Pameran Seni dan Cerita Singkat Reformasi 1998


Waktu menunjukkan pukul 9 malam, Perjalanan kami di Jogja belum berhenti. Setelah berselancar di internet, kami menemukan sebuah pameran seni yang temanya, bila saya tidak salah adalah bentuk kritikan terhadap pemerintah saat ini. Tak menunggu lama kami segera bergegas ketempat tersebut, namun sebelum tiba ditempat tersebut ada baiknya kami mengisi kampong tengah.

Rasa kantuk tiba sesaat setelah melahap Gudeg Jogja, belum lagi ketika saya menegguk segelas teh hangat. Rasanya tubuh ini terlalu berat untuk bergerak. Namun tidak ada pilihan lain, Ana mulai gelisa untuk melihat pameran seni.

DSC_0143

 Sepoi angin malam Jogja, kelap kelip lampu jalan, kemeriahan pesta para pelancong dimalam hari membunuh kantuk dan membawa rasa ceria. Ku pacu motor metic sewaan ini,  hingga akhirnya kami tiba di pameran tersebut.

DSC_0151

Di pintu gerbang kami disambut panitia acara, yang meminta kami untuk registrasi dengan tanda pengenal. Setelah registrasi, kami diminta menunggu untuk masuk ruang yang tertutup kain putih. Hingga akhirnya tiba giliran saya.

Didalam ruang tersebut, seorang anak muda dengan muka yang agak lesu, menyapa dengan senyum. Kemudian memberikan saya dua pilihan, apakah ingin mengikuti proses ritual atau hanya proses Tanya jawab. Sontak karena saya kurang percaya dengan proses ritual, maka saya lebih memilih proses Tanya jawab. Beberapa pertaanyaan tentang kepribadian saya, dan seputar pengetahuan seni, menjadi topic 5 menit,yang juga merupakan tiket saya untuk masuk dalam pameran tersebut.

Ana yang telah lebih dulu menjalani proses ritual, menunggu saya dipintu masuk. Ia tersenyum, ketika mendapat sebuah tetesan air suci di matanya. “Ada apa, dengan senyum itu?” ungkap ku yang juga sedang mempersiapkan kamera.

Dengan senyum Khas darah Amerika Latin, ia menjawab, “tidak, hanya aku merasa tidak ada yang berubah setelah ritual itu”.

Karya seni pertama yang kami temukan, Nampak seperti wujud seorang pria dengan alat music, dengan kepala terbalik. Sedikit mencekam, menurutku. Dibagian bawah karya tersebut, terdapat secarcik kertas yang menjelaskan masih adanya pengekangan terhadap kebebasan berkarya.

Dengan spontan Ana menanyakan maksud tersebut. Saya jawab dengan singkat, “Inti dari karya itu,  menurut saya, berlatar pada pengekangan yang masih terjadi pasca reformasi 1998”.

“Bisa kamu jelaskan?,” ungkapnya.

“Semoga tidak salah, tapi saya coba menjelaskan yang saya ketahui,” tegas ku.

Sambil berdiskusi tentang perjalanan reformasi di Indonesia, kami menghampiri beberapa karya seni yang hampir serupa secara ide dan gagasannya.

Reformasi berlangsung di tahun 1998, terdapat beberapa pandangan, konspirasi dari CIA, beberapa organisasi kemasyarakatan dan mahasiswa yang gerah akan kediktatoran soeharto, dan permainan dari para politisi di Indonesia.

DSC_0161

Namun menurut saya, penyebab utamanya adalah kediktatoran Soeharto. Selama 32 tahun menjabat, ia memberikan tekanan dan pengekangan dalam berkreasi, berkarya dan bersuara. Tak ayal Republik ini layaknya system kerajaan yang dibungkus rapi oleh Demokrasi, hanya untuk memperdaya warganya sendiri.

Bila kita menarik benang kebelakan, Sebelum  reformasi di tahun 1998 sudah banyak terjadi protes dan demonstrasi. Namun semuanya dengan mudah dapat diredam. Caranya cukup simple, dengan penculikan, uang, atau dengan jalur hukum yang tidak berpihak.  Saya menyebutnya penindasaan tanpa penjelasaan.

Hal ini memuncak ketika pemerintahaan Soeharto yang juga dikenal dengan Rezim Orde Baru, mengalami guncangan besar ketika  krisis financial dunia yang berdampak besar pada negara-negara di Asia. Angka pertukaran dolar meningkat, naiknya harga bahan pokok, meningkatnya pengangguran, dan kemiskinan.

DSC_0157

Moment ini, digunakan dengan baik mahasiswa dalam melengserkan kediktatoran Soeharto. Lahirlah demonstrasi yang dinahkodai mahasiswa di ibu kota Jakarta. Layaknya pemerintahaan dictator, demonstrasi harus diamankan dengan tindakan represif. Kericuhan pun tidak terelakkan, yang mengakibatkan kematian beberapa mahasiswa.

Tindakan ini semakin membangun semangat demonstran. Solidaritas dan dukungan dari seluruh daerah di Indonesia semakin mengancam kekuasaan Soeharto. Belum lagi tekanan politik dari dalam dan luar negri, yang  semakin menjepit posisi Soeharto. Dia sebenarnya punya pilihan, untuk membantai semua pembelot dan mengamankan kondisi layaknya di tahun 1965. Namun, kali ini Soeharto dengan legowo untuk turun dari jabatanya.

“Singkatnya seperti itu, dari yang saya ketahui,” ungkap ku pada Ana.

“Lalu apa yang terjadi setelah Reformasi, mengapa karya seni ini tetap melakukan protes terhadap pengekangan?,” Tanya Ana.

Tuntutan dan ide reformasi belum berjalan seperti mimpi saat kemenangan menggulingkan Soeharto. Politik tetaplah politik, elit tetaplah elit, dan semua tidak akan berubah, karena itulah hasrat dari kekuasaan, hanya orang tertentu yang bisa melawan hasrat itu.

Belum lagi bila kita menganalsisa segi politik dari negara dunia ke-tiga. Pemimpin baru akan bergantung pada kepentingan diluar dari dirinya, yang kalau Adam Smith bilang “Invisible Hand”. Dan secara otomatis bergerak dengan aturan barunya, yang tidak jauh dari pekerjaan pengekangan.

“Ya, bila tidak ada pengekangan tidak akan ada pemimpin, dan bila tidak ada pemimpin yang mengekang, tidak akan pernah ada perubahaan,” jelas ku.

 Sambil terus berjalan melihat karya seni, saya memberikan opini saya pada Ana.“17 tahun bukan waktu yang sedikit, tapi pada tahap ini, saya rasa banyak yang telah berubah. Contohnya, pameran ini, walau mereka mengkritisi tentang pengekangan, buktinya pameran ini tetap berjalan, dan saya rasa ruang itu pada rezin orde baru tidak mungkin terjadi,” jelas ku dengan tawa.

DSC_0153

Sekitar 30 menit kami berputar di lokasi pameran, akhirnya  kami tiba di ujung ruangan pameran. Nampak sekelompok pemusic yang sepertinya sedang latihan atau entahlah, mungkin mereka membuat pagelaran seninya, nampak seperti sebuah latihan. Kami mendekat, senyum manis dan lambaian tangan para pemusik meminta kami untuk bergabung.

Setelah mendengar beberapa lagu dari mereka, kami pun beranjak meninggalkan pameran, dan kembali ke jalan untuk meninkmati Jogja malam hari. Kami mengunjungi beberapa penjual pernak-pernik dibeberapa sudut jalan.

Kami juga sempat ingin singgah di salah satu café yang menyediakan live music. Namun karena sudah terlalu larut, dan rencana esok pagi untuk melihat sunset di Candi Borobudur dan menengok kebesaran candi Prambanan. Maka kami memutuskan untuk segera kembali dan berisitirahat, agar dapat bangun di pagi buta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s