Menikmati indahnya Pantai Bara, Hingga menyusuri Kebudayaan lokal Desa Kajang


Angin sepoi-sepoi, meraba kulit yang hampir hangus terbakar, terlihat jelas jejeran pohon kelapa melambaikan daunya dipinggir jalan. Tidak terasa empat jam perjalanan, telah membawa saya sampai di pelabuhan Bulukumba. saya terhengak sejenak, ketika melihat kapal pinisi yang sementara dalam pembangunan. Tidak menyangka kapal yang juga menjadi logo Sulawesi Selatan, begitu besar, layaknya kapal perang yang digunakan Jack Sparrow, pada film Pirates of the Caribbean.

Namun sebelum melanjutkan cerita Backacker saya di daerah Bulukumba. Saya menyarankan bagi teman-teman  Jangan lupa membeli bensin, karena Anda tidak akan menemukan Pompa bensin (Pertamina) disekitar pelabuhan hingga Pantai Bara. Begitu pula air tawar, janganlupa membawa air tawar atau membelinya sesuai kebutuhan anda, karena akan sangat mahal harganya bila telah masuk daerah pelabuhan maupun di Pantai Bara.

Kembali kecerita awal, tanpa berpikir panjang, saya langsung mendekat, dan melihat langsung cara pembuatan kapal tersebut. Tinggi kapal saya perkirakan hampir 10 meter, dan lebar sekitar 7 meter. Hal ini tidak mungkin terlewatkan oleh kamera saya. Untuk itu beberapa gambar dari galangan kapal menjadi objek yang sangat fantastis bagi saya, yang baru pertama melihatnya.

Setelah mengambil beberapa gambar, seorang pria pekerja kapal datang mendekat, cahaya matahari yang begitu dekat ketika berada disekitar pantai, menyinari kulit pak tua, yang sudah keriput. Dengan memegang topi yang ada dikepalanya, dia mulai bercerita tentang silsilah keluarganya yang sudah 5 generasi menjadi pengerajin kapal pinisi.

DSC_0340

Kapal pinisi, yang awalnya hanya dibuat untuk kebutuhan mencari nafkah dilaut, kini mulai dikomersialkan, menjadi kapal bersantai untuk para konglomerat. “Pemilik perusahaan ini, kalau saya tidak salah dari Malaysia. Kami hanya membuat kapal pesanan ini dengan jangka waktu 9-12 bulan, dan dijual sekitar 2 milyar rupiah,” ungkapnya

Agak kaget ketika, mendengar, karya budaya bangsa dikomersilkan oleh orang dari negri Jiran. Tapi apa mau dikata, namanya juga bisnis. Menurut hemat saya, di-era Kapitalisme, siapa yang berani, bermodal dan punya visi yang jelas, dia yang akan memegang control. Jadi jangan salahkan Malaysia, kalau esok hari mereka  meng-klaim Kapal kebanggan orang Sulawesi dan Indonesia pada umumnya.

Matahari semakin menyingsi ke Barat. Saya harus segera bergegas, menuju Pantai Bara sebelum gelap. Lokasinya sendiri berseblahan dengan Patai Bira, yang sangat populer. Namun bedanya Pantai Bara, masih agak sunyi dari pengunjung, dan keindahannya, menurut saya melebihi Panatai Bira. Tiba di loket karcis, saya harus membayar Rp.10.000/orang, sedangkan untuk turis mancanegara harus membayar Rp.30.000.

Setelah Melawati loket, anda akan menemukan pembelokan pertama dengan lorong kecil disebelah kanan. Setelah sekitar 300 meter berkendara, Anda akan melewati bar-bar kecil, dikiri dan kanan jalan. Dari sana Anda hanya perlu berkendara sekitar 500 meter lagi untuk sampai di Pantai Bara.

DSC_0130

Sekali lagi saya takjub melihat keindahan yang ditawarkan Bulukumba. Pantai berpasir putih Bersih, dengan jejeran pohon kelapa, dan dikelilingi bukit-bukit bebatuan. Ketika pertama kali menginjakan kaki disana, saya masih ingat, Beberapa monyet yang berlarian dipinggir pantai, burung-burung yang berkeliaran mencari mangsa, dan Siput-siput berjalan memenuhi pinggiran pantai. Tidak nampak satu pun pengunjung yang ingin menginjakan kakinya ditempat ini. Beberapa hotel, memang berjejer dipinggir pantai, namun tampak sepi, hanya beberapa turis asing yang duduk di teras hotel.

DSC_0090

Cahaya Matahari semakin redup membelakangi pantai. Saya bergegas memabgnun tenda dipinggir pantai, menyiapkan makan malam, dan bersantai membaca buku serambi memdengar kicauan burung dihutan yang berada tepat dibelakang saya. Setelah semua tersedia, saya melanjutkaan makan malam dan menunggu beberapa potret menakjubkan malam hari.

Namun tubuh saya sudah begitu lelah seharian ini. Sehingga malam itu saya tidur sebelum terlalu larut malam. Pagi hari sekitar pukul lima, saya terbangun oleh endusan anjing yang berada disekitar tenda. Namun ketika saya keluar dari tenda, langit nampak kuning disebelah kiri saya, beruntungnya saya dibangunkan disaat moment sunrise sudah dekat.

DSC_0007

Udara pagi itu begitu segar, serambi memasak air, saya mendengarkan music rock 80-90an, serambi menyiapkan kamera untuk mengabadikan moment ini. Saat air panas mendidih, saya mulai menyeduh kopi lokal Sulawesi Selatan yang berasal dari Enrekang, ketika diseduh baunya begitu menyengat dihidung, dan ketika diminum rasa cokelat bercampur pahit begitu memanjakan lidah.

DSC_0130

Warna kuning pantulan Matahari kini menyebar layaknya api disekitar langit di belakang bukit sebelah barat saya. Sekitar 30 menit saya terdiam dalam pikiran dan tindakan, hanya tatapan kosong menuju matahari, dan merasakan cahaya dan kehangatannya. Sentuhan awal diujung kaki saya, membuat saya begitu damai, hingga akhirnya merata diseluruh tubuh saya, inilah yang saya istilahkan sebagai “pelukan tuhan”.

DSC_0007

Tidak lama, kapal berukuran kecil berlabuh, dan beberapa orang mulai muncul membawa alat selam, penasaran. Saya datang mendekat dan bertanya berapa harga untuk bisa ikut menyelam, “untuk warga lokal cukup Rp300.000,tapi minimal 5 orang” ungkap Parman. Beberapa situs yang saya baca, menyatakan keindahaan bawah laut disekitar Bulukumba cukup menakjubkan dan menarik untuk pemula.

DSC_0004

Siang hari, saya memanjakan diri diatas hammock dengan buku “The litigator” tulisan John grisham. Beberap wisatawan asing mulai keluar dari hotel, berjemur disepanjang pantai. Tidak ada yang begitu menarik siang itu, hingga senja datang. Saya menuju salah satu bar yang menghadap pantai, disana sudah ada beberapa turis asing yang asik mendengarkan lantunan music. Duduk ditemani sebotol minuman bersoda, kemudian beberapa mulai menyapa, dan salah satu turis wanita yang saya lupa namanya, duduk bercerita tentang pengalaman backpackernya di Amerika Latin. Cukup Terkesan, namun bagi saya tidak akan pernah menarik sebuah cerita wisata tanpa pernah bisa dikunjungi.

DSC_0152

Larut malam, saya kembali ke Tenda, dan tidur pulas. Hingga akhirnya saya melewatkan sunrise pagi itu. Matahari sudah agak tinggi ketika saya terbangun oleh lapar. Saya hanya berenang dipinggir pantai dan kembali packing. Ketika semua sudah siap saya berangkat menuju Kampung Kajang, Kampung, yang dimana semua orang berpakaian berwarna hitam, dan hidup mengisolasikan diri dari tekhnologi.

 2 jam perjalanan dari pantai Bara Menuju Kajang. Namun tidak terasa saya sudah sampai dipinggiran kampong Kajang. Hari sudah agak sore ketika saya tiba, untuk itu saya memutuskan untuk mencari tempat berkemah. Saya beruntung bertemu dengan kepala Desa sebelah kampong Kajang. Rajamuddin namanya, keramahan beliau membuat saya, begitu salut. Dia menawarkan tempat tinggal dan makanan gratis, untuk malam ini. Dan meminta saya untuk menuju Kajang esok hari, tanpa piker panjang, saya langsung menuju ke rumah pak Rajamuddin.

Malam tiba, pak Rajamuddin mulai bercerita tentang budaya Kajang yang sudah mulai bergeser. “Dulu semua barang elektronik dilarang, memakai baju selain hitam dilarang, apalagi datang membawa budaya luar,” Jelas Rajamuddin. Seteguk kopi, tampak jelas mengalir dan menggerakan tenggorakan lehernya. “Namun, saat ini sudah berbeda, handphone sudah bisa digunakan didalam, apalagi anak kepala suku sekarang orang yang terpelajar, pasti akan membawa perubahan,” sambung Rajamuddin.

DSC_0380

Malam semakin larut, pelita yang menerangi desa disetiap rumah mulai padam. Begitu indah, Moment seperti ini sangat langkah dihidup saya. Namun karena saya menghargai budaya lokal, dan takut ada salah paham makanya saya tidak mengambil satupun gambar malam itu.

DSC_0365

Pagi-pun datang begitu cepat, Pak Rajamuddin membangunkan saya, dan meminta saya untuk bergegas. Sayapun segera mandi, dan berangkat bersama salah seorang yang ditunjuk Pak Rajamuddin untuk menemani saya. Karena dilarang menggunakan motor, maka saya harus berjalan kaki selama kurang lebih 30 menit. Hutan lebat, dan kerumunan ibu-ibu berbaju hitam dipinggir kolam mandi mengiringi perjalanan saya.

DSC_0372

Selain itu, keramahan penduduk lokal yang saling menyapa satu sama lain, menjadikan saya begitu nyaman berada didaerah ini. Hingga akhirnya saya tiba di desa Kajang, dan ditunjukan rumah Ammatoa (sebutan untuk kepala suku desa Kajang). Agak canggun seperti apa, kepala suku yang katanya tidak boleh diambil gambarnya ini. Awalnya, saya disuruh mengisi buku Tamu, dan kemudian beliau bercerita dengan canda dan tawa tentang adat suku kajang, yang saling membantu dan mampu mempertahankan budaya hingga saat ini. Beliau juga banyak bercerita tentang sejarah lisan, tentang suku kajang, yang lahir dari agama Patuntung (Pencari kebenaran).

DSC_0359

Keramahan Ammatoa dengan bahasa makassarnya, yang sudah jarang digunakan membuat saya begitu takjub. Kemudian saya berkeliling sendiri mengintari desa, yang benar-benar masih traditional dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Seperti masak dengan kayu, dan membajak sawah dengan ternak, membangun rumah tanpa paku, hanya kayu dan daun kelapa sebagai atap.

DSC_0376

Setelah puas, melihat semuanya, saya berjalan pulang keluar dari desa, dan kemudian berpamitan dengan Rajamuddin. Sudah dapat penginapan dan makan gratis satu hari, saya juga dikasi oleh-oleh kerupuk dengan taburan gula merah. Saya pun merasa begitu sedih melihat diri saya, ketika melihat kebaikan orang-orang yang berada didesa ini, tanpa berpikir negative sedikitpun terhadap pendatang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s