Batu Berapi Biru Yang Mematikan Di Kawah Ijen


Matahari begitu menyengat ketika kami meninggalkan Gunung Bromo, setibanya  di terminal kami langsung mencari bus tujuan Banyuwangi.  Tujuannya tidak lain adalah, untuk menikmati Kawah ijen dimana api biru dari reaksi kimia bebatua sulphur, akan sangat menarik dipandang di malam hari. Sekitar dua jam menunggu, akhirnya bus berangkat menuju Banyuwangi, sekitar 6 jam perjalanan kami lewati.

Bus yang penuh sesak karena kelebihan penumpang, membuat kami sedikit gerah dan menjaga pergerakan kami agar tidak menggangu pengguna bus yang lain. Ana tertidur pulas dalam perjalanan kami. Sedangkan saya menikmati indahnya pemandangan dan mendengar lagu-lagu dari Foo Fighter.

Beberapa kali bus singgah untuk mengisi bensin dan beristirahat.Namun kami lebih memilih tetap di dalam bus untuk beristirahat, karena menurut jadwal kami akan tiba pukul 4 sore di terminal Banyuwangi. Yang kemudian melajutkan perjalanan di sekitaran area pelabuhan Banyuwangi.

Tepat pukul 4.30 kami tiba, di terminal, kami telat dan bus yang kami tumpangi telah berangkat. Kami tidak tau harus kemana, seorang calo yang juga keturunan Sulawesi kemudian membantu kami, agar menaiki bus umum dan dilanjutkan dengan bus lain menuju terminal pelabuhan Banyuwangi. Sukurlah informasi penting itu sangat membantu kami untuk melanjutkan perjalanan.

Didalam bus kami berdesakaan dengan beberapa anak sekolahan dan kaum lansia. Hal tersebut membawa angan ku menuju sepuluh tahun lalu ketika aku masih duduk dibangku SMA, kami selalu berbondong untuk menaiki angkot berdesakaan agar dapat bayaran murah. Back to reality, kesan menyenangkan dan petualangan begitu terasa, kali ini kami begitu menikmati perjalanan. cerita-cerita kocak anak sekolahan, senyuman hangat para penumpang begitu menenangkan hati.

Hingga Sampailah kami diterminal (Maaf saya lupa namanya), kami kemudian mengutarakan niat kami pada salah satu callo yang saya temani bericara dalam bus, ia pun berbaik hati, dan merekomendasikan temannya untuk mengantarkan kami menuju hotel disekitaran pelabuhan Banyuwangi.

Namun seperti ada yang ganjal dalam pirasat saya, ketika kami melewati pelabuhaan tempat yang kami akan tuju. saya-pun bertanya pada salah satu penumpang bus, dan mereka menjelaskan, “anda akan dibawa jauh bila menggunakan bus ini, dan sebaiknya turun disekitar sini dan kemudian paggi harinya menyewa mobil untuk melanjutkan perjalanan ke kawah Ijen,” Jelas penumpang yang kebuetulan pernah tinggal di Sulawesi.

Sekitar satu kilometer dari pelabuhan kami meminta berhenti namun calo, menahan kami dan meminta kami untuk diantar hingga tujuan dengan alasan yang tidak jelas. Seorang ibu yang saya temani, kemudian berbicara lantang, dan meminta callo tersebut untuk menurunkan kami. Kamipun turun dan membuka google maps untuk mencari hotel terdekat.

‘Kenapa kita harus turun ditempat ini?” Tanya Ana.

“Sepertinya mereka ingin membuat kita jauh dari tempat tujuan kita, dan memberikan kita bayaran mahal, seorang ibu yang saya temani didalam bus menjelaskan  kita akan semakin jauh dari kawah ijen, bila kita tidak turun ditempat ini,” jelas ku.

Ana dengan muka lesu dan pasrah mencoba mengotak atik androidnya. Karena jarinagan hp kami tidak terlalu mendukung, maka kami harus berjalan menuju cafe yang jaraknya sekitar 500m dari posisi kami.

Sesampainya disana kami memesan makanan, kebetulan perut kami keroncongan. Sambil menikmati makanan kami, kami akhirnya menemukan hotel yang juga menawarkan paket tour ke Kawah Ijen. Terasa legah dan tenang.

Kami kemudian menertawai kisah petualangan dan kebodohan yang terjadi dalam perjalanan. Salah satu cerita, ketika saya tidur dan Ana mencoba menganggu kenyamanan saya, dan bermain-main mengelitik saya, untuk tetap terjaga. Hal yang sama juga saya lakukan ketika air liur Ana mengalir layaknya sungai, ketika saya ingin menganggunya tiba-tiba gundukan besar bus  menggoncang bus, dan membuat air liur ana melengket ditangan saya. Hahaha…

Setelah Kampung tengah terisi, tanpa menunggu lama kami mencari informasi dari pemilik café, dan mereka memberi informasi untuk menggunakan angkot menuju lokasi dengan bayaran Rp 10.000/2 orang.

Hanya 10 menit perjalanan akhirnya kami tiba dihotel. Dengan tarif Rp150.000/malam, anda sudah dapat hotel berukuran kecil, yang cukup nyaman bagi saya, kekuranganya hanya pada suara bising tetangga hotel, yang layaknya rumah susun. Hal ini membuat Ana tidak dapat konsen pada pekerjaannya. Hanya semalam kami menginap disana, Ana akhirnya memutuskan untuk mengganti hotel, namun tetap mengambil paket perjalanan Kawah ijen yang ditawarkan hotel tersebut.

Sayapun bersepakat dengan hal tersebut. Kami pun sepakat dan memilih hotel yang berada bersebelahaan dengan hotel kami.  Ternyata tarifnya hanya berbeda tipis, sekitar Rp250.000/malam, dengan fasilitas kamar yang lebih besar dan memiliki kolam renang. Pagi hari kami habiskan dengan bekerja dengan berbagai tulisan yang kami kirim untuk media kami masing-masing , dan menjelang sore kami berisitirahat di kolam renang.

Salah satu cerita muncul tentang bagaimana masa kecil kami dan apa mimpi-mimpi kami. Anabel Mota suatu hari nanti ingin menjadi penjaga perpustakaan, dan menikmati setiap buku dengan secangkir kopi. Saya sendiri masih kabur melihat masa depan, tapi kalaupun ada jalan saya ingin punya rumah kecil di pinggir laut dan sebuah kebun.

“Saya yakin itu akan terwujud,” ungkap Ana.

“Saya juga yakin mimpi mu akan terwujud bila kau mau berjuang,” ungkap ku.

Pada malam hari kami hanya keluar untuk makan dan segera tidur lebih cepat untuk persiapan berjalan kaki menuju Kawah Ijen. Serasa tidur ku tak begitu lama (tidak seperti biasanya), aku terbangun oleh alaram handphone Ana, kemudian membangunkan Ana untuk bersiap. Tepat pukul 2.30 pagi kami menuju Hotel sebelumnya yang menjanjikan kami mengantar ke Kawah Ijen dengan tariff Rp.150.000/orang termasuk tiket masuk.

Kami diberikan masker oleh agen travel dan berangkat pagi buta dengan beberapa penumpang lain. Sekitar 20 menit perjalanan dari hotel menuju pintu gerbang Kawah Ijen. Kami kemudian masuk  dan berjalan melewati rute yang disiapkan. Ratusan  wisatawan memenuhi jalan hingga 500m, perjalanan sekitar 10km saya perkirakan termasuk pendakian.

Sekitar 40 menit kami berjalan sebuah pos peristirahaatan ditengah perjalanan menjadi tempat bersantai ratusan orang yang ikut penasaran dengan Kawah Ijen. Tidak lama beristirahat kami langsung kembali berjalan, kini perjalanan gelap dengan lereng-lereng curam menjadi tantangan. Belum lagi bebatuan cadas disekitar lokasi juga harus diwaspadai mengingat perjanan dilakukan dimalam hari, dan penglihatan terbatas. Akhirnya kami berada dipuncak gunung dan melihat bebatuan biru yang menyala berwarna biru.

Sedikit takjub namun perjalanan belum usai, kami harus turun di kaki gunung yang bersebelahaan dengan danau. Dipenurunan kami mengantri layaknya berada didepan loken pembayaran listrik. Hingga akhirnya kami tiba dikaki gunung, beberapa pekerja nampak santai mengangkat batu-batuan berwarna kuning dari kawah tanpa masker dan hanya berbekal dua keranjang yang diselipkan ditongkat pemikul.

Dalam hati saya berucap sukur, karena masih pada posisi kehidupan sederhana dan tidak perlu bekerja harian dengan rsiko tinggi layaknya para penambang perorangan di kawah ijen.  Saat kulontarkan perasaan ku pada Ana, Ana-pun berpikiran yang sama, dan bersukur atas kesuksesan  yang telah dia dapatkan saat ini.

Akhirnya kami tida, telah berjejer photographer yang mengabadikan moment. Saya ikut di bagian belakang barisan mereka, dan mengambil beberapa gambar, cahaya yang minim dan pergerakan api biru diiringi asap tebal membuat tripod sangat penting perannya dalam pengambilan foto, namun sayang saya tidak membawa tripod, sehingga beberapa photo yang saya hasilkan tidak berujung baik.

Beberapa sat kemudian, Ana minta untuk segera naik karena tidak tahan dengan asap dan bau vulkanik kawah ijen. Untuk itu saya tinggal sendiri di bawah mengambil beberapa gambar hinga sunrise menjelang.

Segera saya naik untuk menemui Ana dipuncak gungun, mengambil beberapa gambar, dan kemudian berjalankembali menuju tempat parkiran yang dimana supir kami telah menunggu. Sampai pada pukul tujuh pagi, kami akhirnya tiba dihotel dan segera madi dan tidur lelap. Karena esok pagi kami akan menuju Bali, yang juga  surganya tempat wisata di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s