Menyusuri Sungai Mahakam dengan Menebas Kabut Asap (Bagian III)


Cahaya pagi Kota Bangun, bersiap menyusuri sungai Mahakam

Malam Begitu larut, rasa lelah tidak mampu mengalahkan perut yang masih keroncongan. Setelah terdiam beberapa saat menikmati pancaran bulan yang terpantul di sungai Mahakam, dan beberapa kapal yang masih berlalu lalang. Kami pun sepakat berjalan mengintari kota bangun, mencari jajanan lokal.

Kota bangun terasa lebih hidup dimalam hari, Terdapat beberapa grup ibu-ibu yang sedang bercanda dan tertawa bersama didepan penjual kelontongan, anak muda yang berkumpul dengan memainkan music lewat gitar, dan para pria yang berkumpul setelah menyusuri sungai demi sesuap nasi. Semua terasa begitu asing, namun begitu menyenangkan.

Sekitar 30 menit berjalan mengintari Kota Bangun, kami tidak menemukan satu-pun warung dengan jajanan local. Agak aneh, karena budaya melayu begitu kental didaerah ini, namun kuliner yang banyak di sekitar jalan, adalah jajanan dari pulau jawa.  kami memutuskan untuk menyambangi warung yang beratapkan tenda berwarna biru, dan para koki yang sibuk menyiapkan hidangan untuk konsumennya. Tampaknya makanan yang disuguhkan cukup nikmat, untuk dicoba dan mengisi kampong tengah.

Kami duduk dikursi berwarna hijau, saling berhadapan, didepan kami terdapat sebuah taperware berukuran besar berisi kerupuk. Hal tersebut cukup mengangggu pandangan kami saat berbincang. Marta pun mendorongnya kesamping pojok meja. Tidak lama menyandarkan punggung, seorang pelayan berjalan mendekat, “pesan apa?”. Kami berdiskusi, sambil melihat menu yang tertempel di dinding. Spontan Marta berujar, “Mie Goreng!,” dan saya melanjutkannya dengan kata, “Nasi Goreng mas!”. Dengan senyum ramah, dia menganggukan kepala dan dengan segera mempersiapkan pesanan kami.

Sambil menunggu, kami kembali memperjelas rencana perjalanan. Untuk itu, saya melakukan panggilan pada Pak Udin, yang juga supir perahu yang akan kami tumpangi, memperjelas rute perjalanan di hari pertama sesuai dengan kesepakatan,”Dari Kota Bangun kalian akan saya jemput, kemudian kita akan menuju Muara Muntai. Disana kalian bisa berjalan disekitar pasar dan melihat para nelayan dan kehiduppan local masyarakat. Setelah itu kita akan menuju  dilanjutkan ke Danau Semayang, di sana kalian akan bertemu, teman saya yang juga supir mobil rental,dia akan memandu perjalanan melalu darat melalui Danau Jempang, dan dilanjutkan ke Lamin Mancong,”. Kami pun sepakat, dan menutup sambungan telpone.

Sementara ingin menjelaskan rute perjalanan pada Marta, lewat peta rute yang kami telah buat dan kesepakan dengan Pak Udin. Hidangan yang kami pesan telah tiba dan diletakaan di atas meja. Saatnya untuk makan malam. Aroma dan asap tipis yang keluar dari makanan, semakin membuat kami kelaparan. untuk memulai melahap hidangan, saya-pun  mengungkapkan “Bon appétit,“ dalam Bahasa francis yang berarti selamat makan, dan dibalas dengan ungkapan yang sama, sebagai tanda, untuk memulai melahap makanan.

Setelah mengisi kampung tengah, kami beranjak kembali ke kamar hotel. Marta membuka kamar dan kami menghempaskan badan pada ranjang masing-masing. Setelah beberapa saat saya kembali pada posisi duduk. Membuka tas dan mengeluarkan peta, dan menyapa Marta, ’’ok, sekarang kita membahas rencana rute perjalanan,’’Marta langsung kembali pada posisi duduk, dan mata agak sayup, memaksakan diri untuk bergerak. Saya menjelaskan Rute kami sesuai dengan hasil pembicaraan dengan pak udin. Jari saya menunjuk pada peta, dan sesekali melihat ke arah Marta.

Marta tidak berbicara dan hanya mengangguk, dan menyimak dalam keadaan kurang kosensentrasi. Untuk itu, saya segera sudahi penjelasan saya dan memintanya untuk segera beristirahat. Waktu menunjukan pukul 10.00PM, suhu panas yang naik dari arus sungai, membuat Marta menyalakan kipas angin yang berada didekatnya. Dan melanjutkan arah tangan yang lemah lunglainya, sedikit ke arah atas kearah tombol lampu yang berada ditembok.

Kami tidur layaknya batu yang tidak bergerak, dan terbangun saat kumandang adzan subuh sekitar pukul 4.30am. kami terlalu malas untuk bergerak, hingga alaram alami dari Koko-kan ayam kembali terdengar dan tak berhenti. Marta bangun dan membuka jendela, diluar masih terlihat agak gelap dan angin disubuh hari cukup dingin, belum ada tanda matahari akan muncul, namun asap bercampur kabut cukup pekat. Marta kembali menarik saya dari kasur yang cukup nyaman, untuk mencari kopi. ‘’Adnan, ayo kita keluar menantikan sunrise dengan segelas kopi,’’ ungkapnya.

Saya  pun, mau tidak mau bergerak dari kasur nyaman yang menghangatkan tubuh ku. Dia mengangkat saya layaknya seorang bayi, dan beberapa kali menggelitik perut ku dengan tangannya. ‘’Baiklah, ayo kita kebagian bawah hotel, saya rasa mereka menjual kopi’’. Kami turun kebawah, dan menanyakan kopi, pada penjaga hotel yang bersembunyi dikegelapan ruangan. Langkanya sempoyongan keluar dari kegelapan, saat wajahnya terkena cahaya lampu, terlihat laki-laki yang berumur, rambutnya beruban, dan kulitnya yang sudah keriput. Iya menyapu mukanya dengan tanganya, dan meminta kami menunggu, untuk segelas kopi.

Kami duduk didepan teras hotel, dan menunggu kopi dan juga sunrise. Pandangan kami tidak bisa terlalu jauh, kabut dan asap menutupi sebagian besar kota. Sesekali menutup mulut dan hidung, bila aromanya mulai menusuk. Namun canddan pagi tidak boleh dilewatkan. Kami sedikit bercanda tentang bagaimana bila kita bertemu buaya di sungai Mahakam. Dan saya menjawab, ‘’berarti kita beruntung dapat melihat binatang tersebut dan dapat mengabadikan momentnya. Dan kamu ?,’’ ungkap ku. ‘’saya akan mendorong mu, ke sungai untuk berfoto bersama, dengan tawanya’’.

Tidak lama bercanda, cahaya kecil muncul dari langit. Matahari 25 september 2015, mulai bergerak, cahayanya kemudian merengsek masuk kedalam hotel, sangat menghangatkan pagi kami. Kami terdiam sejenak dalam kesunyian Kota Bangun, dang menghirup panjang udara segar pagi. Tidak lama saya menengok ke arah jam tangan saya, sudah hampir pukul 6.00am. Para nelayan dan masyarakat mulai ramai terlihat berlalu lalalang. Kami kembali ke kamar, dan bersiap untuk berangkat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s