Menyusuri Sungai Mahakam dengan Menebas Kabut Asap (Bagian IV)


Siagakan Kamera dalam perjalanan menuju Muara Muntai

Matahari bergerak cepat pagi itu, seiring seirama dengan adrenaline kami yang terus meningkat untuk menyapa Sungai Mahakam. Cahaya dipermukaan air tampak berkelap kelip, diringi dengan gelombang kapal yang berlalu lalang. Asap yang menyelimuti sungai tidak menghalangi beraneka macam burung berterbangan memantau mangsanya. Sesekali patuk atau kakinya menyetuh sungai untuk menerkam mangsanya. Backpack yang sudah siap dipunggung saya semakin mengetat, diiringi napas panjang untuk memulai petualangan.

Kami bergegas turun kebagaian bawah hotel, disana menunggu wanita yang sudah berumur 50an, dan menyapa pagi kami. “Pagi ?, sudah mau berangkat yah?”. Saya mengangguk dan berujar “iya, bu”. Kami memberikan kunci kamar dan membayar bill tagihan hotel sebesar Rp.45.000/malam. Kami pun berpamitan, dan mengucapkan terima kasih. Sesuai dengan kesepakatan, kami menunggu Pak Udin dipinggir jalan depan Hotel.

Tidak lama berselang Pak udin, dengan baju berwarna gelap, yang muncul dari pekatnya kabut asap dari kejauhan, datang mendekat dan menyapa.”Adnan dan Marta yaa?”. Kami menyapa balik dengan senyum sambil berjabat tangan. Tidak banyak berbasa-basi, Pak Udin memperjelas rute tour kami (rute perjalanan dapat dibaca ditulisan sebelumnya), dan biaya penyewaan kapalnya selama 3 hari sebesar Rp3.000.000. Kami berdiskusi sebentar tentang rute, dan melakukan penawaran harga karena akan hanya menggunakan kapal untuk 2 hari, dan pada akhirnya berhasil mencapai kesepakatan diangka Rp2.500.000.

Kabut asap mulai bergerak ke atas kami dan tampak menipis, jalan di Kota Bangun sudah nampak jelas. Kami pun diantar menuju Kapal ketinting Pak Udin. Kami harus melewati jalan sempit untuk menuju bibir sungai, dan dilanjutkan dengan menuruni tangga kayu panjang, yang lebarnya hanya 30cm dengan sudut kemiringan sekitar 30°.

Kapal berwarna Hijau, dengan tulisan Taxi yang berkapasitas untuk 6 orang berada dibibir sungai, sudah siap untuk mengantar kami. Kami menyimpan tas Kami di bagian belakang dan duduk dibagian depan. Mesin kapal pun dinyalakan, dan siap mengarungi sungai Mahakam. Sekitar 100m setelah kapal bergeraksekumpulan burung bangau berterbangan melintasi kami. Mereka seakan menyambut hangat perjalanan yang kami lakukan. “Mereka menyambut kita, mereka bersahabat dengan manusian, mereka tidak takut terbang begitu dekat dengan manusia,” ungkap Marta.

Setelah sambutan hangat tersebut, Kami siap dengan senjata kami untuk mengabadika setiap moment yang akan kami lalui. Dua Kamera, dengan berbeda pabrikan, meneropong kiri dan kanan kapal. Sekedar tips, bila kawan-kawan membawa kamera pada perjalanan dan membawa lensa standart dan Tele, sebaiknya lensa tele anda yang terpasang, bukan hanya dikarenakan jarak objek yang cukup jauh. Namun juga untuk informasi yang diberikan gambar anda lebih mudah dimengerti. Hal ini kebanyakan saya lakukan untuk mengambil gambar hewan-hewan yang berkeliaran desekitar sungai, atau pun pemandangan yang memuat satu informasi penting. Namun bila anda ingin menapilkan pemandangan secara utuh akan keindahaan alam, maka gunakanlah lensa standart anda.

Beberapa hasil jepretan sayadalam perjalanan menuju Muara Muntai.

DSC_0102 DSC_0137 DSC_0506 DSC_0818 DSC_1158 DSC_1239 DSC_0149 DSC_1287

 

Kami kembali dihadapkan dengan Situasi yang berbeda dengan kota, yang mana kami menggunakan kendaraan darat sebagai transportasi utama. Namun bagi masyarakat yang bermukim di sekitar sungai mahakan, transportasi air menjadi transportasi utama, layaknya kapal katinting. Beberapa kali kami mlintasi kapal ketinting yang mengangkut barang, makanan ataupun penumpang. Takjubnya lagi kami, adalah keramahan dan budaya local yang masih dipertahankan. Yaitu bertegur sapa saat kapal saling berpapasan.”dibeberapa daerah, bertegur sapa mengenal atau tidak mengenal sudah hilang, namun disini kehidupan sosial itu  masih bertahan, dan inilah bentuk realisasi nyata mengapa kta disebut mahluk social, dan bukan robot atau zombie,” ungkap Marta.

Selain itu, kami juga melihat rumah ditepian sungai mahkam, Gaya arsitektur rumah dan cara bermukim masyarakat juga agak berbeda, dengan beberapa tempat lain di Indonesia. Mereka menggunakan rumah panggung yang agak minimalis, agak susah membedakan bagian belakang rumah dan bagian depanya, dikarenakan mereka selalu mempunyai teras dikedua tempat tersebut. Bagian belakang untuk beraktifitas disungai dan bagian depan untuk beraktifitas didarat. Dibagian belakan rumah tampak didominasi oleh wanita yang sedang mencuci, mandi, ataupun memilah ikan hasil tangkapan. Sesekali mereka menengok dan tersenyum memandangi kami yang sibuk mengabadikan moment.

Tidak berapa lama, kami memasuki daerah yang layaknya sepi penduduk dan dipenuhi hutan lebat khas Borneo. Beberapa binatang seperti bekantan, monyet dan beraneka jenis burung tampak beraktifitas bebas, tanpa takut akan kehadiran manusia. Namun jangan terlalu dekat, karena mereka pastinya akan lari karena insting bertahan yang dimilikinya. Namun yang kami tunggu untuk muncul, belum juga nampak. Kamera kami siap untuk ikan pesut yang katanya agak mirip lumba-lumba dan bergerak cepat di sungai. namun sayang hingga tiba di Muara Muntai kami tidak mendapati satu pun pesut beratraksi.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s