Sunset Merah Darah Pulau Dewata danTumpukan Sampah Pantai Kuta


Setelah menikmati  gado-gado khas Banyuwangi dipagi hari, saya dan Ana kemudian packing dan siap menuju Bali. Melangkahkan kaki keluar dari hotel, setapak demi setapak semangat kami membekas ditanah yang kami pijak. Belum lagi delman yang lewat di depan kami mebawa wewangian sayuran segar dipagi hari. Kami menyebrangi jalan yang nampak begitu sepi. Dan menggunakan cukup lama angkutan umum yang menuju pelabuhan.

Sebagai catatan, kota ini begitu ramah, namun beberapa penduduk setempat kadang memanfaatkan kepusingan turis untuk mendapat penghasilan lebih. Untuk itu saran saya bila berada di Banyuwangi, selalu bertanya tentang harga. Karena kadang harga berubah sejalan dengan mood penjual atau pemberi jasa.

Layaknya yang kami alami ketika menggunakan angkot menuju pelabuhan dengan harga Rp 5000/orang berubah ketika kami  tiba di pelabuhan menjadi Rp 50.000 untuk dua orang. Untungnya dengan sedikit keras kepala, saya hanya membayar Rp.20.000 untuk dua orang.

Tiba di pelabuhan semangat kami berdua semakin tinggi. Pelabuhan ini terlihat begitu kecil namun begitu padat dengan aktivitas ekonomi, migrasi dan wisata. Sangat disayangkan kami kembali menemui, seorang pria berwajah gelap berbadan besar yang memaksa kami untuk membeli tiket kapal yang dijualnya. Yup, karena geram dengan kelakuan seperti itu, saya mulai bersuara tinggi untuk menolak, namun itu kembali membawa ancaman bagi kami.

Dengan suara lantang orang itu mendekati kami dan bertanya asal saya. Dengan bangga untuk masalah seperti ini saya menyebut “Makassar”.  Tanpa panjang lebar orang itu langsung menyngkir.  Salah satu yang saya wajib syukuri saya berdarah Makassar yang dibesarkan oleh orang tua angkat dari Jawa dan lahir di Kalimantan. Saya bisa memilih kapan saya harus menjadi bagian dari 3 daerah tersebut.

Akhirnya kami tiba di loket dan membeli tiket kapal seharga Rp15.000/orang. Dan menunggu sekitar 30 menit sebelum kapal kami berangkat. Kapal kecil yang cukup padat, membuat kami segera mengambil tempat duduk agar tidak berdiri selama perjalanan. Suara terompet kencang panjang menggema, menandakan kami akan meninggalkan pelabuhan.

Angin, sinar matahari dan air laut yang menyatu dan menghempas wajah dan seketika terasa begitu bergetah. Segera setelah kapal berjalan saya turun ke-dek bawah tempat bus parkir  yang menuju beberapa daerah di Bali. Kami menggunakan cara ini, selain menghemat waktu juga lebih murah, karena tanpa perantara dan bila beruntung kadang supir bus menawarkan dibawah harga tiket untuk keuntungan pribadi.

Bertemulah saya dengan seorang supir yang menawarkan harga Rp 25000/orang dengan lama perjalanan 4 jam.  Tak lama kapal kami sandar di pelabuhan Bali, kami langsung naik bus namun sebelum bisa keluar dari pintu gerbang Bali kami diperiksa passport dan KTP. Setelah selesai inilah 4 jam perjalanan kami menuju Kuta, yang kami habiskan hanya untuk tidur dan sedikit bercerita ringan.

Bali bukan hal baru bagi kami berdua, untuk itu selama di Bali kami hanya akan relaxing. Hotel pertama yang saya tempati begitu dekat dengan pantai Kuta.  Tak berlama-lama saya langsung menaiki taxi dan berjalan di trotoar pantai Kuta. Kami singgah makan disuatu cafe pinggir pantai, dan bercerita tentang sampah yang semakin meningkat di pantai Kuta.

Tumpukan sampah saat kami melihat sunset menjadi hal yang berbeda, sejak terakhir kali saya mengunjungi Kuta di 2011. Kami turut prihatin, namun ketika langit berubah menjadi merah, dan matahari yang berlidung dikegelapan awan turun perlahan. Sejenak hati sejuk dan terdiam. Keramaian, yang berada dipinggiran pantai kuta, sejenang hilang dari pendengaran ku. Semuanya terasa begitu damai.

Tak lama kami disana, kami beranjak mencari makanan disekitaran jalan seminyak dan menemukan cafe yang mempunyai menu makanna Mexico. Ana memesan semua makanan Mexico dan memperkenalkan pada saya, terutama Taco dengan berbagai parian isi, dari daging , sayuran dan buah-buahan. Semua terasa nikmat masuk di kampong tengah. Perbincangan kami kali ini menertawai beberapa orang yang tidak tau cara memakan taco. Agak sedikit mengejek, tapi sedikit kesenangan melihat orang yang teraniyaya kadang lebih menghibur dari apapun.

Sesudah makan malam yang menyenangkan, saya bertemu mbeberapa teman di cafe tersebut, mereka kawan lama yang telah menetap di Bali. Ia pun mengajak saya untuk bergabung di acara ulang tahun teman. Namun telah menjadi perjanjian kami untuk tinggal bersantai berdua di Bali. Untuk itu saya menolak dan hanya menghabiskan malam bersama Ana.

Dua hari yang menyenangkan disekitaran pantai Kuta, kami bersepakat untuk menyewa villa pribadi yang hanya dihuni kami berdua.  Rencana yang romatis ini, kemudian membawa kami di daerah Seminyak. Sebuah villa luar biasa, seperti rumah yang menjadi mimpi saya menjadi pilihan kami. Sesampainya disana kami menikmati malam dengan begitu nyaman dipinggiran kolam renang. Kami menikmati malam memandangi bintang dan bulan.

Pagi hari, seperti biasa kami harus kembali bekerja, untuk melaporkan kepada editor kami masing-masing. Bila bekerja begini, kami berada pada mode mute, siapaun yang telah selesai tidak akan menganggu yang lain. Siang hari kami menuju cafe pembuat kopi khas Bali di seminyak, untuk mencoba special kopi yang mereka miliki. Yup hal ini ide Ana, dia penggemar kopi berat, tidak akan melewatkan kopi-kopi didaerah yang dikunjunginya.

Sore kami menuju pantai tidak jauh dari villa kami. Disana sunrise lebih indah, mungkin karena semua yang datang melihat sunrise begitu tenang dan hanya memandang tegak ke ujung samudra. Kali ini kamera saya mengelilingi pantai dan mengambil beberapa moment indah.

Tidak banyak yang saya bisa ceritakan selama di Bali, dikarenakan hal ini lebih pada personal, dan cara kami mengenal diri kami masing-masing.  Kami juga tidak banyak melakukan kunjungan, dan banyak menghabiskan waktu di villa.Selepas hari-hari menyenangkan di Bali kami berencana menuju Makassar.

Di Makassar kami hanya satu hari tapi cukuplah untuk menikmati indahnya Karst di Maros. Tunggu lajutannya. kami akan menikam Makassar dengan cara kami. Dan sorry untuk pembaca kadang lama baru bisa menulis lanjutan cerita, karena waktu kerja dan perang melawan malas. Namun jangan khuwatir memori tentang perjalanan yang saya lakukan sampai hari ini tidak ada satupun yang terlewat atau terhapus dari arsip kepala saya. Jadi jangan gerah untuk menunggu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s