Galeri Seni Yogyakarta dan Sekilas Sejarah Pembantaian Komonisme


Pagi tiba begitu cepat hari ini, rasa pegal diseluruh tubuh masih terasa. Namun hal tersebut tidak mempengaruhi semangat kami untuk menyambangi Kota Yogyakarta. Segelas susu hangat dan roti lapis ditambah sejuknya pagi kota Bandung, menjadi salam perpisahaan untuk kota Parsijs Van Java. Tanpa berlama-lama kami segera berkemas dan menuju terminal kereta Api.

Dari Bandung menuju Yogyakarta, Anda cukup membayar Rp 175.000/orang untuk kelas executive . Delapan jam perjalanan kami habiskan dengan mendengar musik,dan sedikit diskusi untuk rencan perjalanan di Yogyakarta. Hingga akhirnya kami sepakat untuk menghabiskan waktu untuk hibernasi selama di kereta, yang digantikan dengan penjelajahan malam.

Tiba sekitar pukul 3 sore, kami turun dari kereta, dan memasuki lorong panjang menuju pintu keluar. Kami langsung disambut puluhan orang yang menawarkan transportasi menuju hotel yang telah kami booking disekitaran Jl Joglo. Tarif hotel Rp225.000/malam, dengan fasilitas layaknya bintang lima, namun ditata sangat traditional. Selain itu hotel ini juga menyediakan fasilitas untuk penyewaan kendaraan roda dua. Untuk itu bagi backpacker, nih tempat recommended banget.

Di hotel kami tidak berlama-lama, kami ingin segera menjelajah Yogyakarta. Ini bukan pertama kali saya dan Ana ke kota ini. Namun perasaan kami merasa tempat ini selalu memberikan kesan pertama. Sebelum keluyuran, kami mencari tempat makan yang tidak jauh dari Hotel. Sekedar informasi, di Jogjakarta untuk makanan warungan, anda hanya harus merogok kocek sekitar Rp 15.000 untuk porsi complete. Jadi tuk para pelancong jangan takut terkuras bajetnya bila di Jogja.

Setelah perut terisi kami kemudian menyusuri jalan menuju sebuah galeri seni, yang bertemakan perjuangan kelas. Hal ini sangat menarik buat kami, karena kami berasl dari bidang studi yang sama semasa kuliah, yaitu ilmu Sejarah. Memasuki galeri kami hanya cukup mengisi daftar tamu, tanpa ada biaya, inilah yang mungkin tidak berlaku di kota kelahiran saya.

“Di tempat kelahiran saya, kamu tidak akan pernah dapat menikmati seni secara gratis seperti ini, semua ada cost, ” ungkap ku pada Ana.

“Kalau begitu sukurlah, kita dapat menikmati tempat ini secara gratis,” kata Ana.

Memasuki galeri beberapa buku perjuangan kelas, berhamburan di dalam sebuah lemari kaca, saya memberi makna, akan pentingnya pendidikan namun pendidikan itu hanya terbatas pada yang mampu. Layanya galeri pada umumnya disetiap sudut dinding mempunyai ornament seni yang dibuat dari barang yang didaur ulang. Salah satu yang menarik perhatian saya, adalah karya seni dengan bahan dasar besi rongsokan yang berkarat. Sekilas berbentuk lekukan seksi paha hingga kaki wanita yang tampaknya sedang bersantai dipinggir pantai.

Di lantai dua beberapa lukisan perjuangan petani pada zaman komonisme di Indonesia, membuat saya seakan kembali duduk di bangku kuliah dan mendengarkan ceramah perjuangan komonisme di Indonesia. Terdapat beberapa karya yang dengan tegas mengkritik penguasa yang hingga saat ini belum mampu membangun cita-cita yang termaktub dalam UUD 1945.

“Aku mendengar bahwa terjadi genocide terhadap orang-orang komonis, mengapa itu bisa terjadi?,” Tanya Ana.

“Saat negara ini dibangun, beberapa ideology besar merapat dan memberikan banyak pengaruh besar terhadap para pendiri Negara. Namun komonisme, menjadi salah satu ide segar yang paling cocok. Saya rasa ide komonis tentang kesetaraan kelas dan negara yang baru lepas dari belenggu penjajahan mempunyai kecocokan. Hal ini terjadi hampir diseluruh daerah terjajah, di Benua Asia maupun Amerika. Seiring waktu ideologi komonis semakin membesar dan bertarung di pemilu pertama di tahun 1955, disinilah awal mulanya dominasi komonis, yang membuat lawan politiknya geram,” jelas ku.

“Ada beberapa opini yang lahir atas pembantaian komonisme,dan hingga kini masih jadi tanda Tanya sejarah.  Salah satunya, Hal ini tidak lepas dari pengaruh  perang ideology Amerika dan Uni soviet. Namun saya melihatnya sebagai perebutan kamar ekonomi, dan ideology hanya jalan masuknya. Amerika takut akan nasionalisasi dan anti kapitalisme yang akan menahan monopoli sumber daya alam Indonesia. Dilain sisi, Rusia yang anti kapitalis, memberikan pasokan senjata yang tidak gratis, dengan berbagai perjanjian kerjasama,  yang menurut saya, juga mengambil keuntungan dari perang melawan Negara kapitalis Amerika.” terang ku

Bagi saya semua ideology yang membangun system kenegaraan mempunyai tujuan yang sempurna dalam kesejahteraan dan kepentingan bersama. Namun ideology hanya gagasan dan akan bergerak sesuai dengan cara pandang manusia yang berada didalamnya, dan pada akhirnya semua ideology itu hanya sampah yang mengerogoti otak, dan memaksa manusia untuk menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan tersebut.

“ow iya balik lagi, peperangan dua ideology ini kemudian membuat banyak perdebatan para penggagas bangsa hingga level bawah. Perdebatan itu kemudian menimbukan perpecahaan, hingga muncullah isu yang paling mematikan, yang mana menganggap salah satu ajaran dari komonisme adalah tidak percaya pada tuhan. Isu ini mungkin biasa saja bila terjadi di Eropa atau Amerika. Namun di Indonesia, tidak percaya tuhan bukanlah hal sepele. Salah satu analisa saya, ini disebabkan atas kisah heroic bercampur mistis dan campur tangan gaib, menjadi landasan berpikir yang lahir dari kebudayaan berabad-abad lalu, dan melawan hal gaib adalah kehancuran bersama. Dari landasan tersebut, darah bercucuran beratas namakan kebenaran hakiki,” jelas ku sambil melakukan beberap pengambilan gambar.

“Menarik, selanjutnya seperti apa,” Tanya Ana.

“Selanjutnya isu ini merebak keseluruh Indonesia, keadaan yang tidak kondusif ini, membuat presiden mengeluarkan Surat perintah (Cari di google SUPERSEMAR), yang sampai saat ini belum dipublikasikan, karena ditakutkan dapat mengakibatkan perpecahaan. Salah satu yang menjadi fakta surat itu, adalah pemberian kewenangan pada salah satu Jendral angkatan darat untuk kembali meng-kondusifkan negara. Setelah turunya surat tersebut, pembantaian terjadi besar besaran, semua yang tertuduh punya jaringan terhadap komonisme akan disiksa, diasingkan, ataupun dibunuh,” jelas ku sambil berjalan keluar dari galeri.

Ana terdiam sejenak dan kami hanya berjalan meninggalkan galeri dan menyusuri jalan, untuk mencari secangkir kopi. Hingga akhirnya kami berada di  Jl.Malioboro, dan duduk disalah satu cafe. Setelah memesan, Ana kembali melanjutkan topic tersebut, “seharusnya surat perintah itu sudah saatnya di buka, saya rasa orang Indonesia saat ini sudah lebih cerdas dan dapat menerima pil pahit sejarah yang terjadi. Kalian telah melewati masa sulit dan menumbangkan rezim dictator, dan telah melewati beberapa pergantian president, saya rasa kalian sudah siap, dan membuka jalan pada demokrasi,” jelasnya.

Sambil meneguk kopi, saya memperhatkan setiap penjelasannya. Membuat saya sedikit terpanah dengan ide dan gagasan dikepalanya, hal ini membuat saya melihat ana semakin seksi. Namun kami hanya berteman, dan kami akan tetap berteman. Kami membatasi ketertarikan percintaan, karena kami satu sama lain takut akan kehilangan, untuk itu kami memutuskan, untuk tetap berteman.

Akhir dari gagasan Ana ditutup dengan nada yang sedikit Postmodern, “Sejarah tidak selalu objektif, kadang sejarah itu lahir dari subjektifitas penulisnya. Dan yang lebih parah adalah, objektifitas yang didasari dari penafsiran subjektif dari sebuah kajian sejarah yang objektif” jelasnya.

“hahahha…. saya sepakat,” ungkap ku.

Setelah diskusi tersebut, kami berdua kemudian kembali bekerja. Maklum penulis freelance , hingga pukul 8 malam kami menghabiskan waktu dikedai kopi. Setelah selesai dengan pekerjaan masing-masing, rencananya kami akan coba melihat suasana malam Jogja dan melihat sunset di Borobudur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s