Keringat Abah Guru dalam Semangat TEPI Membangun Negeri


Sore yang begitu sejuk, ketika kami tiba di pesantren Al-Arsyadi Samboja. Nampak  beberapa lingkaran cahaya dari sela bangunan yang melintasi barisan santri yang menyambut kami. Dengan senyum hangat, pendiri Pesantren dan Perguruan Tinggi Al Arsyadi, KH Syaifuddin Marzuki menghampiri kami.

Dia menjabat tangan kami, lalu berkata, “Pendidikan itu sebuah perjalanan yang tidak pernah berhenti, dan bagi kami sebagai seorang pendidik, pengabdian itu juga tidak akan berhenti.”

Selanjutnya, Kami diantar masuk ruang tamu Pesantren. Ruangan sederhana berwarna hijau, berhiaskan sejumlah foto tokoh agama dan tulisan arab dua kalimat syahadat. Dengan tutur kata lemah lembut, KH Syaifuddin mulai bercerita perjalanan panjang yang ditempuhnya hingga menjadi pemimpin pesantren.

Dia Mengawali karirnya sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Handil Baru. Sebuah yayasan yang dibentuk atas fasilitasi Total E&P Indonesie (TEPI)  awal tahun 1980. Sejak itu, pria yang akrab disapa Abah Guru ini, mulai mengasah kemampuannya lewat pelatihan manajemen dan keuangan yang diselenggarakan TEPI.

Berangkat dari pengalaman itu, ia mencoba peruntungan, dengan membuka bisnis kelapa sawit dan burung wallet. Selama lima tahun, ia jatuh bangun merintis usaha. Namun, sebagai seorang pengusaha pemula, rintangan membuatnya semakin kaya pengalaman.

Dengan keteguhan, ia tetap bertahan. Alhasil, di tahun ke-6, usahanya mulai menuai hasil dan berkembang pesat.

Sebelum melanjutkan ceritanya, seteguk air terlihat menggerakkan jakun KH Syaifuddin. Sungguh terlihat begitu nikmat. Jeda bebereapa saat, ia mulai menyesuaikan napasnya, dan melanjutkan cerita tentang suka duka membangun pesantren.

Setelah sukses dengan bisnisnya, ia merasa punya beban moral yang masih belum terpenuhi. Ia ingin member sumbangsih sosial yang dapat membantu dan membangun kampung halamannya.

Maka ditahun 1984, ia memutuskan untuk membuka Madrasah Tsanawiya (MTs) secara gratis, sebagai bentuk keprihatinannya terhadap anak-anak Samboja yang putus sekolah. Berawal dari 18 orang murid, ia coba  memodifikasi model pendidikan dengan menerapkan sistem layaknya paguyuban.

”Kami mengubah pola pendidikan, dengan mengutamakan kenyamanan murid dalam proses belajar mengajar. Mereka dapat belajar dimana saja sekitar lokasi pesanten. Selain itu metode yang digunakan pengajar juga lebih kreatif dan menghilangkan sekat besar antara guru dan muridnya,” jelasnya.

Tiga tahun kemudian, siswa dan orang tua wali, mendorong  pria lulusan Magister Pendidikan Universitas Bung Tomo Surabaya itu, untuk membuka Sekolah Menengah Atas (SMA). Tanpa pikir panjang, Sang Kiai membentuk SMA Al-Arsyadi, dengan fasilitas seadanya.

Namun dalam perjalanan, peningkatan jumlah siswa, menimbulkan persoalan baru. Kekurangan dana, kekurangan staf pengajar, dan fasilitas gedung sekolah yang belum memadai, menjadi awal masalah, saat merintis cita-citanya.

“Saya membangun sekolah ini seorang diri, dan hanya berbekal atas kemampuan saya. Saya tidak pernah meminta bantuan dari pemerintah. Karena prinsip saya, selagi kita mau berusaha, pasti selalu ada jalan. Dan hal itu terbukti, penghasilan saya dari bisnis tiba-tiba meningkat, dan alhamdulillah dapat mengatasi masalah saat itu,” Jelasnya.

Ia kembali mengambil jeda, dan coba mengatur napasnya. Dia tampak antusias dan bersemangat untuk tidak berhenti menceritakan perjalanan hidupnya.

Ketika itu, memasuki tahun 2002, Saefuddin mulai menyadari kualitas pendidikan yang terus berkembang. Ia pun memutuskan, untuk kembali  menuntut ilmu non formal di Jawa dan Arab Saudi. Sejak berangkat menuntut ilmu sekolah yang diasuhnya vakum.

Enam tahun berlalu, tepatnya di tahun 2008, ayah empat anak ini, kembali ke kampung halamanya. MTs dan SMA yang sebelumnya vakum, dirubah menjadi Pondok Pesantren (Ponpes). Ia menerapkan sistem transformasi pendidikan bilingual, Inggris dan Arab.

Selain itu, ia juga memperketat kurikulum dengan perbandingan, 75% pendidikan Umum dan 25% pendidikan agama.

Dengan spirit baru itu, kabar pendidikan gratis dan berkualitas di Samboja, menjadi magnet. Bukan hanya bagi pelajar di Samboja, namun bagi pelajar di luar daerah Samboja.

Akibatnya, peminat membludak. Hingga memasuki tahun ke lima sejak terbentuk, Ponpes ini telah memiliki  520 santri yang berasal dari seluruh wilayah Kalimantan.

Peningkatan murid ini memberi beban besar pada orang tua santri yang tergabung dalam komite sekolah. Mereka merasa sungkan bila semua biaya ditanggung oleh KH Syaifuddin.

Untuk itu, pendidikan gratis itu kemudian diubah menjadi  sistem subsidi silang. Atau dengan kata lain, iuran sekolah hanya dibayar bagi mereka yang mampu.

“Pendidikan itu, kewajiban setiap umat, begitu pula halnya dengan membantu sesama yang membutuhkan. Saya hanya memberikan yang saya bisa, dan  saya yakin semua itu tidak akan sia-sia,” Jelas Saefuddin.

Memasuki tahun 2012, Saefuddin kian gendar melakukan ekspansi pendidikan. Ia mendirikan perguruan tinggi, Sekolah Tinggi Ekonomi Syariah, dengan  Program studi Perbankan Syariah. Hal ini tidak lepas dari keinginannya, agar para santri dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dan mendapat pekerjaan yang layak di kemudian hari.

Tiga tahun berjalan, hambatan klasik kembali muncul. Peningkatan mahasiswa yang tidak seiring dengan fasilitas penunjang, harus disiasati dengan menggunakan beberapa ruangan Ponpes sebagai ruang kuliah.

Tak nyaman dengan keganjilan itu, KH Syaifuddin bergerak cepat. “Untuk mencari kekurangan dana dalam pembangunan, saya kembali bertemu dengan relasi saat masih aktif di Yayasan Handil Baru, dan berdiskusi tentang proses permohonan bantuan CSR TEPI,” ujarnya.

Berangkat dari diskusi singkat, tentang berbagai program pengembangan pengembangan masyarakat melalui  CSR Corporate Social Responsibility (CSR) TEPI, membawa secercah harapan bagi Syaifuddin.

Ia menyusun proposal CSR kepada TEPI untuk pembangunan ruang kuliah Sekolah Tinggi Ekonomi Syariah Samboja.

Gayung bersambut, TEPI merepon baik usulan Saefuddin. Di tahun yang sama, TEPI menyalurkan dana sebesar Rp 225 juta untuk pembangunan gedung berlantai dua dengan ukuran 10 X 32m². Gedung yang masih dalam masa konstruksi itu rencana itu akan digunakan sebagai ruang kuliah Sekolah Tinggi Ekonomi Syariah Samboja.

Butiran keringat Abah Guru tak mengucur sia-sia. Mimpinya terwujud. Santri tak lagi “galau” setelah menamatkan pendidikan SMA. Mereka bisa menuntut ilmu di perguruan tinggi yang dibangun dari keinginan warga Samboja dan semangat TEPI untuk membangun negeri.

“Saya dan masyarakat Samboja sangat berterima Kasih atas Bantuan TEPI selama ini. Bukan hanya untuk bantuan dari penyelesaian gedung kampus kami. Tapi seluruh bantuan TEPI yang telah terealsisasi, dan sangat bermanfaat bagi orang banyak. Saya harap bantuan dan kerja sama seperti ini tidak akan putus dan terus berjalan, untuk kepentingan bersama,” ungkap Abah Guru mengakhiri kisahnya. (*)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s