Reaksi kimia di Kawah Putih Bandung


Jalanan di Jakarta tampak Sepi ketika kami meninggalkan Hotel. Hari itu sudah agak siang,kami berjalan menuju Jl. Jendral Sudirman untuk mencari Kopaja (angkutan umum). Seorang pria tua, dengan baju putih yang sudah kekuningan duduk dibawah jembatan penyebrangan, dilehernya terdapat sempritan berwarna merah. Kami mendekat ke arahnya, senyuman sapaan darinya kami sambut ramah. “Maaf pak Kalau mau menuju Terminal Gambir, saya harus menggunakan Bus apa?,” ungkap ku.

“Tunggu saja disini bus Kopaja dengan nomor 15,” ungkapnya. Tak lama kami berdiri dipinggir jalan, bus yang kami tunggu akhirnya berhenti,”Terminal Gambir…. Naik… naik.., “ jelasnya, dengan suara lantang. Dari sana kami membayar tiket Rp.4000 dengan jarak tempuh, kurang lebih 10 menit. Tiba di Terminal Gambir, kami langsung masuk dan melakukan print out tiket yang telah kami booking malam sebelumnya, dengan harga tiket Rp.40.000/orang.

Kami akan berangkat pukul 11.20 WIB, untuk itu kami harus menunggu sekitar dua jam lagi. Kami menuju salah satu café untuk memesan kopi, dan berdiskusi tentang tempat wisata yang akan kami tuju di Bandung. Perut kami harus segera di isi, karena kami akan tiba sekitar pukul 03.30WIB di Bandung, dan jika kami memilih membeli makanan dalam kereta akan beresiko sangat mahal.

Selesai makan, kami mengambil buku kami masing-masing. Ana sedang membaca buku sejarah Kamboja dan saya membaca novel Cuba and The Night yang ditulis Pico Iyer. Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, pengumuman kereta kami akan berangkat, terdengar jelas dibacakan oleh wanita dengan suara lembut. Kami pun melakukan cek tanda pengenal, dan langsung menuju kedalam kereta yang berada di lantai dua.

“Saya tidak bisa membaca ataupun menulis didalam kereta, jadi saya kebanyakan mendengarkan wawancara dan diskusi tentang buku atau permasalahan sosial yang saya download di handphone saya. Dan kamu?,” ungkapnya. “Sama seperti mu, saya akan muntah bila membaca ataupun coba beraktifitas yang membutuhkan konsentrasi tinggi,” jelas ku,” untuk itu selamam perjalanan kami hanya mendengarkan beberapa diskusi keadaan sosial, serambi menikmati pemandangan.

Awalnya kami disuguhi dengan gedung menjulang, dan berpindah frame mennjadi pemukiman kumuh dipinggiran Jakarta. Dan setelah tiga jam berlalu, gugusan sawah yang hijau, dan gunung-gunung sangat memanjakan mata kami, sehingga kami tertidur disisi perjalanan. Ketika mendekati kota Bandung, kami terbangun dan menengok kiri dan kanan jalan sambil tersenyum dengan suka cita. Akhirya petualangan yang sebenarnya akan dimulai.

Tiba di Kota bandung, saya menghirup udara yang begitu sejuk, sore itu. Langit gelap, dan sapaan kerumunan orang menawarkan angkutan perjalanan. Menjadi sambutan selamat datang kami di Kota Bandung. Karena kami telah melakukan booking hotel murah meriah disekitaran terminal, untuk itu kami melewati kerumunan dan berjalan melintasi kota Bandung. Sekitar 10 menit perjalanan kami tiba, di Hotel Gado Gadu, sampai disana, kami langsung keluar untuk mencari makan karena perut yang keroncongan, kami berjalan menuju salah satu warung makan yang dekat dari Hotel, sekaligus menikmati Kota Bandung.

Malam tiba begitu cepat, kami kembali ke Hotel dan bertanya tentang motor sewaan untuk satu hari perjalanan, menuju Kawah Putih, Ranca Upas Smart Camp Adventure dan Situ Pattenggang. Untuk harga penyewaan pada umumnya Rp.120.000/hari. Setelah melakukan deal malam itu, kami masuk kamar dan sedikit sharing tentang perjalanan kami sebelumnya. Hingga akhirnya kami tertidur pulas.

Pagi tiba, udara bandung yang begitu sejuk di pagi hari, begitu terasa didalam ruangan kami. Kami terbangun, sarapan pagi dari hotel sudah tersedia. Namun kami memilih untuk menunda sarapan, dan mempersiapkan semua peralatan tempur sebelum berangkat ketiga lokasi tersebut.

Selesai sarapan, kami langsung menggunakan mengambil motor sewaan dan siap berangkat. Kami hanya bermodal Google Maps untuk menujukan jalan menuju Kawah putih di Bandung Selatan. Sekitar 3 jam perjalanan kami tempuh, karena macet. Namun akhirnya kami tiba di Kawah Putih, dengan perasaan haru yang sudah seperti es campur. Kami segera memarkirkan motor, dengan biaya parkir Rp5.000.

Sesampainya diloket, kami membeli tiket perjalanan, untuk tourist lokal hanya butuh Rp.18.000/orang, sedangkan untuk tourist mancanegara harus membayar Rp.50.000. Setelah membeli tiket, kami menunggu diloket antrian kedua, untuk menaiki transportai lokal menuju kawah putih.

Dibutuhkan sekitar 7-10 menit untuk sampai dikawah Putih, Jalanan berliku dan hutan yang rindang mengingi perjalanan kami hingga mencapai pintu gerbang masuk Kawah Putih. Ketika tiba ditempat tersebut, saya terdiam sejenak, dari kejauhan serasa melihat Pantai Bara di Bulukumba dalam ukuran yang lebih kecil.

DSC_0859

Air di Kawah Putih nampak layaknya segelas susu panas pagi hari, asap tipis berjalan dipermukaannya, layaknya ketika anda membuka tungku air yang mendidih. Tanah di sekitarnyapun sudah tampak putih karena bercampur belerang. Pohon kering tak berdaun berjejer sisekitarnya, dan yang membuat saya semakin nyaman melihat kawah ini adalah gunung yang hijau rindang menjulang terlihat menjadi latar yang indah.

DSC_0915

Saatnya kamera beraksi dan mengambil beberapa gambar menarik dari Kawah putih. Sekitar 45 menit kami tidak berhenti mengambil gambar. Kemudian kami melihat cahaya kamera dari belahan gunung yang menjadi background Kawah Putih. “Ayo kita ke sana,” Ujar Ana, menarik tangan saya. Tanpa pikir panjang, kami keluar dari kawasan kawah putih.

DSC_0934

Kami melewati indahnya pemandangan kebun teh disekitar perjalanan kami, dan kemudian sebuah gerbang menuju arah atas gunung, menjadi penunjuk arah kami. Hutan lebat dan tanjakan panjang, kami susuri hingga akhirnya tiba, disalah satu rumah teduh di atas gunung. Kami mengambil beberapa gambar sebelum melihat ada jalanan untuk menuju tempat yang lebih tinggi.

DSC_0879

Penasaran dan tidak sabar melihat saya yang masih menambil gambar, Ana kemudian berjalan sendiri menuju puncak gunung. Sekitar 10 menit setelah ana berangkat, saya kemudian bergegas menyusul, sesampainya disana, saya kembali terkesimah melihat beberapa bagian hutan yang kering akibat suhu dan zat yang menyebar dari Kawah Putih.

DSC_0924

Namun tidak lama kami disana, karena Ana sudah meras pusing dan mual. Kami segera menuruni bukit dan tiba dibagian jalan lain menuju terminal tunggu kendaraan. Kami naik dikendaraan dan turun di terminal awal  kedatangan. Cukup puas rasanya menikmati kawah putih, selain menjadi hiburan tempat ini saya rasa layak ditunjukan sebagai salah satu pelajaran tentang reaksi kimia.

Tidak berlama-lama, kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju Danau Situ Patengglang.  Rencananya kami akan berkemah di Danau yang keindahaan alam dan mitologi tentang batu cinta yang menjadi penasaran setiap pasangan yang sedang dimadu asmara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s