Jakarta Dalam Bingkai Imgrasi dan Modernisasi


Riuh pengunjung, berlalu-lalang di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Dalam keramaian, saya memasuki celah-celah, kadang menyengol, kadang tersenggol. Namun semuanya tiba-tiba berhenti tanpa suara, adrenaline yang mengalir ditubuh saya, begitu terasa memasuki setiap pembulu darah dan mengirimkan pesan ke otak. Dua buah backpack yang berada di bagian depan dan belakang tubuh saya terasa begitu ringan.

 HIngga tanpa terasa, saya tiba diloket check in, dan semua imajinasi saya hilang. Antrian panjang dan kerusakan system jaringan dari Sriwijaya Air, memaksa para kru-nya untuk melakukan laporan secara manual. Saya tertahan satu setengah jam diantrian yang tidak bergerak, sekitar 20 menit atau 13.20 WITA harusnya pesawat saya berangkat, namun hal ini tampak mustahil.

Hingga akhirnya di lima menit sebelum keberangkatan tiba giliran saya, seakan berburu dengan waktu saya berlari menuju Gate 2 sesuai yang tertulis pada tiket saya. Setibanya saya disana, ternyata pesawat kembali dialihkan di Gate 3. Berlari layaknya seorang pencuri yang dikejar massa. Didepan saya salah satu kru sudah sibuk melambaikan tangan dan mengarahkan penumpang. Hingga akhirnya saya tiba didalam pesawat.

Namun malangnya, pesawat masih menunggu penumpang yang masih melakukan check in. sekitar 40 menit dan akhirnya pesawat berangkat menuju Jakarta. Agak sedikit lega, saatnya bertemu Anabel M atau yang saya panggil dengan sebutan Ana, yang juga teman backpacker saya.  Dia akan tiba satu jam sebelum saya. (Untuk lebih jelas siapa Ana, anda dapat membaca tulisan sebelumnya dengan judul “Memanjakan diri di Lembah Loe, Sulawesi Selatan”).

Setelah 2 jam 10 menit perjalanan akhirnya saya tiba di Jakarta. Kota yang pernah bernama Batavia, selalu menjadi Kota terpadat dan tersibuk di Indonesia. Aktifitas ekonomi dan pemerintahan yang berpusat  di kota ini, begitu terasa ketika saya tiba. Semua terasa begitu cepat, dan tampak terburu-buru.”Waktu adalah uang,” itu yang dikatakan Ana.

Saya kemudian bertemu dengan dan Ana yang telah menunggu tidak jauh dari terminal kedatangan B1. Tanpa terlalu banyak basa-basi kami langsung menuju seberang jalan, yang telah menunggu Bus Damri untuk mengantarkan anda ketempat tujuan Anda.  Saat itu saya menuju Stasiun Gambir, dibutuhkan 30 menit untuk sampai kesana, dengan diaya Rp.40.000.  Tiba di Stasiun Gambir, saya kembali ke jalan Raya dan mencari Taxi, tapi anda juga bisa menggunakan Bajai dengan harga yang sama Rp.40.000. Menuju Jl Kotabumi disekitar Tanah Abang, kami tersendat macet dan kami memutuskan untuk berjalan kaki sekitar 500 meter.

Akhirnya kami sampai di Hotel Residence 100, Fasilitas standar dengan harga lemayan murah, Rp. 400.000 untuk dua hari. Yang jelasnya kami memilih tempat ini, karena berada di pusat kota, sehingga semua lebih mudah terjangkau dengan berjalan kaki.

Hujan membasahi kota Jakarta, air yang membasahi jendela ruangan kami, membuat kota ini terlihat menarik dengan warna warni layaknya pelangi. Namun aktifitas tidak berhenti diluar sana, semua orang terlihat tetap sibuk, shuttle bus way Jakarta tampak penuh dengan orang yang berdesakan. Kemudian kami sedikit berdiskusi, tentang bagaimana penduduk lokal yang terpinggirkan oleh kemajuan dan migrasi yang membawa modernisasi. “Mungkin hal ini serupa dengan apa yang terjadi pada suku Indian (Nama yang diberikan Colombus untuk penduduk lokal benua Amerika, karena colombus mengira pulau yang dilihatnya adalah India), mereka tidak pernah punya pilihan untuk bisa maju dan mengikuti arus modernisasi. Karena mereka tidak akan bisa setara secara kemampuan dan pengetahuan dengan pendatang yang membawa visi besar untuk membangun daerahnya,” Jelas Ana. Untuk itu, kesempatan yang sama akan membantu apa yang selalu di isukan sebagai masyarakat yang termarginalkan.

DSC_0707

Malam semakin larut, hujan telah meneteskan tetesan terakhirnya lima menit lalu, hanya meninggalkan genangan air dibeberapa tempat di pinggir jalan dan tetesan air yang jatuh dari jendela yang masih lembab. Kami tertidur lelap malam itu, seakan waktu berlalu begitu cepat, matahari pagi melalui celah jendela membangunkan kami.

“Good Morning Ana,” ungkap ku. Kami bangun dan siap memulai pagi dengan menulis artikel. Suasana tenang, dan kadang diselipkan tawa ketika kami saling berpandang. Siang hari kami istirahat sejenak, dan menikmai santap siang di salah satu warung dekat dari Hotel, cukup murah hanya dengan Rp. 24.000, kami sudah bisa makan nasi campur dan minum es teh. Dan kembali ke Hotel untuk melanjutkan beberapa pekerjaan sebelum menuju Kota tua. Kami sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan Jakarta, namun inilah titik awal perjalanan kami, sebelum sampai di titik akhir timur pulau Jawa.

Menggunakan kopaja no 15, dengan membayar Rp.4000, kami tiba di kota Tua, salah satu tempat nongkrong pemuda Jakarta. Banyak aktivitas menarik disekitaran Kot tua. Beberapa orang yang berdiskusi, komonitas sepeda ontel yang berjejer, dan  segerombolan orang yang menggunakan kostum tokoh favorite, entah itu anime atau super Hero yang tidak saya kenal, berlalu-lalang layaknya sedang ada festival ditempat ini. Kemudian saya memutuskan untuk duduk di Café dengan live music.

Memesan kopi yang harganya cukup mahal bagi saya, yang hanya meminum kopi dengan harga Rp.2500. Namun kali ini Ana yang mentraktir saya, jadi tidak terlalu khwatir tentang merogok kocek dari kantong saya. Kami mendengarkan lantunan music dari The Smith dan The Cure yang dimainkan, cukup mengaggumkan karena dua band tersebut adalah kesukaan kami. Langit mulai tampak gelap, dan kami segera bergegas kembali, karena esok pagi kami akan bergegas menuju Bandung, kota dengan sebutan Paris Van Java.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s