Gunung Bromo dan Romantisme Klasik


Gunung Bromo, keindahaan alam yang tidak mungkin saya lewatkan ketika berada di pulau Jawa. Pagi Nampak mendung saat kami meninggalkan hotel dan menuju stasiun kereta api untuk menuju Jawa timur, tepatnya Probolinggo. Kami berlari, dan berjalan cepat karena takut terlambat.

Sekitar enam jam perjalanan dari Yogyakarta menggunakan kereta api kalau saya tidak salah ingat. Di kereta api kami membunuh waktu dengan tidur panjang, serambi mendengar beberapa music, salah satu lagu wajib untuk saya pribadi adalah 5 album dari Keane. Langit begitu gela ketika kami tiba di statiun Porbolinggo.

Disana telah banyak calo yang menawari kunjungan langsung menuju Bromo, namun kami abaikan karena sesuai rencana, kami akan menggunakan angkot menuju termila terminal Porbolinggo. Terminal tampak begitu sepi ketika kami tiba, sekitar pukul satu pagi kami berada disana.

Kembali beberapa calo datang menghampiri kami untuk menawarkan perjalanan ke gunung Bromo. Kami berbincang-bincang dan biaya cukup mahal untuk menuju gunung bromo. Kemudian salah satu tukang ojek menghampiri kami dan menawarkan harga Rp100.000/ orang untuk tiba di gunung Bromo. Saya dan Ana kemudian berdiskusi, untuk meminta mereka menurunkan harga. Kami sepakat menggunakan jasanya bila hargaanya Rp150.000 untuk 2 orang. Awalnya mereka menolak, namun dengan sabar kami menunggu, setelah sekitar dua jam berlalu, mereka akhirnya datang menghampiri kami dan sepakat.

Sebelum berangkat kami menghampiri warung untuk mengisi perut, dan meminta tolong untuk menitipkan backpack kami, dan hanya membawa barang yang diperlukan. Kami berangkat sekitar pukul 4 subuh dan berkendara sekitar satu jam lebih untuk sampai digunung Bromo. Tidak banyak yang kami lihat dalam perjalanan, namun kehampaan dan kegelapaan ini, memberikan banyak moment menarik. binatang malam yang berkeliaran dan suara burung-burung yang menyambut pagi.

Tiba di pos penjagaan rasa dingin menusuk tulang, namun ketika menengok cahaya langit yang mulai berubah, kami segera membayar tiket local untuk dua orang, keutungan buat Ana yang mempunyai wajah dan warna kulit layaknya orang Indonesia. Kemudian kami melanjutkan perjalalan, kami disuguhi jejeran rumah penduduk yang mungil dan begitu rapi tersusun. Nampak pula beberap cahaya senter dari beberapa pendaki yang berjalan kaki.

Sekitar 500m berkendara akhirnya kami tiba di puncak desa untuk mengamati gunung Bromo dari kejauhaan. Pengujung telah padat disekitaran lokasi untuk menyaksikan sunrise.  Saatnya kamera saya beraksi, di cahaya yang minim seperti ini saya biasanya meningkatkan ISO, untuk dapat mengimbangi speed rendah dan bukaan yang lebar, untuk lebih cepat mengabadikan moment. Namun untuk mendapat keindahaan yang lebih baik, saya menggunakan ISO rendah dengan speed tinggi dengan bukaan yang kecil untuk mendapat setiap bercak cahaya matahari yang akan keluar dibalik gunung.

Setelah Matahari terbit sempurna, saya dan Ana turun menggunakan ojek untuk lebih dekat. Beberapa mobil Jeep dan kuda pengangkut nampak tergesa-gesa diatas padang pasir, percikan pasir dan debu nampak jelas berterbangan melewati kami. Hingga akhirnya kami tiba di sebuah vihara yang berada di kaki gunung Bromo. Tanpa basa-basi dan semangat tinggi, kami berjalan menuju puncak, dan mengabadikan beberapa momment di perjalanan. Kebanyakan pengunjung lebih memilih menunggangi kuda dari pada berjalan. Saya tidk menanyakan harganya, tapi saya rasa walaupun murah saya akan tetap memilih untuk berjalan, karena puncak gungun tidak ada artinya bila tidak dilalui dengan kesadaraan manusia akan fisik dan imajinasinya.

Disana nampak sebuah tangga yang disedikan untuk menuju puncak gunung Bromo. Kami beristirahat sejenak dan menunggu wisatawan lain yang ikut mengantri. Kami berpegang tangan untuk menaiki tangga, sebuah romantisme klasik. Namun cukup nyaman dikala merasa ada yang menjaga mu dan tanggung jawab menjaga orang di samping mu.

Tiba dipuncak, angin begitu kencang, asap yang keluar dari gunung menerjang mata bertubi-tubi, mengingatkan demonstrasi yang melibatkan gas air mata. Namun kali ini situasi berbeda, kami mengintari gungun Bromo dan bercanda, tidak ada pembicaraan yang serius kali ini. Hanya menikmati alam dan bersantai.

Angin semakin kencang, Ana kemudian turun lebih dahulu, saya menyelesaikan beberapa jepretan sebelum turun menemuinya. Sekitar pukul 10 pagi kami telah selesai dan kembali ke terminal, dan sesegera mungkin menaiki bus menuju Banyuwangi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s