapa pertanyaan: kapan dan dimana sumber dibuat? dan bagaimana kerangka konseptualnya? begitu juga denga sumber lisan penelitian harus cermat. untuk meperoleh akurasi data yang diperoleh, maka aspek yang diperhatikan adalah siapa, kapan, dimana dan bagaimana peran yang dimainkan oleh pengkisah atau tingkat keterlibatannya dalam peristiwa itu?[6]

Kritik internal dilakukan dalam rangka menguji keotentikan suatu sumber dengan jalan meneliti tulisan, guna mengetahui apakah sumber itu asli, turunan atau palsu. Sumber juga diuji keabsahannya melalui kritik internal yakni apakah sumber itu layak dan dapat dipercaya keabsahannya. Kritik eksternal bertugas menJawab 3 (Tiga) pertanyaan mengenai suatu sumber yaitu, a). Apakah memang sumber itu yang kita kehendaki?, b). Apakah sumber itu asli atau tiruan?, c). Apakah sumber itu utuh atau telah diubah-ubah? Sedangkan kritik internal adalah kritik yang dilakukan untuk mengetahui isi atau pandangan suatu sumber sejarah.

  1. Interpretasi dan analisa.

Hal ini diperuntukkan kepada penulis setelah data-data sudah terkumpul itu kemudian dikelompokkan sesuai dengan tempat dan tahun, dengan tujuan agar penulisan dapat mengetahui data yang tidak penting dan dipisahkan agar tidak menggangu penulis dalam merekonstruksikan peristiwa sejarah.

  1. Historiografi atau penulisan sejarah

Hal tersebut di atas dilakukan dengan mengingat bahwa sejarah sebagai ilmu dituntut objektifitasnya agar nilai-nilai ilmiahnya terjaga.Namun disadari sepenuhnya bahwa subjektifitas penulis tidak mungkin dapat dihindari. Dengan demikian data dan keterangan atau sumber-sumber yang kredibilitas dan validitasnya dapat ditemukan kemudian dipergunakan untuk membuat sintesis dalam bentuk penulisan skripsi yang deskriptis narasi.

 

I.7 Sistematiaka penulisan

Untuk mendapatkan gambaran secara singkat atau pemaparan lebih lanjut mengenai penulisan karya ilmiah ini maka penulis akan menyampaikan garis-garis besarnya yang terdiri dari lima bab. Setiap bab terdiri bari beberapa sub yang disusun menurut urutan pembahasan sebagai berikut:

Bab I : Pendahuluan

Bab ini berisi pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II : Kesenian Nasional Dan Lokal Sulawesi Selatan

Penulis akan memberikan gambaran Awal mula kesenian di Nusantara, dan bagaiman kesenian pada massa Belanda dan Jepang dan setelah terbentuknya Republik Indonesia, yang memasuki era Orde baru dan Orde Lama. Selain itu Penulis akan menulis lebih rinci Kemunculan DKM pada tahun 1969-1987.

Bab III : Landasan Berdirinya Dewan Kesenian Makassar (DKM)

Penulis akan memberikan gambaran struktur organisasi DKM, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Perbendaharaan, Sistem keanggotaan, dan sarana dan fasilitas Gedung Kesenian Makassar

Bab IV : Dampak Sosial Yang diberikan Dewan Kesenian Makassar (DKM)

 

Bab ini akan berisi tentang pengaruh Sosial DKM dalam pengexplorasi budaya di Sulawesi Selatan, yang masih belum terjamah, sebagai bentuk perkembangan dan pelestarian. Selain itu di Bab ini akan melihat bagaiman budaya lokal yang dibangun DKM dapat berjalan seiring dengan Modernisasi dan globalisasi yang ikut masuk di era Orba.

Bab V : Kesimpulan

Bab ini memuat kesimpulan sebagai jawaban atas masalah yang diteliti dan saran-saran yang dipandang perlu atas perjalanan DKM dari 1969-1987.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

Kesenian Nasional dan Lokal Sulawesi Selatan

 

2 . I. Pengertian Seni

Kesenian adalah suatu keindahaan yang mengubah imajinatif setiap penikmatnya, itulah pandangan subjektif penulis, namun hal tersebut bukanlah patokan dalam penulisan karya ilmiah ini. Untuk itu sebelum masuk pada pokok pembahasaan, penulis akan mencoba memaparkan beberapa hal dasar mengenai kesenian.

Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu. Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari kreativitas manusia. Seni juga dapat diartikan dengan sesuatu yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan.

Namun tetap saja seni sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai. Bahwa masing-masing individu artis, memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntunnya atau kerjanya, masih bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari memilih medium, dan suatu set peraturan untuk penggunaan medium itu.Suatu set nilai-nilai yang menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan ekspresi lewat medium itu, untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, sensasi, atau perasaan dengan cara seefektif mungkin untuk medium itu.

Di Indonesia sendiri, seni mempunyai tafsiran yang berbeda. Menurut beberaapa pengamat seni dan budaya Indonesia, kata seni berasal dari kata “sani”, yang berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti pemujaan, persembahan, dan pelayanan. Kata tersebut berkaitan erat dengan upacara keagamaan yang disebut kesenian. Lain pula halnya yang dipaparkan Padmapusphita, yang mendapati bahwa kata seni berasal dari bahasa Belanda “genie” dalam bahasa Latin disebut genius, artinya kemampuan luar biasa yang dibawa sejak lahir.

Berbagai tafsiran defenisi tentang seni yang berbeda, membuat susah untuk mengelompokkan seni pada satu gerakan atau benda, sehingga akan sulit untuk memaknainya secara utuh. Untuk itu penulis coba mengambil beberapa pendapat dari. Ahli sebaqgai landasan berpikir.

Aristoteles, sebagai seorang filusuf dan pecinta seni di zamanya, mengibaratkan seni sebagai suatu bentuk pengungkapan dan penampilan yang tidak pernah mengalami penyimpangan dari kenyataan yang ada. Selain itu seni merupakan sebuah proses peniruan alam. Lain halnya dengan Emanuel Kant yang juga ahli tata negara, seni dipandangnya sebagai sebuah mimpi. Sebab, di dalam seni terdapat rumus yang tidak mampu diwujudkan dalam sebuah bentuk nyata.

Sedangkan untuk pemikir Indonesia, yang juga bapak Pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara, berpendapat seni adalah semua aktivitas dan tindakan manusia yang muncul dari hidup dan perasaannya serta memiliki sifat keindahan sehingga mampu menggerakkan perasaan dan jiwa seseorang. Pandangan ini memepunyai tafsiran yang hampir sama, dengan yang dipaparkan Koentjaraningrat, kebudayaan dalam arti kesenian adalah ciptaan dari segala pikiran dan perilaku manusia yang fungsional, estetis, dan indah sehingga ia dapat dinikmati dengan panca inderanya (yaitu penglihat, penghidung, pengecap, perasa, dan pendengar).[7]

Walau abstrak dalam mendefinisikannya, Ensiklopedia Indonesia menjelaskan Seni, merupakan segala sesuatu yang berwujud atau tidak berwujud, yang mampu memunculkan sebuah keindahan sehingga semua orang yang menyaksikan atau mendengarkan akan merasa senang.

  1. 1. 1 Cabang Seni

Untuk lebih mudah mendefenisikannya, secara garis besar, seni dibagi empat cabang yang utama. Dimana dari masing-masing cabang utama ini pada nantinya akan diturunkan menjadi beberapa jenis yang mengalami perkembangan setiap waktunya berdasarkan kemajuan kebudayaan yang dimiliki masyarakat pada masa tertentu.

Keempat cabang utama dari seni tersebut antara lain adalah :

  • Seni Musik

Cabang seni ini merupakan sebuah refleksi karya seni yang penyampaiannya menggunakan media suara. Baik melalui suara manusia yang disebut lagu, atau suara yang berasal dari berbagai alat musik.

  • Seni Gerak

Makna gerak dari sudut pandang seni adalah sebuah sikap yang berirama dan menimbulkan keindahan komposisi. Di dalam seni gerak ini, harus mencakup komponen irama, gerak, ekspresi serta penghayatan yang tercakup dalam satu kesatuan secara bersama-sama. Sebab, keempat hal tersebut merupakan kunci utama sebuah seni gerak agar bisa dikatakan indah.

Salah satu seni gerak adalah seni tari. Seni tari sendiri diartikan sebagai sebuah perwujudan pada semua tekanan emosi yang dicurahkan pada bentuk gerak anggaota badan yang dilakukan secara teratur dan mengandung keselarasan antara irama dan musik pengiringnya.

  • Seni Drama

Seni drama hampir sama dengan seni tari, sebab di dalam keduanya terdapat konsep gerak. Hanya saja, pada seni drama gerak yang dilakukan merupakan gerak yang mengandung maksud atau akting. Dalam salah satu seni drama yang ada yaitu pantomim, semua proses penyampaian dialog dilakukan dengan gerak tubuh yang harus ditafsirkan secara individu oleh penikmatnya.

  • Seni Rupa

Seni rupa adalah salah satu cabang seni yang bisa dilihat perwujudannya. Dalam arti, karya seni ini bisa dinikmati secara langsung dengan indra penglihatan. Seni rupa sendiri kerap dimaknai sebagai sebuah refleksi batin serta pengalaman estetis yang disampaikan dalam media garis, warna volume serta komposisi gelap terang. Contoh dari seni rupa di antarnya adalah seni lukis, puisi, seni pahat atau juga cerpen.

Kebragaamaan seni yang ditunjukkan lewat musik, teater, tari, karya sastra maupun kerajinan tangan dan arsitektur, menjadi salah satu tolak ukur majunya peradabaan. Bila kembali melihat seni sebagai bahan rujukan perkembangan manusia dan sebagai landasan sejarah yang faktual, maka Penulis menganalisa dengan membagi dua karya seni, berdasarkan cara penyampaian dan interpretasinya.

Diantaranya, karya seni yang bergerak, yang diantaranya musik, tater, tari dan pembacaan karya sastra, salah satunya puisi. Karya seni bergerak, disampaikan secara langsung, sehingga memberikan interpretasi yang lebih mudah dicerna, lewat bahasa tubuh dan cara memainkan nada suara atau musik sesuai rityme penyampaiananya. Sehingga pesan yang ingin disampaikan seniman, mayotis terinterpretasi dengan jelas oleh penikmatnya. Walau dalam setiap regenersi dan masa yang berlalu, seni bergerak mengalami pengerusan kebudayaan dalam penyampaiannya namun secara umum, karya seni ini tetap jelas memaparkan pesan yang coba disampaikan.

Dan yang kedua adalah seni berbentuk Fisik, yang diantaranya adalah : kerajinan tangan, arsitektur dan alat musik atau kesenian. Yang dimana karya seni ini lebih menunjukkan keunikan dan ketertarikan emosional setiap penikmatnya hanya dengan bentuk fisik. Selain itu terdapat pula karya sastra yang tidak diaplikasikan lewat Voice dan hanya bentuk fisik yang hanya berupa tulisan gagasan pikiran. Bentuk ini masih sama seperti bentuk seni fisik, yang hanya berupa berkas dengan rangkaian kata yang menarik. Namun penulis menggolongkannya sebagai karya fisik, yang mana memiliki ciri fisik yang menarik lewat gaya pemikiran, namun mempunyai interpretasi yang berbeda pada setiap penikmatnya.

Bila kemudian pembagian seni diatas coba digunakan dalam interpretasi sejarah, yang melihat kemajuan dan cara berpikir lewat karya seni. Seni juga dikaji dalam Antropologi sebagai gejala kebudayaan. Semua cabang seni itu dapat digunakan sebagai sarana untuk memahami bagaimana pemiliknya memandang dunia, dan sejarah kehidupan pemiliknya.

  1. 1.2 Fungsi Seni

Ada dua fungsi seni secara garis besar, yaitu :

  • Bagi Kepentingan Individu

Dalam kaitannya dengan individu, seni memberikan peran dalam menciptakan peradaban manusia. Selain itu, dengan adanya seni manusia bisa menumpahkan unsur emosional mereka secara positif.

  • Bagi Kepentingan Sosial

Di bidang sosial, seni mampu mewarnai beberapa kehidupan manusia, seperti terlihat dalam berbagai seni arsitektur tempat beribadah manusia. Seni juga disampaikan sebagai ajang menyampaikan pesan agama dan moral kepada manusia. Melalui seni pula, kita bisa menyampaikan pesan budi pekerti untuk menunjang proses pendidikan masyarakat.

  1. Kesenian Indonesia

Berdasarkan penelitian para ahli, seni atau karya seni sudah ada kurang lebih sejak 60.000 tahun yang lalu. Bukti ini terdapat pada dinding-dinding gua di Prancis Selatan. Buktinya berupa lukisan yang berupa torehan-torehan pada dinding dengan menggunakan warna yang menggambarkan kehidupan manusia purba. Artefak atau bukti ini mirip lukisan modern yang penuh ekspresi. Hal ini dapat kita lihat dari kebebasan mengubah bentuk.

Satu hal yang membedakan antara karya seni manusia purba dengan manusia modern adalah terletak pada tujuan penciptaannya. Manusia purba membuat karya seni atau penanda kebudayaan sangat dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan di sekitarnya. Sedangkan manusia modern membuat karya seni atau penanda kebudayaan digunakan untuk kepuasan pribadi dan menggambarkan kondisi lingkungannya. Dengan kata lain, manusia modern adalah sosok yang ingin menemukan hal-hal yang baru dan mempunyai cakrawala berpikir yang lebih luas.

Semua bentuk kesenian pada zaman dahulu selalu ditandai dengan kesadaran magis karena memang demikian awal kebudayaan manusia. Dari kehidupan yang sederhana yang memuja alam sampai pada kesadaran terhadap keberadaan alam.

Untuk itu dalam memaknai dan mempelajari seni Indonesia berarti kita mempelajari kebudayaan Indonesia untuk mengetahui bagaimana bangsa Indonesia memandang dunia dan bagaimana sejarah perjanan hidup bangsa Indonesia itu sendiri.

Di Indonesia, seni mulai menjadi rangkaian dari kegiataan ritual pada zaman pra sejareah dan berlanjut hingga sejarah kontenporer Indonesia, yang kemudian melahirkan kelembagaan yang menaungi dan mempertahankan eksistensi kesenian tersebut. Adapun kesenian yang menjadi bagian integral terbentuknya bangsa ini di antaranya :

  • Seni Lukis

Pada tipe masyarakat berburu dan meramu, Seni lukis menjadi cara dalam mentransfer pengetahuan yang di lukis pada bebatuan maupun dalam goa, darinya tema-tema lukisan didominasi oleh masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan berburu dan meramu. Hal yang serupa terjadi pada tipe masyarakat bercocok tanam, tema-tema seni lukis didominasi oleh peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan bercocok tanam.

Berlanjut pada zaman Hindu-Budha, seni lukis mengekspresikan tema-tema yang berhubungan dengan nilai-nilai yang dianut oleh Hindu-Budha. Pada zaman Islam (madya), seni lukis mengekspresikan tema-tema mengenai nilai-nilai Islam.Pada tipe masyarakat kota dan metropolitan, tema-tema seni lukis didominasi oleh kehidupan kota dan metropolitan. Contohnya, lukisan mengenai kehidupan kota yang sangat sibuk. Lukisan mengenai gedung-gedung bertingkat pencakar langit, dan sebagainya.

NO Zaman Gambaran Bahan Lukis
1. Purba Media seni lukis adalah dinding di goa dengan menggunakan cat atau bahan pewarna yang diperoleh dari getah tumbuh-tumbuhan
2. Hindu-Budha Media seni lukis adalah daun-daun lontar, kulit binatang, dinding-dinding batu atau dinding bangunan suci (candi, makam), dinding kayu dengan menggunakan cat atau bahan pewarna.
3. Madya Media seni lukis adalah barang-barang pecah belah semacam gerabah, keramik, porselin, alat-alat dapur, dan lain-lain, dengan menggunakan cat atau bahan pewarna.
4. Sekarang Media seni lukis semakin variatif, mulai dari alas dasar kertas, kulit binatang, kain (kanvas), kaca, dan lain-lain dengan menggunakan beraneka ragam cat atau tinta lukis yang telah berhasil diciptakan.

Tabel 1. Perkembangan Seni Lukis[8]

  • Seni Patung

Indonesia memiliki contoh patung yang beragam. Sumber sebagian besar patung-patung itu diperkirakan berasal dari masa dan tradisi Megalitik. Pada umumnya patung diwujudkan dalam relief lembut, tangan yang melengkung ke daerah perut seperti untuk melindungi sesuatu. Wajah hanya terdiri dari atas hidung dan mata, dengan mulut yang dihilangkan. Contoh patung seperti itu ditemukan di Lembah Bada Sulawesi Selatan, Kalimantan dan Nias. Sampai saat ini belum diketahui apa tujuan semula pembuatan patung ini, diperkirakan dibuat pada akhir abad ke –14.

Seiring dengan masuk dan diterimanya agama Hindu-Budha, terbawa pula unsur-unsur kebudayaan India yang sangat mempengaruhi seni patung pada masa itu. Bentuk patung didominasi oleh pengaruh India berupa garis lengkung dan bidang cembung yang menggambarkan alam semesta yang berombak dan melambai. Contohnya, jenis patung yang dapat ditemukan pada patung Hindu Wisnu di Cibuaya, Jawa Barat. Patung-patung masa ini sangat kental dengan ragam hias Hindu Budha, seperti padma, swastika dan kinnara. Padma melambangkan tempat duduk dewa tertinggi.

Penyebaran dan masuknya agama Islam di Indonesia membawa pengaruh yang sangat besar pada seni rupa Indonesia. Pada masa ini, perkembangan seni beralih ke wayang golek, wayang kulit, wayang beber, dan seni kaligrafi. Berbagai ragam jenis seni itu digunakan sebagai sarana untuk menyebarkan agama Islam dengan tema-tema yang kental dengan nilai-nilai Islam.

  • Seni Sastra

Indonesia memiliki karya sastra yang sangat banyak, tersebar dalam bahasa Jawa Kuno, Bali dan Indonesia. Karya-karya sastra Indonesia hidup dalam tradisi, agama dan seni. Dari semua sastra daerah Indonesia, sastra Bali memperoleh perhatian istimewa karena berisi jejak-jejak hubungan penganut Tantrisme Hindu-Budha Jawa dan India dengan orang Islam dari Jawa, khususnya Blambangan, orang Sasak (Lombok), dan Bugis (Sulawesi), serta orang Belanda. Interaksi itu diperkirakan mulai terjadi pada abad ke – 16. Kesusastraan Bali berisi teks sastra kuno yang dikarang di Jawa berdasarkan pada cerita kepahlawanan India, Ramayana dan Mahabharata. Pada abad ke – 10 karya sastra yang berhubungan dengan agama dan sejarah dibuat di Jawa dan dialihkan ke Bali pada abad ke –16.

Mulai abad ke-16, orang Bali menciptakan sastra mereka sendiri. Temannya masih tetap mengacu pada karya sastra Jawa Kuno, tetapi baru mulai abad ke-18, penggunaan bahasa Bali dalam karya sastra mulai berkembang. Dan sejak tahun 1945, terutama setelah Indonesia merdeka, bahasa Indonesia digunakan secara luas dalam karya sastra, seperti novel, cerita pendek, dan puisi. Pada umumnya karya sastra dapat dikelompokkan menjadi prosa dan puisi.

  • Seni Pertunjukkan

Menurut Sedyawati (2006), jejak-jejak seni pertunjukan Indonesia mulai ditemukan pada zaman prasejarah akhir, terutama pada zaman Perunggu – Besi. Buktinya adalah ditemukannya beberapa logam hasil zaman itu berisi sejumlah penggambaran mengenai orang-orang menari dengan mengenakan hiasan kepala dengan bulu-bulu panjang serta topeng. Hal ini diperkuat oleh lukisan-lukisan zaman ini yang banyak menggambarkan orang menari. Seni pertunjukan Indonesia mengalami perkembangan pada masa Hindu-Budha. Sumber-sumber tertulis menunjukkan bahwa relief-relief candi menunjukkan dengan jelas adegan orang menari. Berbagai karya sastra pada masa ini juga memperkuat berkembangnya seni pertunjukan pada masa ini.

Masuknya agama Islam ke Indonesia memberi pengaruh unik terhadap seni pertunjukan Indonesia, khususnya seni musik. Pengaruh khas Islam ditemukan pada musik Rebana yang cukup akrab dan merakyat di beberapa daerah Indonesia. Sumbangan bangsa Eropa terhadap seni pertunjukan Indonesia, khususnya pada seni musik adalah toneel dan musik diatonik. zaman kemerdekaan memberi warna tersendiri terhadap seni pertunjukan Indonesia, yaitu hidup dan berkembangnya musik keroncong dan dangdut atas dasar musik diatonik dan lagu kebangsaan Indonesia.

 

  1. III. Kesenian Sulawesi Selatan

Keragamaan budaya etnik di Indonesia menghasilkan berbagai macam bentuk seni. Hal ini termaktub pada Memorandum Pandangan yang dirumuskan Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional pada Bab II tentang Dinamika kebudayaan Daerah Tahun 1999 :

“Indonesia yang memiliki kurang lebih 931 suku bangsa dan 650 bahasa daeah yang berbeda ditinjau dari nilai-nilai taradisional, maupun perilaku masyarakatnya. Bila dikaji lebih mendalam perbedaan ethnik tersebut sangat mencolok. Dalam kurun waktu yang sama, terdapat beberapa daerah yang sudah modern, tetapi ada pula daerah yang masih terbelakang. Hal itu sering menimbulkan sifat inferioritas pada kelompok tertentu dan supertioritas dan kelompok lainnya.”[9]

Hal itu pula yang mengilhami kebudayaan dan kesenian di Sulawesi Selatan. Kesenian di Sulawesi Selatan terbagi atas seni yang diajarjkan secara Lisan dan tulisan. Dan kebanyakan diantaranya dilakukan secara lisan selama berabad-abad, yang diturunkan pada anak cucu mereka. Layaknya cerita rakyat, seni tari, musik, kerjinan tangan maupun arsitektur.

Selain itu karya seni tulisan sudah lama menjadi tradisi dari masyarakat Sulawesi Selatan, Dengan penulisan yang dilakukan di daun Lontar contohnya, Selain itu beberapa naskah kerjaan yang ada di Sulawesi Selatan, menjadi salah satu rujukan dalam eksistensi kesenian dan budaya, yang kemudian di integrasikan kembali. Salah satu karya sastra Sulawesi Selatan, terpanjang dan mengaggumkan di dunia berjudul “Lagaligo”, Hal ini membuktikan bagaimana peradabaan di Sulawesi Selatan, terbangun.

Diawali pada masa kerjaan-kerjaan di Sulawesi Selatan khussnya Kerajaan Gowa – Tallo, dengan berbagai ritual pemujaan, karya sastra menjadi, hal yang menakjubkan, begitu pula dengan seni pertunjukkan (tari, musik dan teater), gaya arsitektur, dan seni lukis tadisi seni menjadi bagian integral dan sakral pada masyarakat. Disaat itu pula para sastrawan berkembang, begitu pula dengan hadirnya komonitas tari musik dalam mengiringi kegiatan ritual, pertunjukkan teater dalam gaya transfer kearifan lokal serta hiburan kerajaan. Disis lain kerajinan tangan dan gaya arsitektur menjadi tolak ukur dari perkembangan peradabaan dan melambangkan kelas sosial masyarakat.

Selain kegiatan sakral Kerajaan, kegiatan sosial masyarakat juga memberikan ruang pada masyarakat jelata untuk ikut serta dalam tradisi skaral, layaknya tarian permohonan hujan, tarian nyanyian saat panen. Tradisi lain sebagai kesenian masyarakat subtensi ikut melahirkan kesenian rakyat, dalam tarian, musik, teater, dan kerajinan tangan.

Setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis dalam tahun 1511 dan mengubah posisi Makassar sebagai kota terdepan yang diwadahi dengan Benteng Somba Opu, Panakkukan dan Ujung Pandang. Di abad XVI di bawah pemerintahan Raja Gowa Ke-9 Tuma Pa’risi kallonna, Soba opu dijadikan ibukota. Gebrakan besar terjadi, memasuki pemerintahaan Mangngarangi daeng Manrabia Sultan Alaudin Tumenanga ri Gaukanna sebagai Raja Gowa ke-14, ia menjadikan Gowa sebagai pusat kegiatan pemerintahaan, dan Somba opu sebagai pusat perniagaan dengan dunia luar, yang kemudian ikut memberi dampak pada kesenian di Makassar, Sebagai pusat perniagaan Makassar menjadi kota yang multikultur, karena didatangi dari berbagai pendatang dengan berbagai kebudayaan termasuk Hindu-Budhha dan Islam.

Namun yang paling mencolok ketika, 1605 Abdul Kadir Khalid Tunggal atau lebih dikenal dengan Dato ri Bandang, tiba di Makassar dan mengislamkan Raja beserta penduduknya. Disinilah akulturasi budaya, yang membentuk pergeseran pada semua sendi kehidupan di Makassar, termasuk pada kesenian.

1906 Makassar menjadi wilayah adiminstratif Pemerintahaan Hindia Belanda (Afdeeling Makassar), yang termasuk didalamnya : Gowa, Jeneponto, Takalar, Maros, Pangkajene dan kepulauan Pangkep. Kesenian menjadi alat hiburan yang laris manis untuk para bangsawan kerajaan dan orang-orang Belanda. Komonitas kesenianpun mendapat tempat tersendiri di hati para pendatang dan juga orang-orang Belanda. Terlebih ketika dilakukan politik etis, sehingga komonitas kesenian mendapat ruang untuk lebih mengekplorasi kreatifitasnya.

Penyerahaan kekuasaan oleh Belanda pada Jepang 8 maret 1942 di Indonesia, membuat Jepang mempunyai kuasa penuh dalam melakukan aksi pemboikotan semua aksi kesenian yang dapat mempropaganda. Namun aktifitas seni tidak sepenuhnya terhenti, ada yang bergerak sembunyi-sembunyi, dan beberapa kesenian dan ritual juga masih bisa berjalan sepenuhnya karena dianggap sebagai hiburan untuk para tentara dan petinggi tentara Jepang.

Setelah Jepang menyerah 15 Aggustus 1945 oleh sekutu, tiga hari setelahnya 17 agustus 1945 Indonesia memproklamirkan kemerdekan. Keseniaan menjadi salah satu dasar identitas negara, yang menjadi prioritas dalam pelestariannya. Tidak lama Provinsi Sulawesi Selatan dibentuk tahun 1964. Sebelumnya Sulawesi Selatan tergabung dengan Sulawesi Tenggara di dalam Provinsi Sulawesi Selatan-Tenggara. Pembentukan provinsi ini berlandaskan pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964.

Politik yang memanas terhadap segala perekonomian asing, menjadi agenda utama, namun unsur kesenian juga ikut menjadi agenda penting dalam propaganda. Yang dimana kesenian asing mulai memojokkan kesenian lokal, yang pada akhirnya Kelompok kesenian di Indonesia khusunya Sulawesi Selatan saling berdebat tentang pandangan kesenian dan pergerakan politik.

Hal ini semakin berujung di 1962, konflik ketuhanan pada partai komonis menjadi masalah besar pada Nahdatul Ulama. Organisasi kesenian terbesar di Indonesia juga ikut mengambil pilihan dalam perpolitikkan. Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) dari Partai Nasional Indonesia (PNI), Lembaga Seni Budaya Muslim Indoneia (Lesbumi) dari Nahdatul Ulama (NU). Memasuki masa kelam politik di Indonesia tepatnya 30 september 1965, terjadi gerakan pembrangsuan orang-orang beridologi komonis termasuk yang berpihak pada Komonis oleh Militer. Lekra di Sulawesi Selatan dan Makassar menjadi sasaran, begitupula pemipinnya Mahmuddin yang melarikan diri, setelah mendengar kabar, pergerakan militer.[10]

Penyerahaan kekuasaan 1966 menjadi langkah baru dan era ini diberi nama Soeharto sebagai Orde Baru. Orde Baru membuat kesenian mulai diorganisir secara universal, namun tetap dalam pengawasan militer. Beberapa pecinta kesenian dari militer ikut bergabung dalam lembaga kesenian.

]Organisasi kesenian yang masih bertahan memasuki Orde baru di Sulawesi selatan dan masih eksis hingga saat ini, yaitu : Yayasan Pendidikan Kesenian Anging Mammiri (YAMA) Sulsel. Yayasan ini telah berdiri sejak 27 Mei 1964, yang didirikan oleh Gubernur Sulsel pada waktu itu, HAA Rifai dan Drs HM Joesoef Madjid dan Drs A Tunru.[11] Dari itu terdapat pula Institut Kesenian Sulawesi (IKS), yang didirikan 1962 oleh Andi Sitti Nurhani, yang mana sebagai sarana propaganda untuk memberantas buta huruf di Sulawesi Selatan.[12]

Kedua Organisasi diatas dianggap belum cukup mewakili apa yang diinginkan Orde Baru, untuk itu,tepat pada 1 Juli 1969 diprakarsai Dewan Kesenian Makassar (DKM), sebagai lembaga yang bermitra penuh dengan Pemerintah daerah Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kota Makassar.

Pada 25 Juli 1969, 11 seniman Makassar, yang diantaranya : Matuladda, HB Mangemba, Arsal Alhasbi, Husni Djamaluddin, Aspar Paturussi, Rahman Arge, AH Mangemba, SA Jatimayid, MS Mallombasi, Djamaluddin Latief dan Hisbuldin Patunru . Turut hadir pula beberapa seniman dan budayawan Sulawesi Selatan, dalam perundingan program yang akan dijalankan di dalam “Kamar Pertemuan Seniman”.

Pembentukkan lembaga kesenian ini adalah salah satu upaya untuk turut berperan serta dalam pengembangan dan pembaharuan kembali kehidupan berkesenian dalam membangun kebudayaan nasional maupun lokal, sesuai tekad dan cita-cita Orde Baru (Orba), yang berlandas pada Pancasila dan Undang Undang dasar 1945.[13] Hal ini tidak lepas dari peralihan kekuasaan tahun 1966, yang kemudian ikut mengubah suhu politik di Indonesia.

Dari itu, alasan lain yang ikut mendorong kelahiran DKM, adalah bentuk kekecewaan dan perlawanaan para budayawan dan seniman non Lekra, terhadap Lembaga kebudayaan Rakyat (Lekra) Makassar, yang diduga sebagai organisasi sayap Partai Komonis Indonesia (PKI). Yang dalam perjalanannya di tahun 1950-1965, Lekra telah melakukan terror dan meronrong seniman dan budayawan yang tidak sependapat dengan pemahaman yang dianutnya.

 BAB III

Landasan Berdirinya Dewan Kesenian Makassar (DKM)

 

3.1. Struktur Organisasi Dan Tanggung Jawab Jabatan di DKM

`           Terbentuknya DKM 1 Juli 1969, menjadi landasan awal seniman Sulawesi Selatan, dalam usaha pelestarian kebudayaan lokal. Walau perkembangan zaman menjadi kendala pada kesenian tradisional, khususnya seni pertunjukkan, namun beberapa seni pertunjukan tradisional masih terus dilestarikan dan diperkenalkan pada publik sebagai media transfer Ilmu pengetahuan akan kearifan lokal yang menjadi sejarah besar dan identitas masyarakatnya.[14]

Sebagai Organisasi kesenian yang menjadi Mitra pemerintah, dan mendapat dana dari Anggaran Pembelanjaan Daerah (APBD). DKM harus mempunyai keabsahaan dan legalitas dimata hukum. Yang diantaranya memiliki anggaran dasar (AD) dan anggaran rumah tangga (ART) serta struktur organisasi dalam pertanggung jawaban organisasi.[15]

Organisasi Dewan Kesenian Makassar mempunyai struktur Organisasi yang diantaranya, Konferensi DKM sebagai Pemegang kedaulatan tertinggi Organisasi, dan bertugas untuk mengangkat Majelis Pembina DKM dan Anggota-anggota DKM. Konferensi DKM memiliki hak otoritas yang tidak dapat diganggu gugat, dan wewenang besar dalam roda organisasi.

Setingkat dibawah Konferensi DKM, terdapat Majelis Pembina DKM, yang bertugas untuk melegitimasi, dan memberhentikan Badan Pengurus Harian (BPH) DKM. Selain itu Majelis ini berwenang dalam memelihara dan menjaga martabat dan kerukunan DKM secara Internal dan eksternal, Menyusun Garis-Garis Besar Kebijakan DKM berdasarkan saran-saran dan aspirasi anggota didalam Konferensi, menampung dan menyalurkan saran dan aspirasi anggota DKM, berwewenang dalam mengangkat dan memberhentikan Badan pengurus Harian DKM sesuai kebutuhan Organisasi.

Dua tingkat dibawah Konferensi DKM, dan satu tingkat dibawah Majelis Pembina DKM, yang bertugas menjalankan roda organisasi adalah, Badan Pengurus Harian DKM Secara struktur terdiri dari pengurus Inti BPH DKM yang membawahi Departemen-departemen BPH DKM. Dan Bertugas untuk menjalankan Garis-Gsris Besar Kebijakan DKM, serta menjalankan fungsi dan tugas sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga DKM.

Seperti yang tertera pada bagan diatas, Selain Konferensi DKM, Majelis Pembina, dan Pengurus Harian, terdapat pula lima departemen yang dibawahi setiap ketua. Yang diantaranya Departemen Teater DKM, Departemen ini paling progres dalam menghasilkan karyanya, dan menjadi kekuatan utama dalam pengembangan kesenian. Departemen ini mempunyai tugas pokok sebagai berikut : (a) Mewujudkan dan menggali teater Daerah/tradisional Sulawesi Selatan dan menciptakan iklim berteater baik seniman kreatif maupun masyarakat teater; (b) Mewujudkan suatu teater yang berakar tunjang pada seni kehidupan rakyat dari berbagai nilai budaya dan sub-kultur di Sulawesi Selatan maupun Indonesia Timur dan Indonesia pada umumnya untuk menciptakan idiom teater baru Indonesia; (c) membantu pemerintah dan masyarakat untuk pembangunan manusia seutuhnya termasuk bidang cultural melalui karya teater; (e) Memperkenalkan dan memperkaya teater nasional Indonesia dengan member warna kultural Sulawesi Selatan dalam forum nasional dan internasional; (f) Bekerjasama dengan Tim Teaterawan Dunia yang ingin mengadakan pertunjukan di kota Makassar dan kota-kota Indonesia Timur lainnya.

Berikutnya adalah departemen Seni Tari, yang mempunyai empat tugas pokok, diantaranya : (a) Memelihara kelestarian seni budaya Sulawesi Selatan dalam seni tari tradisional: (b).Membimbing, memelihara dan merangsang daya cipta tari untuk menunjang kreatifitas senitari dengan menggunakan bahasa tari/gerak yang berakar pada nilai-nilai budaya Sulawesi Selatan dan Indonesia pada umumnya; (c) Mengadakan Pusat Latihan Tari baik tradisional maupun nasional; (d) Mengadakan lomba cipta tari untuk meningkatkan daya cipta tari (koreografi) yang berbobot nasional maupun modern lainnya.

Yang ketiga Departemen Seni Musik, dan mempunyai tugas pokok sebagai berikut : (a) Menginsafkan manusia dan kemanusiaan akan keindahan musiik sehungga masyarakat mendapatkan hiburan dalam menikmati keindahan music; (b) Menggalakkan dan mengkoordinasi kreatifitas seni music baik klasik, semi klasik, kontemporer, hiburan rakyat dan musik tradisional Sulawesi Selatan; (c) Membina para seniman musik dan masyarakat musik sehingga Dewan Kesenian Makassar menjadi pusat informasi kesenian dibidang musik.

Selanjutnya Departemen Seni Sastra, Departemen ini salah satu yang menjadi sangat produktif di tahun awal berdirinya DKM. Adapun tugas pokoknya : (a) Merangsang kreatifitas bagi seniman sastra Sulawesi Selatan baik dalam kepenyairan, novel, cerita pendek, esai, prosa dan lain-lain; (b) Mengadakan lomba,sayembara,diskusi,ceramah,pembacaan hasil karya sastra guna mencerdaskan bangsa lewat media sastra; (c) Mengadakan penerbitan buletin dan turut menyelenggarakan penyiaran sastra lewat RRI/TVRI Makassar; (d). Mengadakan pendokumentasian/penelitian karya-karya satra tradisional terutama folklore,mite dan sastra lisan lainnya serta karya-karya modern dan kontemporer lainnya; (e) Menggalakkan apresiasi sastra atau hasil karya sastra di kalangan generasi muda dan masyarakat luas.

Selanjutnya Departemen Seni Lukism atau Rupa, Departemen ini dikenal juga dikenal dengan seniman individual, karena kebanyakan karya seni rupa, hanya dilakukan seorang seniman. Adapun tugas pokoknya : (a) Menjadikan senirupa dan seni lukis di Sulawesi Selatan bertaraf Nasional secara konkrit; (b) Menjadikan kota Makassar sebagai pusat kegiatan senirupa/lukis yang representatife; (c) Mengadakan sarana dan pembinaan lingkungan senirupa/lukis; (d) Menciptakan iklim dan gairah dan pembinaan lingkungan senirupa/lukis dan pembinaan individu seniman-seniman kreatif senirupa/lukis; (e) Mengadakan pameran hasil-hasil karya senirupa/lukis dan benda-benda budaya lainnya di tingkat Profinsi, Nasional dan internasional; (f) Menjajaki kemungkinan pembentukan Akademi Senirupa dan Senilukis.

Dan yang terakhir yaitu, Departemen Pendidikan, departemen ini terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat yang ingin mengembangkan kreatifitas seninya, ataupun yang baru ingin belajar. Adapun tugas pokoknya : (a) Menyelenggarakan diskusi, workshop, seminar, dan ceramah tentang seluruh bidang kesenian dengan kerjasama semua departemen DKM dan tenaga-tenaga ahli kesenian/kebudayaan dari luar kota maupun dalam kota sendiri; (b) Menyelenggarakan usaha-usaha pendidikan formil maupun non-formil untuk seluruh kegiatan baik untuk tingkat dasar, menengah maupun akademi; (c) Untuk sementara waktu membuka Studi Teater DKM untuk tingkat dasar dan tingkat lanjutan.

Kemudian ditahun 1980, seiring dengan perkembangan Zaman, Perfileman menjadi laris manis dipasaran, dan memudarkan peran teater. DKM pun segera mengambil langkah untuk ikut dalam arus modernisasi ini, dengan dibentuknya Departemen Film dan Sinematografi, yang bertugas dalam pengembangan perfileman dan juga sebagai media dalam pembelajaraan.

Selain Tugas-tugas pokok tersebut terdapat pula tugas-tugas secar umum yang dimandatkan pada Badan Pengurus Harian DKM. Dengan berdasar pada program yang terarah, seimbang dan terpadu, yang bukan semata-mata pembinaan saja, melainkan terciptanya iklim kreatifitas yang memadai dan bermutu. Pembinaan selalu mempunyai dua target : (a) Pembinaan para seniman dan pembinaan publik; (b) Pembinaan prasarana fisik dan pembangunan material.

Yang juga tertuang dalam program kerja DKM Proyek Khusus, dan mengikut sertakan keterlibatan publik secara langsung dalam karyanya, yaitu dengan media massa atau ruangan-ruangan kebudayaan baik di surat-surat kabar dan majalah serta RRI dan TVRI. Selain itu dicanangkan pula Gerakan masuk kampung/desa dan kecamatan untuk seluruh kegiatan seni terutama dalam sosidrama dan lain-lain informasi pembangunan.

3 .II. Perbedaharaan DKM

Seperti yang telah dituliskan sebelumnya, bagaiman hubungan mitra antara DKM dan pemerintah setempat yang seiring sejalan, dalam melaksanakan kerja-kerja yang mengkhusus pada Departemen Pariwisata dan Budaya. Daqn sebagai Mitra dari Pemda dan Pemkot pembiayaan kegiatan ini sepenuhnya berasal dari bantuan Pemerintah Daerah Tk I Sulawesi Selatan melalui APBD..

Karena DKM bersifat sebagai fasilitator dalam pengembangan kreatifitas seni di Sulawesi Selatan, maka terdapat beberapa komonitas atau club yang beradaptasi didalamnya untuk mencapai tujuan bersama. Untuk itu Club Donor Keuangan ( seperti Kine Club, Film dan lain-lain) juga diperbolehkan dalam menyokong dana dalam merangkai sebuah kegiatan.

Dari itu pula DKM juga menjalani berbagai kerjasama dengan organisasi kesenian yang berada pada regioanl Sulawesi Selatan Maupun Nasional. Untuk itu Bantuan dana yang berasal dari kesepakatan bersama dua organisasi juga dijadikan sebagai sumber dana. lain. Diantaranya DHI. Badan Kordinasi Kesenian Nasional Indonesia (BKKNI), Sosiodrama Deppen, Taman Budaya, P&K Bidan Kesenian, Yayasan kesenian Anging Mammiri (Yama), dan Institut Kesenian Sulawesi (KSI).

Selain itu Pendanaan DKM didapat pula dari penjualan tiket pada saat pementasan[16], yang kemudian mendapat keuntungan, akan dijadikan sebagai kas untuk pendanaan aktifitas berikutnya. Namun pendanaan ini bersifat tidak menentu, tergantung antusias masyarakat pada saat itu.

DalamSetiap kegiataan yang dilaksanakan DKM memerlukan jutaan rupiah di massa-massa awal dan terus meninggkan seiring dengan peningkatan ekonomi masyarakat di Indonesia.

Kemitraan yang dibangun DKM dengan pemerintah memudahkan jalan dalam menggerakan organisasi yang menjadi tumpuan dalam pelestarian kesenian di Indonesia. Dan walhasil kerja-kerja DKM mencapai puncaknya di tahun 1970an, dengan berbagai prestasi lokal maupun nasional. Selain itu beberapa kegiatan di tahun 1970an menjadi kegiatan besar dan menghabiskan banyak dana. Salah satu diantaranya Tahun1974 Pegelaran kesenian Sulawesi Selatan Tenggara bersama KODAM VII Wirabuana.[17]

3.III. Sistem Keanggotaan dan Perekrutaan DKM

Keanggot1aan DKM didasari pada AD & ART yang menjadi landasan organisasi. Dalam Bab II mengenai Keanggotaan pada Pasal 2. Yang mana dijelaskan bahwa anggota DKM terdiri atas seniman dan budayawan yang dipilih dan ditetapkan oleh Konferensi DKM karena kegiatannya yang kreatif di dalam bidang kesenian tertentu.

Dari itu disebutkaqan pula, bahwa pencalonan anggota harus disetujui oleh sekurang-kurangnya 3 (tiga) anggota DKM dan diterima oleh Konferensi dan calon anggota harus menyetujui Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga DKM.

Sebagai Lembaga yang menjadi fasilitaor dan bukan tempat produksi kesenian, membuat DKM berhati-hati dalam merekrut anggota. Dan kebanyakan dari perekrutan ini, dilakukan lewat prosudur persuratan, yang berisi permintaan individu tersebut untuk bergabung pada DKM. Sebelum pemanggilan tersebut dilakukkan pengamatan mendalam, maksimal selama lima tahun individu tersebut memiliki karya yang tidak berhenti di eksplorasi.

Tapi bukan hanya merekrut seniman, tapi juga untuk masyarakat umum bergabung dan belajar bersama pada depatemen pendidikan. Dan bila mengalami kemajuan dan memberikan karya-karya yang berkualitas, maka akan dijadikan sebagai anggota DKM. “Walau sifatnya sukarela, namun menjadi kebanggaan tersendiri pada orang-orang yang bergabung dan menjadi anggota DKM, pada saat itu,” hal ini diungkapkan Fahmi Syarif sebagai anggota Teater DKM yang juga melihat antusias masyarakat dalam setiap kegiataan DKM. Dari itu pula dalam setiap pementasaan DKM yang mengundang decak kagum, selalu terdapat masyarakat yang ingin bergabung menjadi anggota DKM secara sukarela.

Adapun Hak dan Kewajiban Anggota Anggota DKM, mempunyai hak penuh dalam organisasi, yang man didalam pemilihan, yang mana ia dapat dipilih dan dapat memilih. Begitu pula dengan hak melakukan control yang disampaikan secara tertulis kepada Pengurus DKM melalui Majelis Pembina. Dalam artian, anggota DKM dapat melakukan kritikan terhadap BPH DKM melalui Majelis Pembina.

Selain itu Anggota DKM berkewajiban menjaga martabat dan kerukunan DKM baik ke dalam maupun ke luar, dan berkewajiban berperan serta dalam berbagi aktivitas DKM dengan jiwa dan semangat kebersamaan.

Untuk periode keanggotaan DKM Sendiri ditetapkan didalam Konferensi dan dapat diperpanjang, di pilih dan diangkat kembali untuk periode-periode berikutnya. Hal ini bila memenuhi syarat yang ditentukkan dan tidak mendapat sanksi-sanksi. Adapun sanksi Pelanggaran atas AD & ART serta tindakan-tindakan anggota yang merugikan martabat DKM dapat dikenakan sanksi berupa pemberhentian dari keanggotaan DKM.

Sedangkan untuk masa berakhirnya Keanggotaan DKM adalah: (a) Ketika anggota DKM telah.meninggal dunia; (b) Berhenti atas permintaan sendiri; (c) Gugur karena evaluasi anggota lain didalam Konferensi DKM; (d) Diberhentikan oleh Musyawarah Pengurus DKM yang diadakan khusus dan disetujui oleh dua-pertiga dari jumlah peserta. Anggota yang diberhentikan berhak membela diri didalam Konferensi DKM.

 

13.IV. Sarana dan Fasilitas Gedung Kesenian

Gedung Kesenian Makassar adalah sarana/wadah dan sebagi tempat berekspresi seluruh kreativitas seni dan budayawan Sulawesi Selatan yang pertanggungjawaban sepenuhnya diberikan kepada Dewan Kesenian Makassar tepat tanggal 7 Oktober 1969.[18] Adapun Gedung Kesenian DKM ini mempunyai Konsep dasar, Motivasi dan kejiwaan serta penyediaan Sarana Fisik seperti dibawah ini:

Didasari atas Konsep Dasar/Motivasi/Kejiwaan. Yang dimana kesenian dikota Makassar telah menjadi kebutuhan masyarakat baik sebagai hiburan maupun untuk memenuhi kebutuhan intelektual. Pada dasarnya kesenian di Makassar adalah seni tradisional daerah, seni modern dan kegiatan kontemporer lainnya.

Sedang kegiatan kesenian itu meliputi seluruh bidang kesenian baik teater, puisi, senitari, senilukis, senirupa, senimusik dan lain-lain. Kesenian di bagian lain juga merupakan ekspresi rakyat dan kadang-kadang merupakan hukum-adat mereka atau tatakrama hidup mereka. Namun tradisi menonton macam-macam kesenian ini masih memerlukan pembinaan terus-menerus sehingga para penonton itu lama kelamaan akan terbiasa menonton kesenian yang berstandar dan berguna bagi mereka. Masyarakat membutuhkan seniman dan seni dan sebaliknya tidaklah ada sebuah kota yang sempurna bila tidak mempunyai seniman, pelukis, pemahat, teaterawan, penyair, novelis pemikir seni dan kebudayaan. Tidak ada pula sebuah kota bila tidak memiliki sebuah Pusat Gedung Kesenian yang representatife.

Yang kedua berdasar pada kesenian tradisional daerah, yang terdapat dimana-mana dan kemunculannya boleh dikata sampai lima atau enam kali dalam setahun, itupun bila ada Festival kesenian Rakyat. Dalam kota Makassar penonton kesenian tradisional atau kesenian daerah maju pesat karena mungkin adanya kompetisi dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Kota Makassar adalah pusaran dari kompetisi itu dan merupakan stimulant bagi daerah-daerah untuk bertumbuh dan hidup. Makassar merupakan pusat yang dapat menampilkan kesenian rakyat dan seni tradisional.

Berikutnya, didasari pada Ekspresi Seni Modern dan Kontemporer, sekarang dalam pertumbuhan dan sangat menarik perhatian apalagi adanya kontak jenis macam pertunjukan ini dengan Pusat Kesenian Jakarta telah menambah semangat pula untuk berkembang dan bertumbuh. Lahirnya grup-grup kreativitas yang langsung digayomi oleh DKM diharapkan dapat membentuk grup-grup standard kreativitas yang dapat diandalkan. Kelompok kesenian baik tradisional maupun modern kontemporer didukung oleh organisasi-organisasi seniman yang mesti kuat landasan idealnya maupun wawasannya.

Gedung kesenian ini juga tidak lepas dari Konsumen seni dan kesenian yang masih harus di didikdan diharapkan untuk membayar dan ini masih terbatas sekali sehingga masih perlu bantuan biaya-biaya khusus untuk mengembangkan kesenian itu. Namun bila organisasi kesenian dapat mengangkat tema-tema cerita rakyat itu sendiri dan menghidupkan idola-idola mereka dalam kesenian maka hubungan spiritual pasti akan terjadi dan mengandung harapan yang baik begitu pula dengan tema-tema yang interessan bagi masyarakat sudah tentu pula perlu digarap dengan seksama sehingga semua kesenian itu berkembang denagan seksama, sehingga semua kesenian itu berkembang dan diterima oleh masyarakat lingkungannya. Seniman-seniman pahat dan senilukis dapat dikerahkan berikut dengan hasil-hasil kreativitasnya untuk mewarnai sudut-sudut dan lay-out sesuai dengan laju pembangunan.

Sementara itu seni komersil utamanya impresariat baik pula ditumbuhkan terutama untuk keperluan turis-turis dalam batas teretntu. Kota Makassar merupakan show-window bagi kesenian Sulawesi Selatan maupun Indonesia timur dan kesenian itu berguna bagi turis untuk lebih dahulu mengenal kesenian-kesenian daerah yang mereka akan kunjungi. Tidaklah sempurna bila turis itu tidak sempat menonton kesenian tradisional di Makassar.

Semua ini mengharuskan bagi DKM untuk menatanya sehingga dalam penataan ini perlulah Pusat Gedung Kesenian DKM yang benar-benar didasarkan pada suatu konsep organic yang ditunjang oleh kehidupan lingkungannya, sehingga merupakan arena medan pernyataan seni dari berbagai daerah dari berbagai organisasi seniman yang mantap dan berstandar, bermutu. Gedung Kesenian DKM tentu perlu dikelola dengan tekun dan mempunyai landasan-landasan ideal yang berdasarkan organic tadi, sehingga Pusat gedung Kesenian DKM mempunyai sarana fisik yang dapat diandalkan sesuai dengan konsep terpadu. Konsep itu merupakan tali pengikat keseluruhannya dan penterjemahan ideal itu dijadikan motif pertumbuhan kesenian. Pengaturan lay out mencakup landasan-landasan organic tadi, dimana dibutuhkan pengelolaan organisasi dan pengelolaan kreativitas yang berstandar dan bermutu.

Dengan demikian kesenian itu benar-benar hidup baik untuk kesenian tradisional maupun modern bahkan yang kontemporer lainnya.

Untuk itu dalam penyediaan sarana fisik dan penyelenggaraannya, maka akan didasari dengan dasar-dasar ideal dan pelaksanaan penterjemahannya di atas Gedung Kesenian DKM Makassar dapat disiapkan dalam bentuk penataan eksterior dan interior serta lay out yang dapat diatur sebagai berikut : (a) Teater Tertutup; (b) Teater Arena (terbuka); (c) Ruangan Seminar/Diskusi/Ceramah (d) Pusat Latihan Seni; (e) Bangunan Pameran Tetap (f) Bangunan Art Shop dan Art Galeri; (g) Kantor yang nyaman; (h) Ruangan Snack-Bar; (i) Penataan Eksterior dan Interior yang menggambarkan budaya Sulawesi Selatan.

 BAB IV

Dampak Sosial Yang diberikan Dewan Kesenian Makassar (DKM)

4 . 1. DKM Sebagai Mitra Pemerintah Melestarikan Kebudayaan

DKM yang dibentuk Oleh 11 Seniman terbaik Sulawesi Selatan. Diawali oleh kekecewaan, dan perbedaan pendapat antar seniman Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan NonLekra atau dalam beberapa buku sejarah, menyebutkan diri mereka sebagai seniman Universal. Lekra yang juga disebut sebagai organisasi sayap partai Komonis Indonesia. Mendominasinya partai komonis Indonesia dalam pemilihan umum 1955, dan memberi dampak bukan hanya pada percaturan politik nasional namun juga pada kesenian.

Masyarakat pun sangat simpatik dengan kerja serta orentasi Lekra Makassar, hal ini membuat kesenian Indonesia mulai didominasi oleh Lekra. Memasuki 1964, petarungan ideologi dan pemboikotan budaya serta kesenian asing memuncak. Dan sukarno sebagai hakim tertinggi dalam perkara politik ini harus memutuskan pilihannya.

Situasi nasional ini, jelas memberi dampak besar pada Sulawesi Selatan dan khsusunya Makassar, yang juga sebagai kota terdepan di Indonesia Timur. Makassar bergolak dengan aksi sepihak kelompok masyarakat, yang melakukan pemboikotan beberapa kegiatan kesenian, termasuk sinematografi, fasion, dan musik yang berganre asing atau lebih tepatnya Anti Amerika.

Kegiatan ini juga ikut memberangus beberapa organisasi yang tidak sepaham dengan yang dicanangkan Soekarno, untuk Anti terhadap Kebudayaan Amerika yang dianggap merusak identitas bangsa. Beberapa organisasi kesenianpun meredup seiring dengan dominasi Lekra dalam mengangkat kebudayaan lokal dan Nasional.

Pertarungan ditataran nasional Antara Manifesto kebudayaan (Manikebu) yang dituangkan oleh seniman Universal, yang menganggap Kesenian adalah suatu yang murni lahir dari kreatifitas dan bersifat universal, bukan terpengaruh pada politik, seperti Lekra yang dianggap menggunakan kesenian sebagai alat propaganda penghasutan, yang kemudian menggeser dari makna kesenian tersebut.

Layaknya situasi nasional, kota Makassar juga mengalami pertentangan yang sama diantara senimannya,. sehingga timbul batasan-batasan antar seniman. Hal ini terus berlanjut hingga di tahun 1965 yang mencampai puncak, setelah terjadinya peristiwa 30 September 1965, Dan Partai Komonis Indonesia yang tertuduh atas kejadian ini.

Kini situasi berbalik semua anggota dan mempunyai sangkut paut dengan Partai Komonis Indonesia menjadi target buruan militer yang dipimpin oleh Mayjen Soeharto. Kabar yang terjadi ditataran Nasional telah sampai ke Makassar terlebih dahulu sebelum militer bergerak., sehingga Mahmuddin, yang juga ketua Lekra Makassar dapat melarikan diri.

Memasuki 1966, terjadi Peralihan Kekuasaan oleh Soekarno kepada Soeharto, yang menimbulkan perubahaan arah politik. Kebudayaan asing bukan lagi sebagai musuh namun sebagai Mitra dan ikut membantu dalam pembangunan bangsa. Berbagai Bantuan materil dan penanaman modal asing mengubah perekonomian Nasional.

Trauma Gerakan 30 September (G30S) menjadi ketakutan terbesar masyarakat. Namun ketakutan masyarakat, malah menjadi ancaman terhadap hidupnya kembali gerakan yang akan merubah suhu politik. Dan salah satu yang menjadi fokus karena dianggap berbahaya dalam perkembangannya kedepan.. Seni yang bersifat liberal, adalah jalan terlemah pemerintahan demokrasi, Dan akan menjadi bomerang, untuk masuknya kembali ideologi yang telah dianggap musuh bangsa.

Untuk itu didalam membangkitkan kesenian dan mengkonter langsung kesenian yang tidak berpihak, maka diperlukannya, militer yang ikut aktif dalam berkesenian. Mendekati tahun 1970, beberapa militer sudah masuk dalam kordinasi kesenian layaknya Mayor Syamsuddin DL.[19]

Dan demi menjaga stabilitas politik, memasuki 1968, diberikan ruang wadah kembalinya para seniman yang tersingkir oleh Lekra dimasa lalu. Dan diwujudkan dalam lembaga yang disebut “Dewan Kesenian” yang sekarang menyebar diseluruh

provensi di Indonesia. Dewan Kesenian Jakarta menjadi yang pertama dibentuk di tahun 1968, kemudian dilanjutkan oleh Dewan Kesenian Makassar di tahun 1969.

Walau secara struktural Antara Dewan Kesenian disetiap daerah, tidak memiliki hubungan, namun setiap Dewan Kesenian mempunyai satu arah pendirian dan menjadi mitra berkesenian Pemerintah setempat.

Dalam menghadapi gempuran budaya asing yang menggerus budaya lokal DKM diharapkan dapat memberikan sumbangsinya dalam pelestarian dan pembaharuan terhadap kesenian lokal. Sebagai Mitra, Pemerintah Kota Makassar, tepatnya 7 oktober 1969 difasilitasi gedung kesenian oleh Walaikota Makassar, M. Dg. Patompo, dan baru diserahkan secara resmi setelah diprakarsainya.[20]

DKM kemudian menjadi lembaga kesenian yang terproduktif di Makassar, dengan dana yang terus dipasok demi mengembalikan kearifan lokal, dan menjadi garda terdepan dalam pelestarian kebudayaan. Memasukki tahun 1970 DKM mencapai puncak kejayaan. Hampir semua kegiatan hari besar dan kesenian yang berasal dari pemerintahaan, dikantongi DKM sebagai pengisi acara. Yang juga tidak pernah putus dalam 20 tahun awal DKM adalah, perayaan kemerdekaan Indonesia. Setiap 17 Aggustus penampilan budaya lokal dari DKM menjadi selingan hibutran, untuk kembali mengingat bagaimana phlawan-pahlawan Sulawesi Selatan berjuang untuk Kemerdekaan.

Yang paling mengagumkan, adalaha mendapat apresiasi di Jakarta saat 1970an dengan membawa karya putu wijaya dengan tema Madong, yang berasal dari Toraja. Bentangan kain merah dan latar cerita hidupnya kembali orang mati, membuat seakan penonton di Jakarta tak mampu berkata-kata, karena ketakjuban kesenian Sulawesi Selatan.

Ditahun yang sama pula DKM dan DKJ bekerja sama dalam membentuk dua lembaga pendidikan, yang disebut serbagai “Scool of Acting”. Lembaga ini dibawahi departemen teater.dan Lembaga pendidikan untuk Seni Rupa. Dalam perjalanannya Pementasaan dilakukan bergantian antara DKM dan DKJ untuk saling melestarikan dan perkenalan kebudayaan.

Memasuki Tahun 1974 DKM semakin mendapat tempat pada hati masyarakat. Karya-karya seni yang sifatnya tradisional maupun modrn mulai menjadi trandseter pemuda zaman itu. Kebanyakan pemuda-pemudi di Makassar ingin ikut bergabung bersama DKM. Namun dengan persyaratan dan seleksi yang ketat, membuat hanya beberapa pemuda dan pemudi yang dapat bergabung menjadi anggota DKM.

Melihat antusias masyarakat, Kodam 14 Hasanuddin yang dipanglimai oleh Hasa Slamet kemudain melakukan kerjasama dengan DKM untuk mengadakan pegelaran kesenian Sulawesi Selatan dan Tenggara. Dengan kemahiran DKM dalam mengolah seni lokal, membuat kegiatan ini dibanjiri pengunjung, dan bisa dikatakan sukses besar, bila dilihat antusias masyarakat.

Ditahun 1974 juga dilaksanakan kembali kegiatan besar di kotamadya Pare-pare., Dengan dukungan dana dari pemerintah setempat. DKM dan masyarakat Pare-pare mengadakan teater terbesar yang pernah terjadi di Sulawesi Serlatan.Bertemakan Teater Jalanan, para seniman dan warga berjalan sepanjang 2 Kilometer dan mempertunjukkan keahlian dalam beracting. Hal ini mengundang simpatik besar masyarakat yang kemudian berdiri dipinggir jalan untuk ikut menyaksikan sejarah yang terjadi. Tidak jarang pula ada masyarakat yang ikut dalam kerumunan dan ikut berjalanmenuju gedung olah raga Pare-pare.

DKM semakin mempunyai nama besar, sehingga hampir menjadi buah bibir masyarakat, bila ada pertunjukkan seni yang akan berlangsung. Salah satu yang berkesan, adalah seni pertunjukkan yang dilaksanakan pada saat Peresmian Benteng Somba Opu. Yang mana mempertontonkan kegagah beranian Sultan Hasanuddin. Puluhan kuda dan ratusan rakyat ikut berpartisifasi dalam teater ini, sehingga menjadi goresan sejarah terbaik DKM.

Memasukki Tahun 1980 awal hubungan kemitraan dengan pemerintah Daerah Sulawesi Selatan, maupun Kota Makassar mulai melonggar. Semua kegiatan DKM tidak lagi menggunakan dana pemerintahaan. Namun terputusnya hal teersebut tidak membuat DKM mati sebagai sebuah organisasi, namun tetap berkarya dengan dana seadaannya. DKM pun mulai membangun kembali jaringan yang pernah ada. Namun usaha itu hampir tidak mendapat gubris dari pemerintah.

Kini perbendahaaraan DKM lebih bertolak pada, Keuntungan tiket kegiataan, dan sumbangsi anggotanya. Walau tidak menentu hal itu bukan alasan bagi seniman yang ingin berjkarya. Layaknya tumbuhnya seni bukan karena dia seniman tapi adanya apresiasi terhadap kesenian.[21]

Memasuki 1985 Komonitas Sastra dan Teater (Kosaster) tumbuh didalam Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin. Kerja sama-pun dilakukan dalam usaha melestarikan dan membudayakan kearifan lokal sebagai landasan bersikap. Kerjasama ini kemudian mengembalikan eksistensi DKM.

Mel;alui mahasiswa yang penuh kreatifitas dan semangat juang, pesriapan setiap pertunjukkan dilakukan secara matang, dan konsisten.Layaknya dal;am mempertunjukkan teater, untuk menampilkan seni berkualitas, dibutuhkan 30 kali pertemuan sebelum pementasan. Pertemuan tersebut terdiri dari Penenalan cerita yang kemudian masuk pada pengenalan tokoh, berikutnya pemeran dikenalkan kepada karakter (watak), dan kemudian pada tingkatn tertinggi, yaitu mengenal peranan yang akan menjadi sepenuhnya diri kita.

Setelah itu setiap individu kemudian kembali melakukan Latihan berkelompok, yang mana dimulai pada latihan pencarian bentuk, kemudian setelah mendapat bentuk yang ingin disampaikan, maka pemeran harus bisa mengolah bentuk itu sehingga memberi kesan, dan landasan tertinggi disetiap aksi teater, memasuki unsur estetika.

Rangkaian latihan ini membawa DKM kembali mendapat peran pada kesenian lokal maupun nasional. Hal ini memberi angin segar, yang kemudian memberi dampak sosial untuk masyarakat kembali pada kearifan lokal, dan menjadi manusia Sulawesi Selatan.

4.II. Partisifasi dan Perubahaan Sosial Yang dibangun DKM

Kebudayaan pada masyarakat tidak lepas dari pola perilaku masyarakat dalam menciptakan karya seni. Hubungan ini terjadi secara alamiah yang membentuk suatu instrumen dari karya seni. Sehingga dalam pengaplikasian sebuah kegiatan seni, bukan hanya dibutuhkan oleh seniman tapi juga masyarakat. Agar menjadi satu kesatuan yang utuh terhadap sebuah penayammpaian kesenian.

Dikarenakan seni adalah produk jenis perilaku manusia yang khusus, penggunaan imajinasi secara kreatif untuk membantu kita menerangkan, memahami dan menikmati hidup. Seperti yang dilaksanakan pada Departemen seni Tari DKM, yang menari bukan sebagai seorang robot. Ia menari dengan imajinasi yang kreatif sesuai dengan penghayatannya terhadap pesan dan makna tarian itu. Tarian yang diperankannya membantu para penikmat seni untuk memahami dan menikmati hidup sesuai pesan dan makna tarian itu.

Contohnya ketika DKM meentaskan tarian Kipas Pakarena, yang merupakan kisah perpisahaan antara penghuni Boting Langi (negri kayangan) dengan penghuni Lino (Bumi). Kono sebelum berpisah penghuni Boting Langi sempat mengajarkan bagaiman cara menjalani hidup dengan bercocok tanam, berternak, dan berburu dengan gerakan tubuh. Yang kemudian gerakan tubuh tersebut dijadikan ritual sebagai ungkapan rasa syukur.

Tarian ini biasa dijadikan juga sebagai tarian untuk menyambut tamu, sekaligus memperkenalkan bagaiman identitas masyarakat yang subtensi di Sulawesi Selatan, yang menggunakan alam sebagai kehidupan namun harus dijaga dan dihargai sebagai suatu kesatuan bersama dengan manusia. Pesan sosial yang coba disampaikan mengenai pentingnya alam terhadap keberlangsungan hidup manusia.

Lebih rincinya kearipan lokal ini, terkandung pesan terhadap masyarakat bagaiman menjaga lingkungannya. Namun diperlukan proses kreatif senimannya, untuk memberikan olahan renungan intuisi. Sehingga kepekaan seni dan nurani kesenimanan ketika berhadapan dengan problematika masyarakat, persoalan hidup atau pun gugatan rasa religiusitas serta kejujuran untuk senantiasa setia pada nurani.

Untuk itu berkesenian berarti berproses kreatif dengan menggunakan intuisi, sebagai pengingat akan kearifal lokal dan budaya. Dari itu kesenian juga diartikan sebagai kritik sosial pada keadaan sosial dengan bahasa yang berbeda. Hal inlah yang coba diterapkan DKM dalam pengaplikasian keseniannya terhadap masyarakat. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bagaiman kemitraan DKM dengan pemerintah dalam membangun kearipan lokal, dan melestarikan kesenian lokal sebagai jalan menemukan identitas kita dalam berbangsa dan bermasyarakat.

Layaknya perlawanaan terhadap gerakan kesenian dan kebudayaan yang dianggap terpecah dan berlandas politik. Mulai dipertegas DKM dengan visi dan misi pemerintahaan yang berkuasa di Orba. DKM mulai membangun massanya, dan memberikan perlawananan terbuka terhadap ideologi yang berbeda dengan gaya pemikiran Orba. Kesepahamaan itu pun termaktub dalam anggaran dasar DKM, yang tidak memberi ruang adanya penyelewengan terhadap kerja-kerja kesenian dan kebudayaan yang disangkut pautkan dengan ideologi selain Pancasila ataupun yang mengarah pada politik partai.

DKM-pun memberikan banyak sumbangsi pada explorasi budaya pedalaman Sulawesi Selatan, pelestarian dan pembaharuan kebudayaan. Hal ini ikut mempengaruhi warga kota Makassar yang semakin heterogen dan kaya akan budaya. Belum lagi secara garis sosial dan budaya, masyarakat di Sulawesi Selatan sangat konsumtif terhadap hiburan,.sehingga program DKM selalu dinanti masyarakat Makassar. Kesuksesan DKM di pertengahan 1980-an, juga tidak lepas dengan akulturasi budaya asing yang coba diharmonikan dengan budaya dan kesenian di Makassar.

Antusias dari masyarakat yang terus meningkat dan mulai menjadikan kearifan lokal sebagai landasan bersikap dan berperilaku. Manjadikan kesenian yang dibawakan DKM, sebagai alasan mengapa seni tradisional terus bertahan dan harus dilestarikan.

Seperti yang sudah dibahas dalam sub bab sebelumnya, tentang bagaimana kegiatan yang melibatkan masyarakat memberi dampak besar pada tingkah dan perilaku masyarakat. Hal ini tidak lepas dari tahun 1969, di mana awal terbentuknya DKM sebagai penyelamat dan pelestari kesenian tradisional yang berlandas pada UUD 1945 dan Pancasila.

Pementasaan yang awalnya dilakukkan di Jl Irian No 69 yang tepatnya berada dekat dari Pasar Sentral Makassar. Menjadi tangga awal DKM memberikan informasi kepada masyarakat, bahwa menjadi orang Sulawesi Selatan adalah sebuah kebanggan yang harus dijunjung tinggi. Yang mana pada saat itu, terdapat gempuran kebudayaan asing maupun kebudayaan daerah lain yang coba mengambil peran untuk menjadi didaerah yang masih dalam pengembangan pasca kemerdekaan.

“Pada awalnya masyarakat hanya mengenal, kemudian beralih pada tahapan memahami, yang kemudian beralih pada bagaimana penanaman penciptaan apresiasi kesenian.”[22] Saat kesenian itu sudah menjadi trend di masyarakaat rasa kebangganpun terbangun pada masyarakat Makassar, dan dampak sosial yang diberikan DKM, melalui karya seni menjadi satu dan menjadi identitas.

Bukan hanya masyarakat hal ini juga didapat seniman, yang merasa banyak belajar tentang kehiduapan, melalui karya seninya sendiri ataupun karya seni yang menjadi warisan leluhur. Di tahun 1974 kegiatan DKM, Pemerintah dan masyarakat menjadi satu dalam rangkaian pegelaran, festifal rakyat. Penanaman ini disambut meriah masyarakat Sulawesi Selatan dan Tenggara pada Saat itu.

Begitu pula ketika memasuki tahun 1980, pertunjukkan seni sudah menjadi trend, yang diakulturasikan dengan budaya modrn. Sehingga tampilan seni yang terus berkembang memberikan wawasan berbeda terhadap masyarakat. Dengan majunya perkembangan kesenian yang dibawakan DKM, memberi kesadaran sosial untuk terus melestarikan kesenian traditional.

Ekspresi kebebasan berkesenian oleh seniman hanya tunduk pada satu perintah, yaitu hati nurani. Hati nurani selalu menyuarakan keikhlasan, kejujuran dan pengabdian. Keikhlasan adalah suatu keadaan atau kondisi yang sesuai dengan sikap dan perbuatan yang dilakukan dengan tulus hati, hati yang bersih dan jujur. Sikap dan perbuatan ikhlas mengandung unsur-unsur tanpa pamrih, tanpa mengharapkan balas jasa, dan dilakukan dengan sukarela. Bila salah satu dari ketiga unsur itu tidak terpenuhi dalam berkesenian maka tidak akan terwujud keikhlasan dalam berkesenian.[23]

BAB V

KESIMPULAN

Pada masa Purba, sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat saat itu, karya seni terjelma dalam lukisan jari-jari tangan dan hewan buruan dan simbol-simbol lainnya pada dinding-dinding gua. Simbol itu dimaksudkan untuk melambangkan kepercayaan dan sarana peribadatan masyarakat pada masa itu untuk berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Pada masa Hindu Budha, karya seni sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Hindu Budha, seperti tampak pada patung-patung yang terdapat di berbagai candi-candi yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia, seperti Bali dan kawa Tengah, yang menggambarkan para dewa dengan beberapa hiasan yang memiliki makna penting bagi masyarakat Hindu Budha, seperti Padma Teratai, Swatika, Kalamakara dan Kinnara.

Pada masa Islam, sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat yang sangat kental dengan nilai-nilai agama Islam maka lahir karya seni yang merefleksikan simbol-simbol dan nilai-nilai Islam. Contohnya, adalah kaligrafi yang terdapat pada berbagai iptek manusia, seperti belati, tombak, pedang dan panji-panji, pada bidang musik kita mengenal rebana yang identik dengan musik bernuansa Islam.

Masuknya bangsa Barat ke Indonesia juga mempengaruhi karya seni Indonesia. Masyarakat Indonesia mulai memasuki masa modern. Sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat maka seni yang berkembang adalah seni musik di samping berbagai jenis musik lainnya. Sumbangan nilai Barat terhadap seni masyarakat Indonesia adalah oktaf, ritme, dan nada, yang sering membawakan nilai-nilai kesetaraan, kemerdekaan dan kebebasan.

Dintinjau dari perkembangan seni, masa ini masyarakat Indonesia memasuki masa postmodern. Jenis dan bentuk seni terus mengalami perkembangan, eksperimen seni diadakan. Muncul seni kontemporer melengkapi seni yang sudah mapan. Seni post modern membawa struktur perasaan yang mencerminkan nilai-nilai masyarakat pendukungnya.

Karya seni adalah sarana seniman untuk mengkritik dan memperbaiki keadaan masyarakatnya. Namun tradisi tradisional tidak selamanya kuno dalam mengepresikan kesenian, dan malah menjadi lebih modern dari perkiraan manusia, karena ketidak sadaran manusia akan kesalahaan yang berulang di setiap massanya.

Berangkat dari Hal tersebut, Sistem kerajaan yang telah ada bera abad-abad di Sulawesi Selatan menjadikan kesenian dan ritualitas adalah bagian yang saling melengkapi. Yang menjadikan kesenian sebagai transformasi ilmu dan nilai luhur. Ketika Kemerdekaan kembali direbut Indonesia, ekspresi kesenian mulai kembali dijadikan sebagai landasan Identitas bangsa.

Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) dari Partai Nasional Indonesia (PNI), Lembaga Seni Budaya Muslim Indoneia (Lesbumi) dari Nahdatul Ulama (NU) menjadi bagian penting dari kemajuan dan pelestarian serta perlawanan terhadap budaya asing (Amerika Serikat). Gejolak politik yang terjadi di 1965, membuat lembaga-lembaga kesenian meredup, malahan ada yang menghilang.

Peralihan kekuasaan pada 1966 oleh Soekarno pada Soeharto, mengakibatkan berbalik arahnya politik Indonesia, begitu pula kesenian yang menentang kebudayaan asing harus membuka tangan kepada kebudayaan asing. Kepungan budaya asing, menyudutkan kebudayaan lokal yang dianggap tidak modrn. Untuk itu walau membuka tangan, pemerintah akhirnya sadar akan identitas kebudayaan lokal yang harus dipertahankan.

Kemitraan pemerintah lokal dalam pembentukan organisasi kesenian disetiap daerah mlahirkan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 1968, yang kemudian dilanjutakan Dewan Kesenian Makassar (DKM) pada 1969. Hal ini memberi angin segar pada kebudayaan lokal. Berbagai pertunjukkan kebudayaan mdibangkitkan demi menjaga kearifan lokal kedaerahaan.

DKM yang terbentuk memberikan perannya dalam pelestarian kesenian, bebragai kegiatan kesenian, mulai memberi dampak besar pada kehidupan sosial masyarakat Makassar. Kesenian tradisional menjadi trandseter dan media hiburan yang dinantikan.

Ditahun 1970an, organisasi ini mengalami puncak kejayaannya, dan berhasil dalam membangun identitas lokal, yang menguatkan identitas dalam bernegara. Pegelaran dan festifal kesenian DKM, menjadi tontonan wajib untuk dihadiri masyarakat Makassar. Dengan sokongan penuh dari pemerintah Daerah (Pemda) Sulawesi Selatan dan Pemerintah kota (Pemkot) Makassar, DKM menyuguhkan kembali kesenian lokal yang hampir ditinggalkan.

Hingga 1974, Pegelaraan seni Sulawesi Selatan dan Tenggara dan Teater jalanan di Pare-pare membuktikan kerinduan masyarakat akan kesenian lokal. Antusias masyarakat yang ingin bergabung pada DKM membuktikan dampak sosial, masyarakat telah kembali menemukan identitas kebudayaannya. Terlebih ketika masyarakat sudah kembali memakai topi pemiring untuk membangakan dirinya sebagai seorang yang berasal dari Sulawesi Selatan.

1980 Modernisasi semakin mempengaruhi budaya lokal, sehingga perbaruan kesenian yang dilakukkan DKM memberikan nilai baru kembalinya kesenian tradisional yang dimoderenkan, lewat film, ataupun alat musik yang digunakan. Perpaduan ini menjadi loncatan besar kesenian.

Hingga memasuki pertengahaan tahun 1980an, Pemerintah mulai lepas tangan dan menjadikan DKM sebagai lembaga yang independen secara anggaran. Seniman DKM tidak begitu saja jatuh namun terus berkarya sebagai seorang seniman sejati. Bagaimanapun juga, seniman adalah anggota suatu negara. Oleh karena itu seniman harus mengajak orang untuk mematuhi norma-norma yang berlaku di negaranya melalui karya-karya seninya.

Adapun pesan yang disampaikan penulis lebih kepada kebebasan berekspresi seniman harus digunakan dalam kerangka tanggung jawab mewujudkan kedamaian ketenteraman masyarakat, persatuan dan kesatuan serta kepatuhan pada norma-norma negara. Karya seni selayaknya selaras dengan nilai-nilai masyarakat, bangsa dan negara. Bila bertentangan maka karya seni itu akan mendapat reaksi yang tidak diharapkan dari masyarakat, bangsa dan pemerintah. Kebebasan berekspresi yang berlebihan tidak mengindahkan nilai-nilai masyarakat dan melahirkan perilaku anarkhis dalam wujud karya seni. Sebaliknya pengekangan terhadap kebebasan berekspresi seniman oleh negara akan menghambat lahirnya karya-karya seni sebagai hasil ekspresi olah pikir yang mengabdi pada hati nurani, kejujuran, dan keikhlasan. Terjadi pengekangan terhadap salah satu hak asasi manusia, yang pada akhirnya menghambat kemajuan masyarakat, bangsa dan negara. Yang dibutuhkan adalah kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab oleh seniman.

DAFTAR PUSTAKA

Arsip

Arsip Kotamadya Makassar, Nomor Regitrasi 2003

Arsip Kotamadya Makassar, Nomor Regitras 2013

Buku

Departemen Pendidikan Indonesia. 1996. Partisifasi Seniman Dalam Perjuangan Kemerdekaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Jakarta : Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional Direktorat Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Direktori Seni Pertunjukkan. 1999. Pertunjukkan Tradisonal. Indonesia: Masyarakat Seni Pertunjukkan Indonesia.

Folcher, Keith, 1986, Social Commitment in Literature and the Arts : the Indonesian “Institute of People’s Culture” 1950-1965, Victoria, Monash University Perss.

Haviland, W. 1999. Antropologi Jilid 2 Edisi keempat. (R.G. Soekadijo, Trans). Jakarta: Penerbit Erlangga (Buku asli diterbitkan 1985)

Hidayah, Z. 1999. Ensiklopedi Suku Bangsa Indonesia. Pustaka LP3ES Indonesia, Jakarta. p. 302.

Indonesian Heritage. 2002. Seni Pertunjukan. Jakarta: Buku Antar Bangsa untuk Grolier International, Inc.

Kasim, Achmad A. 2006. Mengenal Teater Tradisional di Indonesia, Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta.

Koentjaraningrat. 1999. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru.

Rijoatmojo, S. 1957. Ethnologie. Prapancha. Yogyakarta.

Louis, Gotschalk, 1973, Mengerti Sejarah, (Terj) Nugroho Notosusanto, Jakarta, UI Press.

Netriroza, 2008, Masyarakat Kesenian di Indonesia, Sumatera Utara : Studi Kultural Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.

Poelinggomang, Edwad L, 2004, Perubahaan Politik dan Hubungan Kekuasaan Makassar 1906-1942,Yogyakarta : Ombak.

Saleh M, Madjid, Abd. Hamid Rahmad, 2008, Pengantar Ilmu Sejarah, Makassar, Rayhan Intermedia.

Sedyawati, Edi., Sapardi Djoko Damono, 1991, Seni Masyarakat Indonesia : Bunga Rampai, Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Sedyawati, Edi. 2006. Budaya Indonesia, Kegiatan Arkeolog, Seni dan Sejarah. Jakarta: PT Raya Grafindo Persada.

Sen, Krisna. 2009. Kuasa Dalam Sinema. Yogyakarta : Ombak.

Supartono, Alexander, 2000, Lekra Vs Manikebu: Perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965. Jakarta : Skripsi STF Driyarkarya.

Takari, Muhammad., Frida Deliana Harahap., Fadlin., Torang Naiborhu., Arifni.

Wahid, Sugira. 2007. Manusia Makassar. Makassar : Pustaka Refleksi.

Yandianto.2004. Apresiasi Karya Sastra dan Pujangga Indonesia. Bandung : CV. M2S

Wawancara

Ketua Lekra Makassar 1965, Mahmuddin, 24 Maret 2013.

Seniman Sulawesi Selatan, Mantan Pengurus DKM 1982, Rahman Arge, 5 Febuari 2011.

Anggota Rombongan Teater DKM 1970, Fahmi Syarif 5 Aggustus 2013

Website

Andi Suruji. 4 Mei 2008. Menari Untuk Propaganda Buta Huruf. http://andi-suruji.blogspot.com/2007/11/andi-siti-nurhani.html. Diakses: 25 Juni 2013, Pukul 20: 55 Wita.

Anne Ahirah. Memahami Pengertian Seni Menurut Para Ahli. http://www.anneahira.com/pengertian-seni-menurut-para-ahli.htm, Diakses: 25 Juni 2013 Pukul 21.00 Wita

Hj St Sufaidahnur Joesoef Madjid SE. 4 Mei 2008. Pertahankan Tari Tradisional dari Terpaan Modernisasi. http://andyilhabhinuni.blogspot.com. Diakses: 25 Juni 2013, Pukul 20: 43 Wita.

Puri Maulina. 2 Mei 2013, Pukul 12 05 AM. Kesenian di Indonesia : Pengertian, Seni Rupa, Sastra, Pertunjukan, Perkembangan, dan Macam-macam. http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013/02/kesenian-di-indonesia-pengertian-seni-macam-macam-rupa-sastra-pertunjukan.html, Diakses: 6 Juni 2013 Pukul 22: 13 Wita.

Catatan Kaki

[1] Arsip Kotamadya Makassar, Nomor Registrasi 2003

[2] Arsip Kotamdya Makassar, Nomor Registrasi 2013

[3] Wawancara Mantan Ketua Lekra Makassar 1965, Mahmuddin, 24 maret 2013.

[4] Alexander Supartono, Lekra Vs Manikebu:perdebatan Kebudayaan Indonesia 1950-1965 (Jakarta: Skripsi STF Driyarkarya, 2000), hlm. 66

[5] Gotschalk Louis, Mengerti Sejarah, Terjemahan Nugroho Notosusanto, Jakarta: UI Press, 1973, hal.18.

[6] Madjid Saleh M dan Abd. Hamid Rahmad, Pengantar Ilmu Sejarah (Makassar: Rayhan Intermedia, 2008), hlm.53-54

[7] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Aksara Baru 1999, Hal

[8] Perpustakaan Cyber, 2 Mei 2013, Pukul 12 05 AM. Dalam : Kesenian di Indonesia : Pengertian, Seni Rupa, Sastra, Pertunjukan, Perkembangan, dan Macam-macam. http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013/02/kesenian-di-indonesia-pengertian-seni-macam-macam-rupa-sastra-pertunjukan.html, Diakses: 6 Juni 2013 Pukul 22: 13 Wita.

[9] Achmad A.Kasim, Mengenal Teater Tradisional Indonesia, Jakarta: Dewan Kesenian Jakarta, 2006, hal 1.

[10] Wawancara Mantan Ketua Lekra Makassar 1965, Mahmuddin, 24 Maret 2013.

[11] Blogger. Hj St Sufaidahnur Joesoef Madjid SE. 4 Mei 2008.Dalam : Pertahankan Tari Tradisional dari Terpaan Modernisasi. http://andyilhabhinuni.blogspot.com. Diakses: 25 Juni 2013, Pukul 20: 43 Wita.

[12] Blogger. Andi Suruji. 4 Mei 2008. Dalam: Menari Untuk Propaganda Buta Huruf. http://andi-suruji.blogspot.com/2007/11/andi-siti-nurhani.html. Diakses: 25 Juni 2013, Pukul 20: 55 Wita.

[13] Arsip Kotamdya Makassar, Nomor Registrasi 2013

[14] Wawancara : Rahman Arge, Pendiri DKM, 5 Febuari 2011, pukul 19:00 WITA.

[15] AD & ART DKM Terlampir.

[16] Menurut wawancara penulis dengan dengan Fahmi Syarif yang juga salah satu rombongan teater DKM pada tahun 1970an, bahwa harga tiket pada saat pertunjukkan mencapai Rp 500-Rp. 800.

[17] Wawancara : Fahmi Syarif, Anggota Rombongan Teater DKM. Tempat Ruangan DKM Kompleks Benteng Port Roterdam, Tanggal 5 Aggustus 2013. 16;30 WITA.

[18] Arsip Kotamadya Makassar, Nomor Registrasi 2003

[19] Wawancara : Rahman, Pendiri DKM, 5 Febuari 2011, pukul 19:00 WITA.

[20] Arsip Kotamadya Makassar, Nomor Registrasi 2003

[21] Wawancara : Fahmi Syarif, Anggota Rombongan Teater DKM. Tempat Ruangan DKM Kompleks Benteng Port Roterdam, Tanggal 5 Aggustus 2013. 16;30 WITA

[22] Ibid

[23] Perpustakaan Cyber, 2 Mei 2013, Pukul 12 05 AM. Dalam : Kesenian di Indonesia : Pengertian, Seni Rupa, Sastra, Pertunjukan, Perkembangan, dan Macam-macam. http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013/02/kesenian-di-indonesia-pengertian-seni-macam-macam-rupa-sastra-pertunjukan.html, Diakses: 6 Juni 2013 Pukul 22: 13 Wita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s