Menyusuri Sungai Mahakam dengan Menebas Kabut Asap (Bagian V)


Pasar Muara Muntai, dan Nikmatnya Soto Banjar

Tiba di Muara Muntai, setelah 2 jam duduk diatas perahu. Rasa pegal dipinggul begitu terasa, apalagi ketika kami berdiri, dan melangkah turun dari kapal. Namun semangat menyusuri Muara Muntai lebih besar dari pegal yang kami rasakan.”vamos,” kata Marta, yang berarti “Ayo” . Didepan kami menanti papan kayu dengan lebar 30cm, hampir sama seperti yang kami lalui saat pertama kali menaiki kapal. Namun kali ini papan yang digunakan lebih panjang, dan bergoyang. Marta meraih tangan saya dan memegang erat, kelihatanya dia begitu khwatir akan ketinggian.

Tiba diujung jalan, tampak keramaian dari pedagang lokal yang sibuk melayani konsumennya. Kami keluar dari salah satu lorong pasar. Dan tiba-tiba seakan pasar berhenti beraktifitas dan semua mata tertuju kepada kami. Namun dengan senyum ramah kami berhasil membunuh kekakuan tersebut. dengan santai kami berjalan mengintari pasar, beberapa anak yang bermain disekitar pasar mulai meneriakan “hello” pada Marta. Mereka mulai mengikuti kami dari belakang, dan menunjukan beberapa tempat menarik dari pasar tesebut.

Kami ditunjukkan buah berwarna kuning kecil, dan satu lagi adalah buah yang bersisik seperti sirsak, namun berwarna ungu. Kami diminta oleh penjual buah tersebut, untuk mencobanya secara gratis. Ketika menyentuh lidah ku, rasa asem bercampur manis terasa hingga kesela-sela gigi ku. Karena kurang menyukai rasanya kami tidak membelinya.

Kemudian kami kembali berjalan mengintari pasar, tidak jauh dari berjalan beberapa penjual sayur disebelah kanan kami, tampak sibuk dengan pelangganya. Mereka menawar harga, dan penjual sayur coba meyakinkan harga yang meningkat, diakibatkan dolar yang naik, entah pernyataan itu bercanda atau serius.  Dissisi lain terlihat penjual tas & pakaian, yang begitu ramai dikunjungi, mungkin dikarenakan idul adha yang sudah dekat.

Dan marta pun Bertanya akan hal tersebut,”Saya tidak terlalu yakin, tapi sepengetahuan saya. Sebelumnya saya harus mulai dari dua hari besar Islam, yang pertama Idul Fitri yang berarti kembali suci dan bersih dari dosa-dosa, dihari ini orang muslim kembali lahir lagi layaknya seorang bayi yang tidak berdosa. Kemudian Idul Adha  yang juga hari pengorbanan, dan berbagi pada yang membutuhkan. Dan ketika pedagang islam melakukan penyebaran agama Islam di Indonesia, dan menjelaskan tentang hari besar Ini. Bisa jadi hal ini ditapsirkan berbeda oleh penduduk lokal, atau mungkin pedagang menggunakan hal ini sebagai strategi perdagangan untuk menjual barang-barang bawaannya. Yang kemudian dibenak kami orang Indonesia, kedua hari suci ini adalah hari kami menjadi manusia baru, dan sebaiknya dihari ini meggunakan pakaian yang baru, untuk menyimbolkan, kami lahir sebagai manusia baru,” Kata ku, sesuai batang pengetahuan ku.

Matahari sudah berada tepat diatas kami, rasa panas begitu menyengat, dan membuat kami begitu mudah berkeringat. Lalu kami menemukan sebuah warung yang berada disebelah kanan jalan, spanduk besar didepannya bertuliskan “Soto Banjar”. Tidak sabar untuk mencoba makanan khas Kalimantan, Marta pun masuk dan aku mengikuti dibelakangnya. Didalam seorang wanita melihat kami, dan dengan spontan saya berkata “Soto banjarnya dua yaa bu”.  Sambil menunggu, kami mengambil minuman dingin yang tersedia dikulkas bagian belakan warung. “Panas ini, saya rasa salah satu bentuk pemanasan global, penebangan pohon, dan pertambangan,” kata Marta. Dan kusambung dengan kata, “saya rasa begitu”.

Tidak lama kemudian, makanan yang kami pesan datang. Dibagian atas, terdapat telur, taburan bawang goreng, perkedel kentang dan potongan kecil ayam, dibawahnya terdapat bihun dan lontong. Dari tampakanya saja sudah sangat mengiurkan. Tanpa melakukan sapaan selamat makan, kami langsung melahap makanan. Dan dalam sekejap, mangkuk kami telah kosong, tidak tersisa. Begitu kenyang, lelah, ditambah angin sepoi-sepoi kipas angin, waktu yang tepat untuk tidur. Namun rasa kantuk ku pergi, ketika Marta memandangi ku dengan menarik kulit di ujung matanya, membuatnya layaknya orang cina bermata sipit. “Ok, ayo kita kembali ke kapal dan melanjutkan perjalanan,” tandas ku sambil tertawa.

Tiba di jalan sempit yang saya ceritakan sebelumnya, Saya mengulurkan tangan pada Marta, dan disambutnya, dengan pegangan erat, sehingga sedikit menyumbat aliran darah saya ke ujung-ujung jari. Sampai dibawah, pak Udin, sudah siap diatas kapal dengan tersenyum dan mengatakan, “siap”. Kami masuk dikapal dengan perlahan, dan ketika kami sudah pada posisi tempur dengan kamera di tangan, saya menjawab “Ok, pak Udin”.

Kini kami menuju Kawasan Danau Melintang, Semayang dan Jempang. Namun sayangnya kami kurang beruntung karena danau tersebut kering akibat kemarau panjang. Untuk itu pak udin menyarankan untuk datang disekitar akhir bulan desember hingga febuari, bila ingin melihat keindahannya. Namun karena kami akan menuju Lamin Moncong, maka kami akan tetap melewati danau yang kering tersebut.

DSC_1236

DSC_0803

DSC_0699

DSC_0691

DSC_0680

DSC_0667

DSC_0540

DSC_0063

 Diperjalanan ini, kami melihat sekumpulan monyet berwana hitam bergantungan di pohon, beberapa kapal yang menarik bukit-bukit batu bara dibelakangnya, dan nelayan dengan jalanya. Cukup menarik, namun beberapa tempat yang kami lalu hanya hutan belantara dengan pohon-pohon yang baru kami lihat.  Karena kebosanan, dan rasa kantuk yang tadinya melanda datang kembali, saya menyandarkan kepala saya di bahu Marta, dan Marta ikut menyandarkan kepalanya diatas kepala saya. sekitar 2 ½ jam kami mengintari sungai dan tibalah kami desa Konohan. Dan siap melanjutkan perjalanan menuju Lamin Moncong. Perjalanan Kami semakin seru, jadi jangan lewatkan cerita selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s