Menyusuri Sungai Mahakam dengan Menebas Kabut Asap (Bagian II)


Keramhan Penduduk Kota Bangun

Hutan rindang yang dihembus angin, seakan mengelus kelopak mata untuk terhempas dalam tidur. Namun tidak, kami mencoba bertahan untuk menikmati kesejukan itu, dan sedikit kembali mendiskusikan rute perjalanan kami. Marta kembali menengok di jendela, terpaku, dan tak berkedip menatap alam Borneo, setelah sekitar 10 menit terpaku pada tatapan kosong. Marta berbaring dipundak saya dan berkata, “mengapa pohon-pohon ini dapat tumbuh lebat dan indah”.

Tidak mampu menjawab pertanyaan itu, kami terdiam dan terlelap dalam kesejukan, hingga akhirnya tiba di terminal Sungai Kunjang, Samarinda. Setelah 2 jam perjalanan, kami terbangun oleh hentakan kaki para penumpang yang berbondong-bondong turun dari bus. Dalam posisi setengah sadar, kami terbangun dan bergegas untuk turun.

Langkah kaki pertama kami saat beranjak dari bus, memberikan kesan akan suasana gersang. Panas yang terik, dan perut yang masih kosong, kami melangkah menuju loket pembelian tiket menuju Kota Bangun, Kutai Kartanegara. Sukurlah Bus terakhir pukul 16.00 WITA belum berangkat. Setelah mendapatkan tiket seharga Rp.45.000, kami masih mempunyai waktu sekitar 30 menit untuk mengisi kampung tengah.

Kami tertarik oleh salah satu rumah makan kecil dipinggir jalan. Mempunyai empat kursi dan langsung berhadapan dengan jalan, disebelah kiri terdapat dapur kecil dengan wajan besar dipinggirnya. sambil menunggu menu makan siang, kami disuguhi hujan debu, akibat kendaraan yang berlalu-lalang. “Baru saja kita menikmati kesejukan alam, sekarang kita harus disuguhi hujan debu dan kabut asap dilangit-langit Samarinda,” tertawa bersama dan saya menjawab, “inilah Borneo, tidak semua sisi terlihat indah, layaknya yang berada digambar”.

Selesai Makan, kami menunggu di depan pintu Bus, kami bercerita tentang sedikit budaya local Indonesia, yang begitu tertarik mengabadikan moment bersama orang kulit putih. Dan saya pun menjawab, “inilah syndrome Barbie, terlalu banyak film Hollywood dalam kekosongan makna alur cerita. Kami hanya disuguhi indahnya tubuh putih semampai, mata biru dan rambut yang berwarna berbeda dari penduduk local. Selain itu prestisi mempunyai teman berkulit putih menjadi alasan mereka ingin berfoto. Namun abaikan omongkosong saya, dan jadilah orang yang ramah, sebagai pendatang”.

Tak lama berbicara, kernek bus memberitahu kami untuk segera masuk dalam bus, karena bus akan segera berangkat. Bus dengan ukuran ¾ yang dipenuhi oleh barang dan penumpang, membuat kami harus berdesakkan. Namun hal inilah yang membuat kami menikmati perjalanan kami, melihat budaya dan konsisi social yang terjadi. Keramahan penduduk didalam Bus, membuat kami mendapat satu kursi free.

Saya beranjak menuju kursi dibagian depan, dan meninggalkan Marta dibagian belakang. Disamping kursi ku, terdapat dua orang bocah yang asik merokok dan bercanda, didepan ku, ada ibu yang sedang mendiamkan anaknya, dan dibagian tengah bus terdapat beberapa barang bawaan yang tergeletak dilantai. Menurut tebakan saya, barang ini adalah oleh-oleh keluarga mereka, sepeda plastic, rak piriring dan beberapa alat masak.

Dalam perjalanan kota Bangun, Kami melihat beberapa pipa berukuran besar di tempat yang tinggi dan langsung terhudung ke sungai. Pipa yang mengantarkan berton-ton batu bara setiap harinya, menjadi hal yang baru bagi saya dan Marta, kami memandangi dengan penasaran cara kerjanya, namun belum menemukan jawaban, bila hanya melihatnya dari jalan poros. Untuk itu rasa penasaran ini, hanya kami simpan.

Penumpang lain tertidur lelap, dan bunyi dengkuran kadang terdengar dari arah belakang. Namun kami tetap menatap keluar jendela dan terus penasaran. Tidak lama berselang setelah melewati beberapa desa, Asap tebal muncul, dan menghambat kami untuk melaju lebih cepat. Terlihat jelas hutan yang hanya menyisahkan batang hitam yang rapuh dan abu bekas kebakaran.

10 menit melewati hutan bekas terbakar, hujan turun membasahi bumi. Kabut asap beranjak terkena hempasan angin, juga mengubah arah air hujan yang akhirnya masuk kedalam Bus. Semua penumpang serentak terbangun dan menutup jendela. Kini semua telihat kabur lewat balik jendela kaca yang berembun. Saya dan Marta kembali terlelap, diiringi music yang dimainkan alam melalui tetesan air hujan.

2 jam 30 menit, kami tiba di Kota Bangun. Saya dibangunkan 2 bocah disamping saya,”Bangun, kak, kita sudah tiba,” ungkapnya sambil tersenyum dan memegang bahu ku. Saya pun langsung mennegok kearah belakang, Marta masih terlelap, Marta melihat sekitar dan berujar, “Hujan telah redah, kita sekarng dikeliling rumah penduduk yang berada dipinggir sungai, mengagumkan”.

Kami turun dari bus dan melambaikan tangan untuk 2 bocah yang membangunkan saya. Kota Bangun, kami berada ditanah geografis mu. tampak kota ini memang sedang bangun, keramahan penduduk, tawaran makanan gratis, dan keantusiasan anak-anak yang sedang bermain, dan berlari mencoba mendekati Marta saat kami melintasinya, membuat kami terbangun akan keburukan kota tempat kami berasal.

Kami telah memesan hotel yang jaraknya 100m dari terminal. Dengan bantuan kernek bus, kami dapat melihat hotel yang kami tuju dari kejauhan. Berjalan mendekati hotel yang super murah, Rp45.000/malam. Dalam hati saya berkata, kami akan menjadi penduduk local sekarang, kami akan tidur di hotel bergaya arsitektur local, bertingkat dua, berwarna putih, walau agak sedikit kotor, namun terlihat nyaman.

Kami masuk memperkenalkan diri pada petugas hotel, yang kemudian mengantar kami ke-kamar. Dua ranjang yang cukup nyaman dan teras bagian belakang yang langsung terhubung dengan pemandangan sungai. Setelah petugas meninggalkan kami, kami menghempaskan bawaan kami, dan lompat menuju ranjang masing-masing.

Beristirahat dan bercanda sekitar 15 menit, kemudian kami bergantian memasuki ruang mandi yang berada di luar ruangan kamar. Setelah menyegarkan diri dari sengatan sinar matahari seharian, kami beranjak menuju teras dan kembali berbincang dan menunggu bintang muncul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s