Menikmati Indahnya Danau Situ Patenglang dan Perkemahaan Cidewey


Pancaran sinar matahari yang melewati celah pohon rindang mengiringi jalan kami menuju Danau Situ Patenglang. Sepanjang perjalanan mata kami dimanjakan oleh Hamparan kebun teh yang hijau dan simetris hingga area perbukitan. Belum lagi dengan angin sepoi-sepoi menerpa kami disepanjang perjalanan, membuat perasaan begitu damai dan sejuk.

Sekitar 30 menit berkendara, akhirnya kami tiba di Danau Situ Patenglang. Di loket masuk terpajang daftar harga kunjungan.Untuk pengunjung lokal, Rp 15.000 dan Rp.50.000 untuk pengunjung mancanegara. Kali ini kami berhasil mengelabui penjaga, karena wajah dan warna kulit Ana yang mirip dengan warga lokal, maka kami hanya membayar Rp. 30.000 untuk dua orang.

DSC_0965

Tiba diparkiran, jejeran motor dan mobil memadati lokasi. Yang terbayang dibenak saya, kami tidak akan dapat lokasi berkemah kalau begini. Dari belakang  seorang juru parker dengan rompi kuning menyapa kami, “maklum weekend,  jadi parkirnya dirapatkan,dan jangan dikunci leher ya Mas” jelasnya.

Tanpa menunggu lama, kami langsung menuju Tourist Information, untuk meminta ijin berkemah. Namun malang ternyata lokasi perkemahan hanya diperbolehkan untuk kelompok dengan jumlah minimal, 15 orang. Pupus sudah harapan kami, untuk berkemah sambil menikmati keindahaan Danau. “Sudahlah, kita nikmati tempat ini, kemudian kita menuju lokasi perkemahaan yang kita lalui saat menuju kemari,” ungkap Ana.

DSC_0961

Dengan agak muram, Kami pun menapaki jalan yang dipenuhi dengan pedagang kaki lima. Hingga kami menemukan dudukan nyaman dibawah pohon rindang. Tampak gardu-gardu pinggir danau dipenuhi keluaga yang sedang menikmati quality time,  disisi lain pemuda-pemudi asik berselfie. Ditengah danau tampak beberapa kapal berlalu lalang, dan ada pula beberapa perahu berbentuk bebek yang digunakan para pasangan untuk mendapatkan cerita romantis.

DSC_0966

Kami tidak menemukan suatu yang menarik dari tempat ini. Tangan saya pun agak malas bergerak untuk mengabadikan moment ditempat ini. Namun bagi mereka yang percaya mitos tentang batu cinta, mereka begitu antusias menuju pulau kecil yang berada di tengah danau. Konon katanya ketika kita mengucapkan janji di depan batu cinta, maka cinta kita akan abadi. Hal ini tidak berlaku bagi saya dan Ana, kami lebih percaya cinta itu abadi ketika dua pasangan punya perjuangan yang sama tentang cinta.

Sekitar satu jam berlalu, kami bergegas menuju lokasi perkemahan Ciwidey. Letaknya sekitar 10 menit arah barat dari Kawah Putih. Dipintu gerbang, kami membayar tiket untuk berkemah Rp.25.000, dan tiket kendaraan sekitar Rp.5.000. Bagi kalian yang tertarik dengan lokasi alam, yang member pelajaran balita anda, saya rasa ini tempat yang tepat. Lokasi ini dilengkapi dengan area outbound, panggung karoke, dan area bermain anak.

DSC_0974

Karena tidak terbiasa dengan keramaian saat berkemah, kami mencari lokasi ditengah hutan yang tak jauh dari pusat lokasi perkemahaan. Setelah membangun tenda, perut begitu keroncongan, ternyata matahari sudah jauh ke barat. Kami segera menuju lokasi pedagang kaki lima yang tak jauh dari lokasi perkemahaan.

Disaat kami mengisi perut, hujan mulai turun, seorang anak dan ibunya bernyanyi. Sedikit tersentak dan suasana membawa saya menjelajahi waktu, mengingatkan masa kecil ku. Mata Ana tidak berkedip, dan sedikit tersenyum dibeberapa bait lagu yang dinyanyikan.

DSC_0986

“Untuk apa yang kita lihat, saya rasa semua orang tua akan melakukan hal yang sama. Bernyanyi disaat hujan turun. Namun ada beberapa hal yang agak berbeda antara bagaimana orang Indonesia pada umumnya mendidik anak dan orang Amerika dan Eropa,” ungkap ku.

Tiba-tiba kumpulan anak muncul dan bermain hujan, tanpa takut petir yang menyambar. Coba kau lihat Ana, hal ini tidak mungkin terjadi di tanah kelahiran mu. Sambil meneguk air setelah perut terisi, aku kembali bergumam, tentang masa kecil ku, yang mana bila aku terjatuh atau melakukan tindakan bodoh yang menyakiti diri ku.  Ibu ku menambahkan sebuah cubitan diperut ku, atau mendapat pukulan yang membuat ku tmenangis berjam-jam. Pembenaran dari orang tua ku saat kutanya, hal itu agar aku tidak akan mengulangi kesengajaan bodoh atau rasa penasaran ku.

DSC_0962

“Sentuhan fisik atau kekerasaan dalam budaya kami, itu sesuatu yang sangat jauh dari mendidik anak, dan hanya menimbulkan trauma. Namun kau harus bersukur karena masa kecil mu banyak kau nikmati dengan keluarga mu. Berbeda dengan kami, kadang keluarga kekurangan waktu untuk kami, dan untuk menutupi kesalahannya mereka menyuap kami dengan tumpukan mainan, yang membuat beberapa anak depresi,” Jelasnya.

Sambil berjalan diiringi rintikan hujan menuju tenda, Ana kembali menambahkan kalimat yang mungkin sedikit lebih menjadi kesimpulan dalam diskusi tersebut. Akibat didikan dengan budaya yang berbeda,  terjadi pengaruh sosial dan pisikologis anak yang membangun sebuah budaya massal. Akibat kesibukan orang tua kami, saat kami tumbuh kami tumbuh melihat pekerjaan itu nomor satu, dan segala-galanya. sedangkan orang Indonesia lebih mengutamakan keluarga daripada pekerjaanya walau mereka agak kejam saat mendidik namun suasana kekeluargaan itu selalu terasa hangat.

DSC_0964

Sesampainya ditenda kami berbaring, saya kembali mencoba memikirkan apa yang dibilang Ana sebelum menarik kesimpulan. Namun tanpa terasa, aku tertidur dan kembali terbangun ditengah malam. Aku menengok keluar, lokasi kami dipenuhi kabut.

 Didalam tidurnya Ana tanpak begitu kedinginan,  aku memberikanya selimut dan sedikit pelukan. Aku harap itu cukup menenangkanya hingga pagi menjelang. Saat matahari terbit, aku segera menyediakan Nasi goreng sebagai sarapan kami. Dan ketika Ana bangundan mencobanya, nampak sesuatu yang begitu buruk muncul sebagai ekspresi diwajahnya, namun tidak diisyaratkan dalam ungkapan.

DSC_0976

Kami segera berkemas dan kembali ke hotel. Udara pinggiran kota bandung terasa begitu indah dan damai. Selama dua jam perjalanan kami akhirnya tiba di Hotel, dan bersiap menuju Jogja sebagai perjalanan seni dan kebudayaaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s