Menyusuri Sungai Mahakam dengan Menebas Kabut Asap (Bagian VI)


Padang Panjang tak berujung dan Pelukan Perpisahaan Seorang Sahabat

Sekumpulan orang berkumpul ditempat kami menepikan perahu. Mereka mendiskusikan kemarau panjang yang mengeringkan Danau Melintang, Semayang dan Jempang. Danau yang menghidupi sebagain besar penduduk sekitar, hanya tinggal padang lapang yang tak berujung. Kami turun dengan tapakan kaki pertama dilumpur yang dalamnya hingga mata kaki. Disana telah menunggu kerabat Pak udin, yang akan menjadi pemandu kami dalam petualangan di daratan Borneo.

Setelah bertegur sapa, Pemandu kami, menunjukan sebuah mobil pick up, yang penuh dengan lumpur. Matahari sudah agak menyingkir ke Barat, Kami dengan segera menyimpan tas kami dibagian belakang, dan bersepakat akan bertemu Pak udin esok hari sekitar pukul 7.00 pagi untuk menuju Melak. Kami naik dibagian belakang pick up, dan kembali mengengam kamera kami. Untuk moment tidak terduga di daratan Borneo.

Mobil berjalan lambat awalnya, akibat kondisi tanah yang agak lembek. Tubuh kami beguncang dan bergoyang mengikuti irama lekukan tanah, layaknya sedang berada di pesta lajang. Dikiri kanan kami rumput liar yang tinggi menghalau jarak pandang, sehingga tidak banyak moment yang kami bisa tangkap. Namun setelah berjalan sekitar 20 menit, mobil akhirnya masuk kecepatan normal. Tanah yang terangkat oleh putaran ban mobil menjadi serpihan berwarna kuning, dan menyelimuti bagian belakang. Hingga akhirnya kami memasuki hamparan tanah yang tak tampak ujungnya.

“Ini menakjubkan, saya kira kemarau akan membuat kita kehilangan gambar menakjubkan dari tiga danau besar, namun tidak kenyataanya,” ungkap Marta. Tampak kabut asap tipis dipadang panjang ini, dan ada beberapa sinar cahaya yang masuk lewat celah kabut. Selain itu, rumput yang begitu hijau dan agak lebih pendek memberikan kami cakrawala tak berujung akan keindahan alam Borneo. Sekitar satu jam perjalnan, kami telah menyinggahi dua pos yang dibuat masyarakat sekitar, agar kami tidak tersesat.

Tidak lama setelah melewati Pos penjagaan terakhir, kami melewati jembatan panjang yang agak Rapuh. Agak menyeramkan, namun inilah petualangan yang kami tunggu, petualangan yang dapat meningkatkan adrenaline. Pemandangan disini tidak kalah menarik, terdapat sekumpulan bangau nampak dari kejauhan, sedang bersantai dipinggir sungai yang nyaris tidak berair. Disisi lain beberapa kapal ketitnting terdampar, seakan menunggu kemarau berakhir agar dapat beroperasi kembali. Nampak pula beberapa masyarakat lokal, yang saya duga sedang mencari ikan di salah satu kolam yang airnya masih lebih ber-volume dari aliran sungainya.

Setelah melewati jembatan, kami memasuki sebuah desa yang agak sepi. Karena hampir semua rumah pintunya tertutup, dan tidak satupun orang yang terlihat berada didepan rumah atau berlalu lalang, selayaknya pada umumnya. Setelah itu, kami melewati beberapa tanyakan curam, dan kiri-kanan kami, hanya terlihat batang pohon yang telah terbakar. Saya sempat, batuk-batuk akibat debu dan asap yang bercampur, Untuk menghidari ganguan pernapasan saya menggunakan masker.

Hingga akhirnya kami tiba di Lamin Moncong, mobil berhenti didepan lingkarang patung seukuran boneka berbie yang melingkar menggambarkan sebuah ceremony. Mengagumkan karya seni patung dari kayu ini. Tidak lama melangkah, patung yang seukuran anak berumur 8 tahun, berjejer didepan rumah traditional dari kayu ulin, beberapa patung tidak asing dengan pakaian adat khas beberapa daerah lain di Indonesia.

Hari semakin gelap, kami tidak bisa berlama-lama didaerah ini. Dan harus langsung berangkat menuju hotel. Sekitar tiga puluh menit perjalanan, akhirnya kami tiba dihotel dengan gaya arsitektur lokal, yang juga memiliki banyak patung ukir dari kayu didepanya. Sewa hotel disini, kalau saya tidak salah ingat sebesar Rp120.000. Setelah menyimpan barang, kami kembali keluar untuk mengisi kampong tengah. Kembali kami menikmati soto banjar, di warung yang tidak jauh dari hotel.

Energi yang pulih setelah makan siang yang agak telat, kami gunakan untuk berjalan mengintari desa tersebut. Kami menemukan beberapa patung unik di salah satu gereja yang mengakulturasikan budaya lokal dan ajaran agama. “Hal ini cukup menarik, bagaimana penyebaran agama dilakukan dengan akuturasi budaya, agar lebih mudah diserap dan dimengerti,” ungkap ku pada Marta yang sibuk mengabadikan semua patung yang berada di gereja.

Setelah mengintari desa, kami kembali ke Hotel, dan duduk di bagian belakang sambil melihat pemandangan sore. Kami sedikit keasikan bercanda gurau, hingga tidak terasa kami sudah berada dalam gelapnya malam. Untuk mempersiapkan stamina untuk esok hari, kami beristirahat lebih cepat hari ini.

PAgi tiba diiringi suara kokokan ayam, saya terbangun dan membuat dua gelas kopi untuk kami berdua. Marta masih tidur ketika saya bangun dan memeriksa rute perjalanan. Tidak lama dia bangun dan bertanya tentang rute hari ini. “Baiklah, kita akan kembali ke pelabuhan kecil didesa Konohan, dan langsung menuju melak, sekitar 4 jam perjalanan,” kata ku sambil menunjuk peta.

Kamipun bergegas, dan tidak sempat menikmati kopi pagi itu. Kerabat pak udin dengan mobil Xenia putih sudah menunggu diluar. Sekitar 2 jam kami berkendara menuju lokasi awal. Setibanya disana, kami diberikan waktu sekitar 30 menit untuk mengintari desa Konohan. Dan pak udin akan menunggu disisi lain Desa dengan kapalnya.

Waktu yang singkat harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Kami melihat banyak orang menggunakan tutup kepal layaknya Viet cong di Vietnam. Namun disini mereka memiliki banyak motiv dan warna, sehingga lebih seperti gaya hidup daripada bentuk perlawanan di Vietnam. “Warna-warni topi mereka sangat menarik, saya ingin mencobanya,” ungkap Marta. Sayapun meminjam salah satu topi dari penduduk lokal dan mengambil gambar Marta yang layaknya penduduk Lokal.

Tida puluh menit telah berlalu, kami kembali ke kapal, dan langsung menuju Melak. Perjalanan panjang menuju melak, kami tempuh sekitar 4 jam. Namun kami singgah dibeberapa tempat yang saya tidak tau namanya, untuk mencari pesut Mahakam, namun hingga kami tiba di Melak. Tidak satupun pesut Mahakam yang menampakan diri.

DSC_0855

DSC_0859

DSC_0886

DSC_0937

DSC_0958

DSC_0964

DSC_0975

DSC_0999

DSC_1038

DSC_1051

DSC_1177

DSC_1183

Sore itu, pelabuhan Melak tampak sepi. Saat itu pula kami harus mengucapkan selamat tinggal pada pak Udin yang telah mengantar kami mengelilingi sungai Mahakam. Sesuai Kesepakatan Kami membayar Rp.2.500.000 dan beranjak mencari hotel untuk malam ini. Untuk teman-teman yang ingin berlayar di sungai Mahakam dapat menghubungi Pak Udin di Nomor 085250733351.

Setelah mendaptkan hotel kecil dengan tarif Rp 50.000, yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan Melak. kami kemudian menuju pelabuhan untuk mencari info kapal menuju Samarinda. Kapal akan berangkat esok sore sekitar pukul 6, dengan waktu perjalanan 8 jam. Setelah mendaptkan info tersebut, kami kemudian mencari makanan, dan berjalan mengintari Melak. Tidak banyak hal menarik di Kota Ini, hanya toko kelontongan yang berjejer.

Pagi tiba begitu cepat Hari ini, Kami bergegas untuk menuju taman bunga yang menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari tempat kami saat ini. Namun karena susahnya mencari kendaraan, kami membatalkan keberangkatan, dan hanya nongkrong di Hotel dan beristirahat, banyak canda tawa hari itu. Yang semakin membuat kami dekat sebagai seorang teman.

Matahari mulai redup, awan hitam datang menutupi seluruh Melak, mendung terjadi sekitar 30 menit, dan semua orang seakan berharap hujan turun dengan segera. Hingga akhirnya hujan membasahi jalan-jalan Melak, bau menyengat campuran debu, hujan dan panas begitu terasa. Kami masuk ke kamar hotel dan segera berkemas. Waktu telah menunjukkan 5.30 sore, hujan sudah redah saat kami meninggalkan hotel.

Tiba di pelabuhan, kapal berwarna hijau putih, berukuran setengah kapal feri telah bersandar. Kami segera kesana, membeli 2 tiket perjalanan ke Kota Samarinda. Tempat tidur dibagian atas kapal berjejer begitu rapi. Kami mengambil posisi bersampingan, lalu keluar di deck bagian belakang kapal untuk bersantai, sekaligus mengambil beberapa gambar menarik, diantara kabut asap dan kabut hujan yang masih menutupi pandangan.

Bell kapal sudah berbunyi panjang, tanda kapal akan segera meninggalkan pelabuhan. Penumpang berbondong naik, dan bersantai ditempat masing-masing. Lampu-lampu mulai dinyalakan disekitar rumah penduduk, nampak indah dengan warna warni yang berkelap-kelip. Kami menghabiskan malam dengan bercanda tentang cerita masa lalu yang kami alami. Hingga akhirnya udara semakin menusuk tulang, dan kami  harus masuk dalam selimut untuk menghangatkan diri.

Cahaya yang keluar dari jendela di pagi hari membangunkan saya dan Marta. Sekitar pukul 10.00 pagi kami tiba di Samarinda, dan langsung menumpangi Bus menuju Balikpapan. Tidak ada yang istimewa dalam jalan pulang kami, hanya ungkapan kesedihan bercampur kegembiraan akan perpisahaan kami. Kami berpisah dibandara Sepinggan Balikpapan, yang juga menandakan petualangan yang telah selesai selama 4 hari berada di Sungai Makaham. “Tahun depan saya akan datang lagi, dan kita akan mencari petualangan baru ditempat lain di Indonesia,” ungkpanya sambil memeluk ku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s