Candi Prambanan dan Borobudur : Simbol Kepercayaan Yang Menjadi Simbol Kejayaan Sejarah


Kami dibangunkan oleh alarm handphone, tepat pukul 3.30 pagi. Jari ku meraba meja disamping tempat tidur untuk mematikan bunyi keras yang menggangu. Tapi Ana dengan sigap bangun dan sedikit bermain untuk membangunkan ku. Aku pun terbangun dengan wajah kusut berjalan memasuki toilet.

Saat membuka pintu kamar, langit masih begitu gelap dengan garis garis tak beraturan berwarna putih. Kami segera bergegas, karena target kami dapat melihat sunrise di Candi Prambanan. 2 jam perjalanan menggunakan kendaraan roda dua dari kota Yogyakarta, membuat kami begitu lelah ketika tiba didepan gerbang candi Prambanan.

Disana terdapat dua loket untuk wisatawan asing dan mancanegara. Kami berpisah dipersimpangan pintu gerbang, dan membayar karcis tiket untuk wisatawan local Rp 15.000 dan Untuk wisatawan asing Rp.45.000. Kami kemudian bertemu kembali persimpangan jalan, dan menyusuri jalan menuju candi Prambanan.

Namun sayang, yang kami rencanakan tidak berjalan sesuai rencana, matahari sudah berada disamping kami ketika berada di Prambanan. Tidak piker panjang, saya langsung mendokumentasikan beberapa gambar dari candi yang menjadi bagian penting sejarah Indonesia.

Ana tampak cukup takjub melihat candi tersebut, dan bertanya padaku, “kamu tahu sejarahnya?”

Spontan menjawab, “tidak begitu jelas, namun saya tau potongan besar dari sejarahnya,” jelas ku.

Prambanan adalah candi Hindu terbesar dan termegah yang pernah dibangun di Jawa kuno, pembangunan candi Hindu kerajaan ini dimulai oleh Rakai Pikatan sebagai tandingan candi Buddha Borobudur dan juga candi Sewu yang terletak tak jauh dari Prambanan.

Bangunan ini pertama kali dibangun sekitar tahun 850 Masehi oleh Rakai Pikatan dan secara berkelanjutan disempurnakan dan diperluas oleh Raja Lokapala dan raja Balitung Maha Sambu.

“cukup menarik, kalau mendengar mereka bersaing dalam membangun kejayaan dengan symbol kepercayaannya,” kata Ana sambil berjalan menyusuri dinding-dinding candi.

Menurut ku semua kejayaan masa lalu, selalu dibangun dengan symbol keagamaan atau kepercayaan. Karena tampa adanya kepercayaan tidak akan ada perjuangan untuk dibuktikan. Untuk itu sejarah hanya akan ditulis dan ditandai oleh pemenang.

Kelelahan Ana kemudian duduk disebuah kursi taman di bawah pohon rindang. Sedangkan saya sibuk berkeliling mengambil beberapa gambar untuk koleksi pribadi. Tampak beberapa candi kembali dipulihkan, dari runtuhan, dan diperbaiki tanpa merubah bentuk aslinya.

Setelah puas menikmati kemegahaan candi Prambanan kami langsung menuju Candi Borobodur, sekitar satu jam perjalanan dari Candi Prambanan. Setibanya disana, kami terasa tidak begitu asing, dalam artian kami merasa tatanan konsep yang ditawarkan tidak jauh berbeda dengan candi Prabandanan. Dua loket masuk, rindangnya pohon di lokasi pejalan kaki, dan pedagang kaki lima yang berada disekitar lokasi.

 Sambil menyusuri jalan panjang menuju candi Borobudur, Ana kembali bertanya, “Candi ini tampak berbeda, tatanan arsitekturnya agak melebar,” terang Ana.

“Betul, mungkin perancangnya saat itu, meninilai kejayaan itu dengan banyak candi dan seberapa besar teretorinya, tapi entahlah, itu Cuma sebuah opini,” terang ku.

Kami berkeliling menyusuri candi tersebut, ukiran dan karya seni disepanjang diniding candi mengintari perjalan kami. Beberap turis sibuk mengambil gambar, atau hanya duduk layaknya bersemedi dan menikmati indahnya bangunan tua tersebut.

Ketika kami sampai diketinggian candi Borobudur, kami duduk dan menatap jauh hingga pegunungan yang berada ratusan kilometer dari arah kami berada. Dibawahnya terddapat begitu banyak pematang sawah, dan rumah-rumah traditional.

Menghirup napas panjak, dan berdiam tidak bicara. Coba menikmati indahnya pemandangan dan sejuknya angin sepoi-sepoi. Saat matahari tepat berada diatas kami, kami pun tersadar, telah melamun begitu panjang, dengan pikiran kosong.

Rasa lelah dan perut keroncongan, mengantar kami disebuah warung yang berada di luar lokasi candi. Kami memesan menu yang sama, gado-gado dan segelas es teh. Ikat pinggang ku mengencang, stamina ku seakan terisi kembali.

Kemudian muncullah beberapa penjajal perhiasan dan oleh-oleh di depan kami, tidak berhenti mengoceh dan menawarkan barangnya. Cukup menggangu, namun kami terus menolak dan member senyum manis. Namun mereka tidak berhenti, sebagai insiatif  akupun membeli beberapa perhiasaan untuk oleh-oleh.

Tidak berselang lama, tiga penjual lain datang menghampiri kami. Ana tertawa, dan berucap,”Kali ini kita harus pergi dan benar-benar mengacuhkan mereka, pertujukan akan berakhir  bila tidak ada yang menonton,” jelasnya.

Kamipun segera beranjak pulang kembali ke hotel. Sore hari kami tiba di hotel. Semua badan ku pegal, dan akupun memilih terlelap tidur, sedangkan Ana, memilih untuk berselancar didunia maya, dan mengerjakaan beberapa tulisannya.

Berikutnya, masih diarea kepulauan Jawa, pengalaman menarik, kocak, dan juga emosional terjadi ketika kami akan menuju gunung Bromo dan Kawah Ijen. Jadi jangan lewatkan tulisan perjalanan saya dengan Anabel selanjutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s