Sampah menjadi Masa depan Danau Tanranlili


Setelah sebelumnya  menyusuri Sungai Mahakam, dengan berbagai budaya dan petualangan menarik. Kini saya akan berjalan-jalan menikmati pulau Jawa hingga Bali. Tentunya dengan paket perjalanan murah ala backpacker, tips-tips menarik, juga foto-foto perjalanan. Kali ini saya ditemani Anabel M, wanita berkewarganegaraan USA, lulusan Cornel University.  Rencananya Kami akan bertemu di Jakarta, dan memulai perjalanan dari sana hingga Denpasar. Namun sebelumnya, mari kita berjalan-jalan di Sulawesi Selatan.

Matahari berada tepat diatas kepala saya, teriknya seakan menembus kulit, angin yang seharusnya mengimbangi rasa panas, ikut memberikan hawa panas saat berhembus. Balikpapan 5 November 2015, terasa begitu berbeda, mungkin akibat kebakaran hutan dan pemanasan global yang menjadi isu hangat saat ini. Atau mungkin layaknya ramalan orang terdahulu, yang sering mengatakan,”Bila panas terasa berlebihan, maka tidak lama lagi hujan akan turun”. Entahlah, semoga mereka mendengar. Yang jelas hari itu saya penuh dengan semangat. Akan memulai perjalanan menuju Makassar, Pulau Jawa dan Denpasar.

Tidak lama taxi yang saya pesan, membunyikan klakson, pertanda sudah siap didepan rumah. Saya pun bergegas dengn dua backpack untuk menuju bandara Sepinggan Balikpapan. Tiba diterminal keberangkatan, saya langsung menuju konter check in Lion Air, dan menunjukkan tiket Balikpapan-Makassar. Tidak lama saya sudah sampai di ruang tunggu. Belum sempat saya merapatkan ujung bokong saya, seorang penumpang dengan kesalnya berkata, “Delay lagi,”.

Pesawat yang saya tumpangi harus delay 2 jam, dan sebagai pengganti waktu kami. Kebijakan pesawat hanya memberikan makan siang gratis. Setelah dua jam lebih menunggu, akhirnya pesawat yang kami tumpangi siap di landasan. Satu jam perjalanan, akhirnya tiba juga di Makassar. Sampai di Hasanuddin airport, saya langsung memilih ojek sebagai transportasi untuk menuju rumah keluarga. Dikarenakan jarak lokasi airport dengan jalan poros yang begitu jauh, juga karena ojek adalah transportasi termurah, harganya berpariasi tergantung jarak, kisaran Rp20.000-Rp80.000.

Setiba dirumah, hari sudah agak sore. Saya hanya mempersiapkan semua peralatan untuk pendakian, disalah satu lembah tidak jauh dari Makassar. Tepatnya berada di Kabupaten Gowa, tempat dimana anda bisa meikmati wisata gunung secara gratis, dan salah satu yang menjadi favorite para pendaki adalah Gunung Bawakaren. Namun saya akan mengajak anda menuju “Lembah Loe”. Lembah dengan gugusan tebing yang melingkar, dengan spot Air Terjun, dan Danau Tanranlili. Untuk kesekian kalinya saya akan datang ketempat tersebut. Tempat dimana masih banyak kicauan burung dan serangga di pagi dan Malam hari, udara yang segar dan kolam renang alami. Yang lebih penting anda tidak dipungut biaya apa pun untuk memasuki tempat ini.

Ketika pagi datang, saya langsung bergegas menggunakan kendaran roda dua. Untuk sewa kendaraan menuju tempat tersebut sekitar Rp50.000/hari, sedangkan Bensin Rp50.000 sudah cukup untuk pulang pergi.  Dipagi buta, saya melewati banyak perkampungan dan hijaunya sawah. Kurang lebih 2 jam perjalanan untuk menuju camp persinggahan.

Setiba di Camp, saya langsung disambut Tata Rasyid, salah satu penduduk lokal yang rumahnya menjadi tempat transit para pendaki. Layaknya teman lama yang lama tak berjumpa, dia berbicara tentang banyak hal. Salah satunya kekecewaannya terhadap para pendaki, yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Hanya sekitar satu jam saya berbincang, dan berangkat menuju lembah. Waktu yang ditempuh untuk melakukan perjalanan sekitar 3-4 jam. Disana kalian akan melewati 3 bukit bebatuan dan tanah lapang yang dipenuhi dengan sapi-sapi ternak yang bisa mendaki. Bila datang dimusim hujan, kalian bisa mendapat beberapa spot air terjun dan banyak kolam-kolam air yang cukup nyaman disinggahi, untuk sekedar bersantai untuk menikmati segelas kopi.

Beberapa gambar saya abadikan dalam perjalanan ini, mengingatkan beberapa jejak masa lalu, bersama teman-teman seperjuangan kala mendaki. Namun ingat, menggunakan kamera didaerah lembab, bisa sangat berbahaya, karena setiap kamera mempunyai batas temperature. Bila membawa kamera didaerah peggunungan usahakan, tempatkan kamera pada tempat dengan temperature yang setidaknya stabil.

Sesampainya di Lembah Loe. Saya segera membangun tenda, dan menyediakan makan siang. Setelah semuanya siap, saya pun menikmati hidangan ala gunung, indomie dan ikan kaleng. Perut yang kenyang, dan kelelahan, membuat saya layaknya ular sawah yang tidak bisa bergerak setelah memangsa buruannya. Untuk itu, music dan buku bacaan menjadi penting bila anda bepergian.

Sore tiba, bulan yang muncul sebelum gelap menjadi salah satu objek yang menarik, kamera yang siap beraksi, kemudian mengabadikan beberapa gambar yang menurut saya menakjubkan. Tidak perlu menjadi profesional untuk foto dengan objek seindah ini. Anda hanya cukup mengatur keseimbangan gambar, dan cahaya sesuai dengan selera keindahaan gambar kalian.

Malam tiba, suhu dingin begitu terasa hingga masuk dipori-pori kulit. Berada sendirian ditengah gunung bukan hal yang buruk, walau bila bersama kawan-kawan akan terasa lebih menyenangkan. Namun ketenangan, sudah agak mahal harganya bagi anda yang hidup di kota.

Burung hantu dan berbagai jenis serangga semakin merdu bersenandung, membawa malam begitu sayang untuk dilewatkan. Tepat pukul 23.00 WITA, saya terasa begitu kantuk, dan tertidur lelap. Hingga pagi tiba tanpa terasa, suara kokokan ayam hutan, membangunkan saya, seakan berada tepat ditelinga saya.

Segelas kopi dan makanan ringan menjadi pembuka pagi saya, udara sejuk dan segar, begitu terasa masuk melalu tenggorokan saya. Tidak berapa lama, saya berkemas, dan turun  menuju Danau Tanranlili. Di tempat ini, terdapat banyak tenda-tenda pendaki, yang tampak layaknya pasar malam dipagi hari. Saya sedikit melakukan pemanasan dan berenang mengintari pinggiran Danau. Air yang cukup dingin langsung datang dari air terjun yang jaraknya 1km dari danau. Satu lagi objek menarik untuk spot gambar anda.

Namun beberapa sampah berserakan tidak karuan, beberapa pohon ditebang untuk dijadikan tempat berkemah, agak miris melihat situasi itu. Apa yang dikatakan Tata Rasyid, memang benar adanya, mengingatkan saya, akan kata seorang teman, “Katanya pecinta alam, tapi kelakuanya kaya perusak alam”. Saya berharap pada waktunya mereka mengerti apa yang mereka lakukan dan berusaha untuk memperbaikinya.

Tidak berlama-lama disana, saya langsung kembali ke camp persinggahan. Bertemu Tata, dan bercerita panjang lebar, tentang apa yang dilakukan pendaki-pendaki yang datang. Seakan tidak punya daya untuk menyampaikan isi hatinya, ataupun sekedar memebri peringatan. Segelas teh hangat datang dari Amma, yang juga Istri Tata Rasyid, yang datang dengan bunyi desitan bambu, yang juga menjadi lantai dapur rumahnya. “Sering-sering danga ke sini,” ungkapnya, ini adalah salah satu ungkapan yang akan kalian dengar bila berpamitan pada penduduk Sulawesi Selatan pada umumnya.

Salaman perpisahaan dari Tata menjadi tanda saya harus segera beranjak menuju pantai Bara di Bulukumba. Pantai berpasir putih, dikelilingi kars, dan pohon kelapa, dan yang terpenting tempat ini, jarang dikunjungi wisatawan lokal maupun manca Negara. Untuk itu tempat ini menjadi salah satu hidden paradise di Sulawesi selatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s